Jakarta, Katada.id – Anggota DPD RI, Mirah Midadan Fahmid, mendorong percepatan pengajuan Geopark Tambora di Nusa Tenggara Barat (NTB) agar dapat masuk dalam jaringan UNESCO Global Geopark. Menurutnya, pengembangan kawasan tersebut harus bertumpu pada prinsip konservasi lingkungan, pendidikan, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
Melalui inisiatif Gerakan Mirah: Membangun Indonesia dari Daerah, Senator asal NTB itu menilai Geopark Tambora memiliki potensi besar sebagai kawasan konservasi, edukasi, dan destinasi wisata berkelas dunia. Potensi tersebut tidak hanya berasal dari kekayaan geologi, tetapi juga dari nilai budaya, lingkungan, serta kehidupan masyarakat yang berkembang di sekitarnya. Meskipun demikian ia menegaskan bahwa manfaat nyata dari geopark Tambora merupakan hal yang utama
“Pengembangan geopark tidak boleh hanya mengejar status internasional. Yang paling penting adalah bagaimana kawasan ini dikelola secara berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Mirah belum lama ini.
Menurutnya, Gunung Tambora merupakan salah satu warisan geologi paling penting di Indonesia. Letusan dahsyat yang terjadi pada tahun 1815 tidak hanya mengubah lanskap Pulau Sumbawa, tetapi juga tercatat memengaruhi kondisi iklim global. Warisan geologi tersebut menjadi modal kuat bagi NTB untuk mengembangkan kawasan konservasi dan pendidikan bertaraf internasional.
Mirah menegaskan bahwa pengelolaan Geopark Tambora harus mengintegrasikan tiga pilar utama geopark, yakni perlindungan lingkungan, peningkatan pendidikan masyarakat, dan pengembangan ekonomi berkelanjutan.
Selain kawasan pegunungan Tambora, ia juga menyoroti pentingnya peran Teluk Saleh sebagai kawasan penyangga ekologis. Perairan yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi tersebut merupakan habitat penting bagi hiu paus (whale shark) dan berbagai spesies laut lainnya.
Karena itu, Mirah meminta agar upaya perlindungan Teluk Saleh menjadi bagian integral dalam tata kelola Geopark Tambora. Menurutnya, aktivitas wisata, investasi, maupun pemanfaatan sumber daya alam harus tetap memperhatikan prinsip konservasi dan daya dukung lingkungan.
“Teluk Saleh bukan hanya kebanggaan NTB, tetapi juga aset konservasi nasional yang harus dijaga bersama,” tegasnya.
Dalam konteks pengembangan pariwisata, Mirah mendorong penerapan konsep *ecotourism* atau pariwisata berbasis lingkungan di kawasan Tambora dan Teluk Saleh. Ia menilai pendekatan *quality tourism* lebih relevan diterapkan dibanding sekadar mengejar peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.
Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah daerah didorong memperkuat pengelolaan sampah, membatasi aktivitas di kawasan sensitif, meningkatkan kapasitas pemandu wisata lokal, serta memperkuat peran UMKM berbasis budaya dan ekonomi kreatif.
Mirah juga menekankan pentingnya koordinasi lintas daerah antara Kabupaten Bima, Dompu, dan Sumbawa agar pengelolaan kawasan geopark dapat berjalan secara terpadu dan berkelanjutan.
Dengan pengelolaan yang terintegrasi, Geopark Tambora diharapkan tidak hanya berhasil meraih pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark, tetapi juga menjadi model pembangunan berkelanjutan yang mampu menghubungkan pelestarian alam dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Nusa Tenggara Barat. (*)













