Scroll untuk baca artikel
DaerahOpiniPolitik

Menjaga Nalar, Merawat Nilai: Apresiasi atas “Majelis Berkah Negeri Para Wali”

×

Menjaga Nalar, Merawat Nilai: Apresiasi atas “Majelis Berkah Negeri Para Wali”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Coach Kaffa

Ada tulisan yang selesai dibaca lalu selesai pula gaungnya. Ada pula tulisan yang setelah dibaca justru mengajak berpikir, merenung, dan bila perlu—berbenah. Artikel “Majelis Berkah Negeri Para Wali, Gubernur Iqbal dan Jalan NTB Makmur Mendunia” karya Dr. H. Ahsanul Khalik, Kadis Kominfotik Provinsi NTB, jelas berada pada kategori kedua.

Tulisan tersebut layak diapresiasi, bukan semata karena penulisnya seorang pejabat publik, melainkan karena keberanian intelektual dan kejujuran reflektif yang jarang ditemui dalam narasi birokrasi. Ia tidak berhenti pada laporan peristiwa, tetapi naik kelas menjadi tafsir makna, refleksi nilai, dan pembacaan arah masa depan NTB.

Dalam iklim publik yang kerap sinis terhadap tulisan pejabat__mudah dicurigai sebagai “menjilat” atau tidak imparsial—artikel ini justru menunjukkan bahwa menulis adalah bagian dari tanggung jawab moral seorang aparatur negara. Menulis bukan sekadar komunikasi, tetapi proses berpikir. Dan birokrasi yang mau berpikir adalah modal penting bagi perubahan.

Kadis Kominfotik NTB menghadirkan Majelis Silaturahmi Ulama dan Umara bukan sebagai seremoni elitis, melainkan sebagai ruang peradaban. Ia berhasil menangkap denyut halus bahwa pembangunan daerah tidak cukup disangga oleh data, anggaran, dan proyek, tetapi memerlukan ruh: nilai, kepercayaan, dan legitimasi moral. Di titik ini, tulisannya terasa jernih dan berkelas.

Apresiasi juga patut diberikan pada caranya menempatkan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, bukan sebagai figur tunggal yang diagungkan, tetapi sebagai dirijen orkestrasi. Visi “NTB Makmur Mendunia” dibaca sebagai kerja kolektif yang menuntut harmoni seluruh instrumen: ulama, aparat keamanan, birokrasi, hingga masyarakat sipil.

Namun, justru dari tulisan yang baik inilah lahir tantangan yang lebih besar. Jika satu dinas mampu menghadirkan refleksi sedalam ini, maka sudah semestinya dinas-dinas lain—baik teknis maupun non-teknis—bergerak secara orkestratif dan simultan. Visi besar tidak akan menjelma realitas bila hanya menjadi narasi di satu sektor, sementara sektor lain berjalan biasa-biasa saja.

Problem utama pembangunan, sebagaimana kita sadari bersama, bukan terletak pada kekurangan visi, melainkan pada kinerja aparatur pemerintah: konsistensi pelayanan, kecepatan respon, kualitas eksekusi, dan keberpihakan nyata pada warga negara. Di sinilah letak ujian sesungguhnya dari jargon “bangkit, makmur, mendunia”.

Tulisan Dr. Ahsanul Khalik seakan menjadi cermin bagi birokrasi NTB: apakah kita sudah bekerja sepadan dengan indahnya visi yang kita ucapkan? apakah pelayanan publik sudah sehalus narasi silaturahmi yang kita rayakan?

Budaya menulis di kalangan pejabat, bila dirawat dengan etika dan integritas, justru patut dijadikan teladan. Ia bisa menjadi pemantik budaya berpikir, budaya refleksi, dan budaya akuntabilitas. Bukan untuk membangun citra pribadi, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa jabatan adalah amanah intelektual sekaligus moral.

Dalam konteks inilah, kolaborasi menjadi kata kunci. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Rakyat tidak bisa dibiarkan hanya menjadi objek. Dunia usaha, komunitas, dan para profesional perlu dilibatkan sebagai mitra strategis.

Kaffa Business Coach, dengan seluruh kerendahan hati, siap bila diberi kepercayaan untuk menjadi bagian dari ikhtiar ini—sebagai mitra strategis rakyat dan pemerintah provinsi—khususnya dalam penguatan kapasitas manusia, etos kinerja, dan keberdayaan ekonomi. Sebab visi “makmur” tidak lahir dari slogan, melainkan dari manusia-manusia yang bekerja dengan kompeten, berintegritas, dan berorientasi pada maslahat.

Akhirnya, tulisan ini layak disebut bukan sekadar artikel, tetapi tanda. Tanda bahwa NTB memiliki sumber daya intelektual di dalam birokrasi. Tinggal satu pertanyaan besar yang menanti jawaban kolektif: maukah seluruh orkestrasi pemerintahan bermain dengan kesungguhan yang sama, di bawah dirijen visi yang sama, demi NTB yang benar-benar makmur—dan layak mendunia?

Di negeri para wali, sebagaimana ditulis dengan indah oleh Kadis Kominfotik NTB, keberkahan selalu lahir dari niat yang tulus dan kerja yang sungguh-sungguh. Dan pembangunan terbaik, pada akhirnya, adalah yang paling jujur melayani rakyatnya. Barokallahu fiikum.

*Penulis adalah Pendiri Islamic Lombok Forum, CEO Kaffa Business Coach, Penganjur Entrepreneurial Mindset Mainstreaming, penulis Mindset is Everything, warga negara kelahiran Jawa tinggal di Kota Mataram._

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *