Bima, katada.id — Geopark Tambora terus memperkuat kolaborasi dengan dunia pendidikan. Kamis (16/4/2026), lembaga ini menggandeng Universitas Nggusu Waru (Unswa) dan Politeknik AMA dalam kunjungan edukatif ke Pusat Informasi Geologi (PIG) yang berlokasi di Desa Panda, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima.
Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan sejarah, geologi, hingga kekayaan hayati dan budaya kawasan Tambora kepada mahasiswa. PIG sendiri berada dalam satu atap dengan Gedung Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Bima.
Manajer Pendidikan dan Kebudayaan Geopark Tambora, Baharudin, M.Ed, mengatakan kunjungan ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap nilai sejarah dan keilmuan kawasan Tambora.
“Kami berkolaborasi dengan kampus, sekolah, dan lembaga lainnya untuk mengunjungi PIG. Ini bukan sekadar wisata, tetapi juga studi tentang keragaman geologi, hayati, dan budaya, termasuk jejak letusan Gunung Tambora,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa La Ndolo itu menegaskan, PIG memiliki peran strategis sebagai pusat pembelajaran sejarah peradaban lokal. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami akar sejarah daerahnya sebagai bagian dari identitas.
“Ke PIG bukan sekadar jalan-jalan, tapi datang belajar sejarah peradaban di tanah Tambora. Informasi yang disajikan sangat luar biasa,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bima, Muh. Chandra Kusuma, AP, menjelaskan bahwa pengelolaan PIG saat ini masih berada di bawah dinas yang dipimpinnya. Ke depan, pihaknya menargetkan pengelolaan yang lebih profesional dan mandiri.
“Perpustakaan dan PIG akan kami dorong menjadi pusat informasi, literasi, serta ruang edukasi dan riset bagi masyarakat Kabupaten Bima,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala, terutama dari sisi sumber daya manusia dan operasional. Saat ini, PIG hanya memiliki dua operator yang masih membutuhkan pelatihan lebih lanjut.
“Kami juga menghadapi kendala operasional, terutama beban listrik yang cukup besar. Ini berdampak pada belum optimalnya jadwal kunjungan rutin,” ungkapnya.
Dari kalangan akademisi, Mansyur, M.Pd dari Universitas Nggusu Waru berharap kolaborasi antara kampus dan Geopark Tambora terus diperkuat.
“Kunjungan ini penting untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap sejarah dan potensi daerah,” ujarnya.
Antusiasme juga datang dari mahasiswa. Salah satunya, Anisyah Ainu Rahma dari Politeknik AMA, mengaku kunjungan tersebut menumbuhkan rasa penasaran terhadap Gunung Tambora.
“Setelah melihat video letusan Tambora, kami jadi ingin langsung ke sana, bahkan mendaki,” katanya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Geopark Tambora dalam mendorong literasi geologi sekaligus memperkuat keterlibatan generasi muda dalam pelestarian warisan alam dan budaya daerah. (*)













