Tangkal Isu Hoax dan Paham Intoleran, Anorawi Institute Gelar Diskusi Publik

0
111
Anorawi Institute menggelar diskusi publik.

MATARAM-Guna memperkuat budaya literasi masyarakat dalam mengantisipasi penyebaran hoax dan paham intoleran, Anorawi Institute menggelar diskusi publik. Kegiatan yang diikuti sejumlah mahasiswa perguruan tinggi Mataram itu berlangsung di aula gedung PGRI Mataram, Selasa (30/7).

Diskusi tersebut menghadirkan narasumber, Ketua MUI Provinsi NTB Prof. Saiful Muslim,  Plt Kadiskominfo Provinsi NTB I Gde Putu   Ariadi, Ketua KNPI NTB Hamdan Kasim, Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Purnama.

Ketua panitia diskusi Rahmat Riadi dalam sambutannya, mengajak berbagai elemen masyarakat untuk memperkuat budaya literasi. Terutama bagi kalangan muda yang dinilai, masih labil dalam menyikapi persoalan. “Ini salah satu faktor yang mendorong kami menggelar diskusi ini,” ujarnya.

Dia berharap, melalui kegiatan itu masyarakat dapat teredukasi dan memahami tentang bahaya penyebaran informasi hoax. Demikian pula dengan bahaya paham intoleran. “Dua masalah ini sangat berbahaya bagi keutuhan daerah berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Sementara Plt Kadiskominfo Kota Mataram, I Nyoman Suandiasa menekankan, literasi merupaka cara bijak menyikapi berita Hoax. Baik yang berkembang di kehidupan nyata, maupun dalam dunia maya (Medsos). Untuk itu lanjut dia, budaya literasi itu sangat perlu dikembangkan. Mulai dari lingkup keluarga, sampai ke lingkungan luas.

“Mari kita sama-sama berkomitmen untuk memperkuat budaya literasi. Mulai dari orang dekat kita, hingga ke lingkungan yang lebih luas,” ajaknya.

Ketua MUI Provinsi NTB,  Prof. Saiful Muslim mengatakan, belakangan ini terdapat sejumlah isu miring tentang kampus. Yakni, adanya kampus radikalisme dan paham intoleran yang berkembang di Kota Mataram.

Isu tersebut, kata dia, harus segera dibendung. Karena dapat menciderai dunia intelektual di daerah. Khususnya di NTB.
Menurut dia, meminimalisir isu seperti itu butuh peran semua pihak. Lembaga-lembaga daerah harus hadir memberikan edukasi dan mencerahan terhadap masyarakat.

“Seperti kami di MUI misalnya, harus turun tangan memberikan bimbingan supaya warga kita tidak larut dalam isu tersebut,” ujarnya.

Demikian pula lanjut dia, jika ada warga yang telah masuk dalam paham radikal dan intoleran maka wajib dibimbing. Agar mereka tidak terus terbawah arus.

“Kita akan bimbing mereka dengan memberikan pemahaman yang benar sesuai dengan ilmu dan petunjuk yang ada,” terangnya.

Selain itu Syaiful juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memanfaatkan media sosial (Medsos) sebagai media bermuamalah. Memberikan pendidikan yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Jangan seenaknya menyebarkan hoax, rasis, penghinaan yang berbau intoleran. Dengan dalil kebebasan berpendapat. Ini yang harus dihidari bersama,” ingatnya.

Ketua KNPI NTB, Hamdan Kasim menjelaskan, informasi bohong yang memprovokasi itu soal cara pandang yang di nilai masihbminim. Sebab kalau  ditelaah penyebab dari intoleran itu, awalnya tidak terlepas dari informasi yang di terima di awal.

“Saya coba gabungkan antara Hoax dan intoleran. Sebenarnya, ini soal cara pandang, artinya apa yang kita lihat itulah yang terjadi dan di anggap sebagai kebenaran. Hal itu di sebabkan oleh minimnya budaya literatur seseorang. Sehingga semua situs berita dianggap semua benar,” pungkasnya.

Kegiatan diskusi itu di tutup dengan deklarasi bersama anti  berita Hoax dan paham Intoleran oleh semua peserta dan narasumber. (sm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here