Mataram, katada.id – Unjuk rasa dari Aliansi Mahasiswa dan Rakyat (AMR NTB) ricuh. Kericuhan terjadi karena pendemo meminta gubernur NTB temui massa aksi.
Kordinator Lapangan, Rangga Ananta Toer dalam orasinya meminta eks Dubes itu agar menemui mahasiswa.
”Kami minta Gubernur NTB keluar,” tegas salah satu kordinator lapangan aksi itu, Selasa (5/5).
Rangga meminta mahasiswa agar membentuk dua baris untuk menerobos barisan penjagaan kepolisian. “Masa aksi, segera bentuk dua barisan. Maju, massa aksi,” intruksi kordinator lapangan aksi itu.
Saling dorong antara kepolisian dan demonstran hingga terjadi kericuhan terjadi kisaran pukul 13.05 Wita.
Pantauan katada.id, puluhan personil kepolisian membubarkan mahasiswa. Saling tarik antar mahasiswa dan polisi terjadi bahkan ingin menarik kordinator lapangan aksi.
Hingga pukul 13.30 Wita pengunjuk rasa bertahan di depan gerbang kantor Gubernur NTB untuk membahas kelanjutan gerakan.
Aparat kepolisian saat menunjuk kordinator lapangan aksi. (foto dok katada)
Rangga mengatakan kekecewaan terhadap sikap Gubernur NTB sehingga terjadi tindakan represif aparat kepolisian.
”Tindakan yang seharusnya mengedepankan prinsip pengayoman, perlindungan, dan pelayanan publik justru bertransformasi menjadi praktik kekerasan yang mencederai nilai-nilai demokrasi serta hak asasi manusia,” kata Rangga.
Labi lanjut, Rangga mengatakan kepolisian semestinya bertindak secara profesional, proporsional, dan berlandaskan hukum. “Namun, fakta di lapangan menunjukkan adanya penyalahgunaan kewenangan melalui pendekatan koersif yang berlebihan, seperti pembubaran paksa, intimidasi, hingga tindakan kekerasan terhadap masyarakat yang menyampaikan pendapat di muka umum,” tegas dia. (*)











