Scroll untuk baca artikel
BeritaDaerahNasional

Ramadan dan Nyepi Beririsan, Evi Apita Maya Soroti Pentingnya Toleransi di NTB

×

Ramadan dan Nyepi Beririsan, Evi Apita Maya Soroti Pentingnya Toleransi di NTB

Sebarkan artikel ini
Senator Evi Apita Maya Saat Sosialisasi 4 Pilar di Lombok Tengah

Lombok Tengah, Katada.id – Momentum Ramadan 2026 yang beririsan dengan perayaan Hari Raya Nyepi menjadi sorotan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Evi Apita Maya. Ia menekankan pentingnya memperkuat toleransi antarumat beragama di tengah keberagaman masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Hal tersebut disampaikan Evi saat mensosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan kepada ratusan pelajar SMAN 1 Pujut, Senin (16/3).

Menurutnya, irisan dua momentum keagamaan ini harus dimaknai sebagai peluang untuk memperkuat nilai kebersamaan dan saling menghormati antarumat beragama, bukan sebaliknya.

“Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pembatasan waktu perayaan malam Lebaran sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Hindu yang menjalankan Nyepi. Ini adalah wujud nyata toleransi,” ujarnya.

Evi menjelaskan, selama ini hubungan harmonis antarumat beragama di NTB telah terjaga dengan baik. Umat Hindu, kata dia, turut berperan dalam menjaga ketertiban saat umat Muslim menjalankan ibadah, begitu pula sebaliknya.

Selain menyoroti toleransi, ia juga mengingatkan bahwa bulan Ramadan merupakan momentum strategis untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan, khususnya yang tertuang dalam Empat Pilar.

“Berbagi takjil, gotong royong, tadarusan, hingga saling mengunjungi keluarga merupakan cerminan nilai kebersamaan dan persatuan yang sejalan dengan Empat Pilar Kebangsaan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, Ramadan mengajarkan nilai kesetaraan sosial, terutama saat Hari Raya Idulfitri, di mana seluruh masyarakat merasakan kebahagiaan tanpa memandang latar belakang.

“Semua berkumpul, memakai pakaian terbaik, dan merasakan kebahagiaan yang sama. Tidak ada sekat sosial yang terlihat,” katanya.

Evi menegaskan, Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah spiritual, tetapi juga sebagai ruang aktualisasi nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dalam konteks masyarakat yang majemuk seperti NTB. (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *