Lombok Barat, Katada.id — Krisis infrastruktur melanda Gubuk Aung, Dusun Lebah Suren Selatan, Desa Sedau, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Jalan penghubung utama amblas disertai runtuhnya jembatan, menyebabkan puluhan warga terisolasi dan aktivitas sosial-ekonomi lumpuh total.
Sebanyak 99 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 200 jiwa terdampak langsung. Akses satu-satunya menuju wilayah tersebut terputus, mengakibatkan ratusan anak tidak dapat bersekolah, hasil pertanian tak bisa dipasarkan, serta pasokan kebutuhan pokok tersendat.
Kerusakan parah ini dipicu curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir. Debit air yang meningkat menyebabkan pergeseran tanah di sekitar badan jalan dan fondasi jembatan hingga akhirnya runtuh. Kondisi ini memperparah kerentanan wilayah yang sejak lama bergantung pada satu akses utama.
Dampak yang dirasakan warga tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga melumpuhkan sendi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Jalur distribusi hasil kebun terputus total, sementara mobilitas warga nyaris terhenti.
DPRD Serukan Langkah Nyata
Menanggapi situasi tersebut, Komisi I DPRD Lombok Barat menyampaikan keprihatinan mendalam dan mendesak pemerintah daerah agar segera mengambil langkah konkret.
“Ini bukan sekadar kerusakan infrastruktur. Warga terisolasi, aktivitas ekonomi berhenti, dan anak-anak kehilangan hak atas pendidikan. Penanganannya harus cepat dan menyeluruh,” tegas Hendra Hendrianto, Senin (26/1/2026).
Ia menambahkan, lumpuhnya akses transportasi telah mematikan denyut kehidupan masyarakat yang mayoritas menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian dan perkebunan.
“Hasil kebun tidak bisa keluar, sementara kebutuhan pokok sulit masuk. Jika dibiarkan, ini bisa berkembang menjadi krisis kemanusiaan skala lokal,” ujar anggota fraksi PKB ini
Disaat bersamaan Hendra mengapresiasi langkah BPBD Lombok Barat yang telah melakukan peninjauan dan asesmen awal. Namun, ia mengingatkan agar penanganan tidak berhenti pada tahap pendataan semata.
“Harus ada langkah darurat segera, minimal membuka akses sementara atau jalur alternatif yang aman agar warga tidak terus terisolasi,” katanya.
Ia juga menyoroti keberadaan sejumlah rumah warga yang berada dekat titik longsor dan pergerakan tanah aktif. Kondisi tersebut dinilai sangat berisiko dan berpotensi menimbulkan korban jiwa.
“Keselamatan warga harus menjadi prioritas. Jika diperlukan, relokasi sementara atau pengamanan tambahan wajib dilakukan,” tambahnya.
Menurut Hendra, perbaikan jalan dan jembatan di Desa Sedau harus ditempatkan sebagai prioritas utama, mengingat jalur tersebut merupakan satu-satunya akses vital bagi masyarakat Gubuk Aung.
“Kami mendorong semua pihak untuk bersatu, menangani kondisi darurat ini, sekaligus merencanakan perbaikan permanen. Tujuannya jelas: memulihkan mobilitas warga, menggerakkan kembali ekonomi lokal, dan memastikan anak-anak bisa bersekolah dengan aman,” tutupnya. (*)













