Scroll untuk baca artikel
BeritaDaerahHealthNasionalPolitik

Jalan Rusak Berujung Balita Meninggal, DPRD NTB: Bupati Bima Harus Jemput APBN

×

Jalan Rusak Berujung Balita Meninggal, DPRD NTB: Bupati Bima Harus Jemput APBN

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi III DPRD NTB M Aminurlah. (Istimewa)

Bima, katada.id – Tragedi meninggalnya seorang balita asal Desa Pusu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, akibat terhambat akses jalan rusak, Jum’at (13/2) menjadi perhatian publik.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi NTB (DPRD NTB) Maman Aminurlah mengaku prihatin atas tragedi yang menimpa balita itu.

“Perbaikan jalan tanggung jawab bersama,” kata dia, pada katada.id saat dimintai pandangannya, Minggu, (15/2).

Aji Maman sapaan akrabnya memahami betul kondisi fiskal daerah yang terbatas. Terlebih dana transfer daerah dipotong Pemerintah Pusat melalui kebijakan efisiensi.

“Kepala Daerah (Bupati) harus membangun komunikasi dan koordinasi dengan Pemerintah Pusat untuk mendatangkan APBN. Seperti yang dilakukan Bupati Syafrudin yang mendatangkan APBN untuk aspal jalan kabupaten,” tegasnya.

Legislator PAN itu mengaku siap berkolaborasi agar bersama-sama ke Pemerintah Pusat. Menurutnya Kecamatan Langgudu Selatan yang mencakup wilayah Desa Desa Pusu, Wadu Ruka, Sarae Bura merupakan daerah terpencil yang memiliki kekayaan laut dan pariwisata.

“Problem utama disana jalan rusak udah puluhan tahun. Kepala Daerah bisa melobi pemerintah Pusat untuk mendatangkan DAK (Dana Alokasi Khusus) untuk perbaikan 30 kilo jalan rusak tersebut. Bupati juga mestinya bisa datangkan anggaran melalui skema Inpres Jalan,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan bahwa Bupati juga bisa yakinkan Pemerintah Pusat untuk menghentikan pemotongan Dana Transfer Daerah ditengah darurat Infrastruktur. Eks Pimpinan DPRD Kabupaten Bima itu juga mengatakan bahwa pihaknya sering membicarakan kondisi infrastruktur di Kecamatan Langgudu.

“Sebagai anggota DPRD NTB saya akan berkoordinasi dengan Gubernur NTB untuk mencari jalan keluar atas permasalahan infrastruktur jalan di Langgudu. Ini jadi atensi saya,” janjinya.

Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Bima segera menyusun proposal teknis yang lengkap agar dapat diajukan ke Kementerian PUPR.

“Harus ada langkah jemput bola. Lengkapi dokumen perencanaan, detail engineering design (DED), hingga data pendukung. Kalau serius, pemerintah pusat pasti melihat urgensinya,” katanya.

Ia berharap, tragedi di Kecamatan Langgudu menjadi momentum evaluasi serius terhadap pemerataan pembangunan infrastruktur di wilayah pedesaan Kabupaten Bima.

“Jangan sampai ada lagi nyawa melayang hanya karena akses jalan yang tak kunjung diperbaiki,” pungkasnya.

Balita Meninggal Gara-Gara Mobil Tersendat di Jalan Rusak

Sebelumnya seorang balita asal Desa Pusu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Provinsi NTB dinyatakan meninggal, usai mobil yang membawanya rujuk ke Puskesmas Monta Tersendat di jalan rusak berlumpur.

Sarmanto kakek korban menuturkan, peristiwa bermula pada Jumat (14/2) sore. Dua cucu kembarnya diduga mengalami keracunan setelah tanpa sengaja mengonsumsi obat cacing untuk tanaman cabai yang disimpan di kandang ayam.

“Mereka bermain sore hari, lalu melihat obat cacing cabai yang sudah lama disimpan. Dibuka dan dikonsumsi tanpa sepengetahuan keluarga,” jelasnya.

Mengetahui kejadian itu, orang tua korban segera membawa keduanya ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Pusu untuk mendapatkan penanganan awal. Setelah ditangani tenaga kesehatan, satu anak dinyatakan membaik.

Namun, satu lainnya dalam kondisi kritis karena diduga mengonsumsi cairan tersebut dalam jumlah lebih banyak

Karena kondisi terus memburuk, balita itu dirujuk ke Puskesmas Monta. Namun proses rujukan terkendala akses jalan rusak. Keluarga harus menunggu kendaraan jenis pikap yang dinilai mampu melintasi jalur berlumpur tersebut.

Menurut Sarmanto, kendaraan biasa sulit melewati akses jalan yang belum diaspal dan penuh lumpur. Setelah cukup lama menunggu, mobil akhirnya berangkat. Namun di tengah perjalanan, nyawa sang balita tak tertolong.

“Menunggu lama baru bisa berangkat. Di tengah jalan, cucu saya sudah meninggal dunia,” ungkapnya lirih.

Atas kejadian itu ia meminta Pemkab Bima segera memperbaiki jalan

“Di sini ada listrik dan jaringan. Cuma jalan saja yang rusak. Kami harap segera diperbaiki. Bayangkan kami harus menempuh perjalanan 30 kilometer untuk menikmati jalan yang sudah diaspal,” ungkapnya. (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *