Mataram, katada.id – Tahun 2025 menjadi babak baru pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Nusa Tenggara Barat. Pada tahun pertama kepemimpinan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri, (Iqbal-Dinda) sektor ini mulai diarahkan tidak sekadar sebagai penghasil komoditas primer, melainkan fondasi industri agrokemaritiman yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, Muslim S.T., M.Si., menyebut 2025 sebagai fase konsolidasi sekaligus akselerasi.
“Ini bukan hanya soal angka produksi. Kita sedang membangun fondasi industri kelautan dan perikanan yang terintegrasi, dari hulu sampai hilir, dengan tetap menjaga keberlanjutan sumber daya,” ujarnya.
Produksi Tumbuh, Struktur Kian Terkonsolidasi
Secara agregat, produksi perikanan NTB tahun 2025 terealisasi sebesar 1.252.719,60 ton. Angka ini melampaui target tahunan dan tumbuh 2,96 persen dibanding 2024.
Subsektor perikanan budidaya ungkap Muslim menjadi penopang utama dengan capaian 997.210,64 ton atau meningkat 1,66 persen secara tahunan. Stabilitas produksi udang dan rumput laut, disertai efisiensi usaha yang membaik, disebut mencerminkan penguatan pembinaan teknis dan integrasi pasar.
Sementara itu, perikanan tangkap terealisasi sebesar 255.508,96 ton atau tumbuh 2,79 persen dibanding tahun sebelumnya.
Menurut Muslim, pertumbuhan tersebut bukan bersifat sporadis, melainkan hasil stabilisasi sistem produksi di tingkat nelayan dan pembudidaya. “Kita dorong produktivitas, tapi tetap dalam koridor keberlanjutan. Itu prinsipnya,” tegasnya.
Kesejahteraan Nelayan Membaik
Dari sisi ekonomi rumah tangga perikanan, Nilai Tukar Perikanan (NTP) tahun 2025 tercatat 106,82 atau naik 1,23 poin dibanding 2024 dan melampaui target.
Kenaikan ini menunjukkan harga yang diterima nelayan dan pembudidaya meningkat lebih cepat dibanding biaya produksi yang mereka keluarkan.
“Artinya margin usaha membaik. Ini indikator penting karena pertumbuhan harus sejalan dengan peningkatan kesejahteraan pelaku usaha,” jelas Muslim.
Ekosistem Laut Makin Terjaga
Indikator keberlanjutan lingkungan juga menunjukkan tren positif. Luas ekosistem perairan laut berstatus baik pada 2025 mencapai 14.528 hektare, meningkat dibanding tahun sebelumnya dan melampaui target.
Capaian ini didukung pengelolaan 12 kawasan konservasi perairan melalui tiga BLUD Balai Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan.
“Produksi boleh tumbuh, tetapi daya dukung lingkungan harus tetap terjaga. Itu sebabnya penguatan kawasan konservasi dan pengawasan terus kami lakukan,” katanya.
Hilirisasi Mulai Bergerak
Muslim juga menyoroti langkah hilirisasi sebagai kunci transformasi sektor. Beroperasinya pabrik garam di Kabupaten Bima dinilai menjadi tonggak penting pergeseran struktur ekonomi dari bahan baku menuju nilai tambah.
Selain itu, pemerintah daerah tengah menyiapkan Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) pembangunan pabrik pengolahan udang yang terintegrasi dengan pelabuhan perikanan.
“Kita ingin rantai nilai terbentuk di dalam daerah. Bukan hanya produksi, tapi juga pengolahan, distribusi, hingga pasar,” pungkasnya.
Dengan capaian produksi yang meningkat, NTP yang menguat, kualitas ekosistem yang membaik, serta fondasi regulasi yang diperkuat, tahun 2025 dipandang sebagai titik balik sektor kelautan dan perikanan NTB menuju industri agrokemaritiman yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. (*)













