Mataram, katada.id – Angin segar berembus bagi para Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang membidik pasar kerja di Jepang. Sebuah terobosan dilakukan oleh PT Cipta Rezeki Utama melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan asal Tokyo, PT Yanbo Umi, pada Jumat (28/2).
Kerja sama ini diproyeksikan mampu memotong biaya keberangkatan secara drastis. Jika selama ini rantai birokrasi dari daerah ke pusat kerap membuat biaya membengkak, sistem direct user atau hubungan langsung dengan pengguna di Jepang ini diklaim menjadi solusinya.
Visi Penerbangan Langsung Lombok-Tokyo
Komisaris Utama PT Cipta Rezeki Utama, H. Edy Sopyan, menegaskan bahwa efisiensi biaya adalah prioritas utama. Dengan memangkas keterlibatan agen perantara yang terlalu panjang, beban finansial CPMI bisa ditekan hingga separuh dari harga pasar saat ini.
“Kami menggunakan sistem deposit yang terjangkau. Targetnya, biaya bisa hemat minimal 50 persen. Ini bukan sekadar bisnis, tapi upaya membantu masyarakat mendapatkan penghidupan yang lebih baik,” ujar Edy.
Ia bahkan meyakini, jika arus pengiriman PMI ke Jepang semakin masif dan prosedural, hal ini akan memicu pembukaan rute penerbangan langsung (direct flight) dari Lombok ke Tokyo.
Fenomena ini serupa dengan rute Kuala Lumpur-Lombok yang kini justru didominasi wisatawan mancanegara setelah sebelumnya dirintis oleh mobilitas PMI.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi NTB melalui Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dr. H. Aidy Furqan, mengingatkan bahwa peluang besar ini harus dibarengi dengan kualitas SDM yang mumpuni. Ia menekankan agar seluruh Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di NTB melakukan sinkronisasi kurikulum.
“Masuk ke pasar Jepang tidak bisa main-main. Standar pelatihan harus seragam. Saya minta LPK fokus pada kompetensi teknis, penguasaan bahasa, dan yang paling utama adalah attitude,” tegas Aidy.
Menurutnya, PMI adalah “duta budaya”. Kedisiplinan dan mental tangguh harus dibentuk sejak masa pelatihan agar citra positif NTB tetap terjaga di mata industri Jepang.
Direktur Utama PT Yanbo Umi Tokyo, Bayu Joko Sanjaya, menambahkan bahwa kolaborasi ini memungkinkan proses rekrutmen yang lebih transparan. Karena koordinasi dilakukan secara langsung antara penyalur di Indonesia dan pengguna di Jepang, risiko penipuan atau ketidakjelasan kontrak dapat diminimalisir.
Untuk memperkuat ekosistem ini, PT Cipta Rezeki Utama juga telah merangkul sejumlah LPK lokal dan tenaga rekruter lapangan. Langkah ini diambil guna memastikan seluruh proses, mulai dari pendaftaran hingga keberangkatan, berjalan sesuai koridor hukum dan bersih dari praktik ilegal. (*)













