Bima, katada.id – Daerah Pulau Sumbawa menjadi penyumbang jagung terbesar di Nusa Tenggara Barat (NTB). Bahkan, wilayah Sumbawa, Bima, dan Dompu masuk lima besar penghasil jagung tertinggi di Indonesia.
Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan hasil panen jagung periode Maret-April melimpah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen jagung pada Maret seluas 405 ribu hektare dengan produksi 2,29 juta ton pipil kering dan April seluas 318 ribu hektare dengan produksi 1,76 juta ton.
Dengan kondisi tersebut, Kementan menyebutkan ada potensi harga akan turun, bahkan jatuh di bawah harga acuan pembelian (HAP) jagung. Untuk itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta semua pihak untuk bisa mengantisipasi kemungkinan harga anjlok.
’’Kami minta panen raya ini jangan disia-siakan. Petani kita sudah bekerja keras. Kami persilahkan para produsen pakan ternak untuk segera menyerap. Kami juga meminta Bulog untuk menyerap jagung petani agar harga terjamin, jangan sampai harga anjlok karena kesejahteraan petani taruhannya,” ungkap Amran dalam keterangannya, belum lama ini.
Baca juga: Protes Harga Jagung Anjlok, Warga Bima Tutup Jalan
Ia mengungkapkan, pihaknya sudah mulai mendapat laporan dari berbagai daerah sentra bahwa harga jagung sudah turun. Bahkan beberapa daerah di luar Jawa, seperti Lampung dan Sulawesi Selatan, harga jagung di tingkat petani bisa menyentuh kisaran harga Rp 3.000-Rp 3.500 per kilogram.
“Untuk itu, kami harapkan semua pihak bisa ikut mengawal panen raya. Kita harus bisa pastikan jagung petani kita bisa terserap dengan baik,” tegasnya.
Selanjutnya, potensi luas panen jagung April 2024 terbesar tersebar di 10 kabupaten, yaitu Sumbawa 39.632 hektare, Bima 29.957 hektare, Gunung Kidul 26.899 hektare, Dompu 17.060 hektare, Lampung Tengah 15.202 hektare, Wonogiri 15.200 hektare, Boalemo 12.280 hektare, Lampung Timur 12.030 hektare, Jeneponto 11.997 hektare, dan Malang 9.719 hektare.
Sementara, pada Maret lalu di Tuban 42.811 hektare, Bone 39.131 hektare, Lampung Timur 35.905 hektare, Lampung Selatan 33.940 hektare, Bima 29.178 hektare, Dompu 28.895 hektare, Sampang 28.152 hektare, Pamekasan 22.086 hektare, Lampung Tengah 19.122 hektare, dan Sumbawa 18.363 hektare.
Baca juga: Harga Jagung Makin Merosot, Petani di Bima Terancam Merugi
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima Afifudin menuturkan kondisi harga jagung saat ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Padahal belum memasuki masa panen. Dari yang sebelumnya mencapai Rp 8.000 per kg, kini menjadi Rp 4.200 sampai Rp 4.100 di gudang penampung jagung.
Sementara, pembelian di tingkat petani kini sudah turun menjadi Rp 3.500-Rp 3.600 per kg.
“Kami sangat mengharapkan intervensi pemerintah pusat agar harga jagung tidak turun jauh. Sebab biaya yang dikeluarkan petani di Bima sangat besar dibanding daerah lainnya. Kami harapkan harga jagung masa panen raya ini tetap tinggi agar petani menikmati untung. Minimal harga Rp 6.000 masih wajar diterima petani. Oleh karena itu, kami harapkan pabrik pakan dapat diperintahkan langsung turun serap jagung petani,” pungkasnya, belum lama ini.
Baca juga: Petani di Bima Keluhkan Harga Jagung Anjlok Jelang Panen Raya
(tik)