Scroll untuk baca artikel
Daerah

Gubernur Miq Iqbal: Iringan Nyepi dan Takbiran Idul Fitri Jadi Contoh Toleransi di NTB

×

Gubernur Miq Iqbal: Iringan Nyepi dan Takbiran Idul Fitri Jadi Contoh Toleransi di NTB

Sebarkan artikel ini
Gubernur Miq Iqbal Bersama Jubir Pemprov NTB

Mataram, Katada.id – Gubernur Lalu Muhamad Iqbal mengajak seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) menjaga suasana toleransi, kebersamaan, dan saling menghormati menjelang perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu yang waktunya beririsan dengan malam takbiran menjelang Idul Fitri umat Islam.

Ajakan tersebut disampaikan Gubernur yang akrab disapa Miq Iqbal melalui Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB , Ahsanul Khalik, di Mataram, Ahad (15/3).

Ahsanul Khalik mengatakan bahwa, Gubernur menegaskan, masyarakat NTB sejak lama hidup dalam tradisi toleransi yang kuat dan saling menghargai pelaksanaan ajaran serta ritual agama masing-masing.

“Di NTB kita sudah sangat terbiasa hidup dalam kebersamaan. Toleransi bukan sekadar slogan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Karena itu, momentum beririsan antara Nyepi dan Idul Fitri ini justru harus menjadi contoh bagaimana masyarakat menjaga harmoni dan saling menghormati,” ujarnya menyampaikan pesan Gubernur.

Jubir Pemerintah Provinsi NTB itu menegaskan bahwa di daerah tersebut tidak ada larangan bagi pelaksanaan Pawai Ogoh-ogoh dalam rangka perayaan Nyepi maupun Pawai Takbiran dalam rangka menyambut Idul Fitri.

Kedua kegiatan keagamaan itu tetap dapat dilaksanakan sebagaimana biasa dengan tetap memperhatikan ketertiban serta kesepahaman bersama di tingkat masyarakat.

Di Kota Mataram, pemerintah kota bersama tokoh agama Hindu dan Islam, panitia pawai ogoh-ogoh, panitia takbiran, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta aparat keamanan telah beberapa kali melakukan pertemuan koordinasi guna memastikan kedua kegiatan berjalan dengan baik.

Beberapa kesepakatan yang dicapai ungkapnya antara lain terkait tata tertib pelaksanaan kegiatan, jumlah peserta termasuk pembatasan peserta dari luar daerah, pengaturan rute kegiatan, ketepatan waktu pelaksanaan, hingga pengawalan oleh aparat keamanan.

Koordinasi serupa juga dilakukan di sejumlah daerah lain di NTB, termasuk di wilayah Lingsar dan Narmada di Kabupaten Lombok Barat, serta di Sumbawa dan beberapa kawasan lain yang juga melaksanakan kegiatan serupa.

Menurut Ahsanul Khalik, Gubernur menilai masyarakat NTB telah menunjukkan kedewasaan dalam kehidupan beragama dengan saling memberi ruang bagi pelaksanaan ibadah masing-masing.

Umat Islam memberikan ruang kepada umat Hindu untuk melaksanakan rangkaian Hari Raya Nyepi yang diawali dengan pawai ogoh-ogoh dan dilanjutkan dengan Catur Brata Penyepian. Sebaliknya, umat Hindu juga memberikan penghormatan terhadap pelaksanaan malam takbiran dan Salat Idul Fitri yang menjadi bagian dari perayaan Idul Fitri umat Islam.

“Kehidupan masyarakat NTB yang saling menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing agama ini merupakan kekuatan sosial yang harus terus kita jaga,” katanya.

Gubernur juga mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk turut menjaga suasana kondusif selama berlangsungnya rangkaian perayaan keagamaan tersebut. Peran tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat desa dan kelurahan, hingga kepala lingkungan dinilai sangat penting dalam menjaga suasana yang teduh dan damai.

Selain itu, generasi muda diharapkan dapat memperkuat komunikasi dan kebersamaan agar setiap kegiatan keagamaan berlangsung aman dan tertib.

“Kita ingin menunjukkan kepada seluruh Indonesia bahwa masyarakat NTB hidup dalam kebersamaan, saling menghargai, dan saling menjaga satu sama lain. Tidak ada ajaran agama yang mengajarkan konflik karena perbedaan,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan masyarakat, Gubernur Miq Iqbal juga dijadwalkan menghadiri langsung pelepasan pawai ogoh-ogoh umat Hindu di Kota Mataram.

Pemerintah Provinsi NTB berharap momentum beririsan antara perayaan Nyepi dan Idul Fitri ini semakin memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan masyarakat NTB serta menjadi contoh kehidupan beragama yang harmonis bagi daerah lain di Indonesia. (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *