Scroll untuk baca artikel
Daerah

Berkali-kali Dilarang, FKMA NTT Mataram Berhasil Gelar Nobar Film “Pesta Babi”

×

Berkali-kali Dilarang, FKMA NTT Mataram Berhasil Gelar Nobar Film “Pesta Babi”

Sebarkan artikel ini
Nobar film "Pesta Babi" yang di gelar FKMA NTT Mataram, Sabtu (09/5). (foto dok Tri Iftitasari)

Mataram, katada.id – Nonton Bareng (Nobar) Film dokumenter “Pesta Babi” besutan sutradara Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono beberapa kali dilarang oleh pihak tertentu di Kota Mataram.

‎Pelarangan Nobar film yang menceritakan perjuangan masyarakat Papua itu di larang di Kampus seperti, Undikma, Universitas Mataram dan UIN Mataram.

‎Untuk pertama kali, kegiatan Nobar film dokumenter di tayangkan di kedai kopi samping Universitas Muhamadiyah Mataram (UMMAT).

‎Nobar itu, diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Alor Nusa Tenggara Timur Mataram (FKMA NTT-Mataram).

‎Pantauan di lapangan, meski berlangsung sederhana, suasana pemutaran berlangsung cukup ramai. Beberapa pengunjung bahkan rela duduk lesehan sambil menikmati kopi selama film diputar hampir dua jam penuh.

‎Situasi pun tidak menunjukkan adanya pihak-pihak yang berusaha membubarkan film tersebut.

‎Ketua penyelenggara Nobar, Hasan mengatakan pemutaran di lapak kopi dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap kebebasan berekspresi dalam dunia perfilman independen.

‎”Film ini murni kami tayangkan sebagai ruang edukasi dan diskusi publik mengenai isu krusial yang jarang mendapat sorotan luas mengenai krisis lingkungan dan agraria.” kata Hasan saat diwawancarai, Sabtu (09/5).

‎Sementara itu, Ketua FKMA NTT Mataram, Tomi mengatakan sebagai penyelenggara merasa senang dengan keberhasilan penayangan tersebut karena banyak pelarangan kegiatan Nobar di Mataram.

‎“Kami hanya ingin menyediakan ruang diskusi seni dan film. Penonton juga terbatas dan sifatnya komunitas,” kata dia.

‎Para peserta Nobar pun merasa puas dengan film yang ditayangkan FKMA NTT Mataram itu. Hal itu, disampaikan salah satu peserta Nobar, Dayat. Ia menilai hal tersebut merupakan hal yang perlu untuk diketahui semua pihak.

‎”Saya merasa film ini bukan sekedar bercerita tentang tanah Papua tetapi memberi banyak sekali pemahaman dari berbagai aspek untuk semua penonton” ungkap Dayat. (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *