Lombok Utara, Katada.id – Pemda Lombok Utara melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menetapkan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ambisius untuk tahun anggaran 2026 sebesar Rp 370 miliar.
Angka ini mengalami kenaikan signifikan dibandingkan target tahun 2025 yang dipatok pada angka Rp 341 miliar.
Kepala Bapenda Lombok Utara, Tri Darma Sudiana, menyatakan optimisme tinggi untuk mencapai target tersebut melalui serangkaian strategi penguatan basis pajak.
Salah satu terobosan utama pada tahun ini adalah dimulainya penarikan pajak dari sektor jasa wisata menyelam atau diving.
Kebijakan penarikan pajak diving ini telah mengantongi izin dari Kementerian Keuangan. Saat ini, Bapenda tengah melakukan koordinasi intensif dengan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama untuk mematangkan teknis pemungutan.
“Potensi PAD dari sektor diving sangat menjanjikan mengingat daya tarik bawah laut kita. Saat ini kami sedang melakukan analisis mendalam mengenai nilai potensinya, karena ini adalah kali pertama penarikan pajak dilakukan di sektor tersebut,” jelas Tri, Rabu (14/1).
Meski optimistis, Pemda Lombok Utara menyadari adanya tantangan dalam optimalisasi teknologi dan keterbatasan fasilitas pendukung di lapangan. Penguatan sistem pengelolaan berbasis teknologi menjadi agenda mendesak agar kebocoran pajak dapat diminimalisir.
Dengan integrasi pajak sektor baru dan penguatan silaturahmi persuasif dengan wajib pajak, Bapenda Lombok Utara berharap kemandirian fiskal daerah semakin kokoh guna mendukung pembangunan berkelanjutan di Lombok Utara.
Dukungan atas kenaikan target ini juga datang dari pihak legislatif. Wakil Ketua DPRD KLU, Hakamah, menilai target tersebut sangat rasional mengingat potensi pariwisata KLU yang luar biasa, khususnya kawasan Tiga Gili (Trawangan, Meno, dan Air).
Politisi Partai Gerindra tersebut menambahkan bahwa tren kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara, terus menunjukkan grafik meningkat, terutama di destinasi wisata daratan saat momentum libur panjang.
“Potensi riil PAD kita sebenarnya bisa mencapai Rp700 miliar jika dikelola secara maksimal. Kawasan Tiga Gili tetap menjadi penyumbang utama, namun destinasi daratan kini mulai menunjukkan geliat yang signifikan,” ujar Hakamah. (ham)













