Jakarta, katada.id – Indonesia terpilih secara aklamasi sebagai ketua sidang sekaligus tuan rumah Inter-Parliamentary Speakers’ Conference (ISC) ke-3 yang akan digelar pada 2027.
Keputusan tersebut disepakati lebih dari 40 pimpinan parlemen dan organisasi internasional dalam ISC-2 yang berlangsung di Phnom Penh, Kamboja, pada 26-28 Agustus 2026.
Pertemuan tersebut dibuka oleh Presiden Senat Kamboja sekaligus mantan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen. Keputusan penetapan Indonesia diumumkan pada akhir pertemuan yang diikuti pimpinan parlemen dari lima benua.
Penetapan tersebut sekaligus menjadi pengakuan terhadap peran Indonesia dalam diplomasi internasional. Para pimpinan parlemen berharap kepemimpinan Indonesia dapat memperkuat ISC sebagai forum kerja sama antarparlemen dunia serta berkontribusi dalam meredakan ketidakstabilan geopolitik.
Dukungan terhadap Indonesia tercantum dalam Deklarasi Phnom Penh yang memberikan kepercayaan kepada Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI untuk menjadi penyelenggara ISC-3, bekerja sama dengan Sekretariat Jenderal ISC di Jenewa.
Dalam forum tersebut, Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin menyampaikan pentingnya negara-negara menegakkan hukum internasional dan prinsip multilateralisme di tengah perubahan tata dunia.
Sultan menilai penguatan persahabatan antarnegara diperlukan untuk meningkatkan kerja sama di berbagai bidang dan mendorong kesejahteraan masyarakat negara peserta.
“Tinggalkan adagium masa lalu, bahwa kalau ingin damai, bersiaplah untuk berperang. Itu membahayakan. Karena ketidakadilan di mana pun mengancam keadilan di segala tempat,” ujar Sultan.
Menurut dia, Indonesia perlu memperluas jejaring kerja sama dengan negara-negara lain, khususnya negara tetangga di kawasan.
“Indonesia meyakini bahwa seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Karena itu perbanyaklah kawan, bukan lawan, terlebih lagi bagi negara-negara tetangga yang ditakdirkan untuk hidup berdampingan selama-lamanya,” katanya.
Sultan juga menyoroti perubahan tata dunia yang berlangsung cepat. Menurutnya, perubahan tersebut telah menciptakan ketidakpastian yang berdampak terhadap banyak negara.
“Transformasi tanpa arah yang sangat cepat dalam tata dunia saat ini telah menciptakan ketidakpastian yang merisaukan semua negara,” kata Sultan.
Karena itu, dia mendorong parlemen negara-negara peserta ISC meningkatkan interaksi dan kerja sama untuk berbagi pengetahuan, keahlian, serta pengalaman.
Sultan juga mengusulkan pembentukan jaringan kelompok kerja antarparlemen negara-negara anggota ISC. Jaringan tersebut diharapkan dapat memperkuat kerja sama parlemen lintas negara dan kawasan.
Selain isu geopolitik, Sultan membawa gagasan Green Democracy dalam forum tersebut. Gagasan ini ditujukan untuk mendukung pelestarian lingkungan dan menjaga keseimbangan ekologis dalam strategi pembangunan berkelanjutan Indonesia.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari sejumlah peserta konferensi yang menemui Sultan di sela-sela dan setelah pertemuan di Phnom Penh.
Delegasi DPD RI dalam ISC-2 di Kamboja terdiri dari Wakil Ketua DPD RI Yorrys Raweyai serta Senator Henock Puraro, Mirah Midadan Fahmid, dan Yance Samonsabra.
Di sela-sela forum, Sultan juga melakukan pertemuan tertutup dengan Presiden Senat Kamboja Hun Sen. Pertemuan tersebut membahas peningkatan hubungan bilateral Indonesia-Kamboja serta stabilitas kawasan ASEAN.
Selain itu, Sultan menggelar pertemuan bilateral dengan pimpinan delegasi parlemen Maladewa. Pertemuan membahas peluang peningkatan hubungan Indonesia dan Maladewa, termasuk dalam sektor perdagangan dan pariwisata. (*)












