Lombok Utara, Katada.id –Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lombok Utara (KLU) mengambil langkah tegas dalam menjaga kelestarian ekosistem daerah. Mengingat masih ditemukannya praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar, DLH KLU kini memperketat pengawasan serta mendorong transisi menuju metode pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan.
Kepala DLH Kabupaten Lombok Utara, Husnul Ahadi, menyoroti bahwa praktik pembakaran lahan bukan sekadar masalah teknis pertanian, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat dan kualitas udara.
“Membakar lahan mungkin dianggap cara cepat dan praktis, tetapi dampaknya sangat besar. Mulai dari pencemaran udara, gangguan kesehatan, hingga risiko kebakaran yang bisa meluas dan sulit dikendalikan,” ujar Husnul Ahadi saat ditemui, Kamis (5/2/2026).
Husnul menjelaskan dampak buruk yang sering tidak disadari oleh para pelaku pembakaran lahan adalah kerusakan struktur tanah. Panas ekstrem dari api dapat mematikan mikroorganisme tanah dan menghilangkan unsur hara penting. Akibatnya, alih-alih mendapatkan lahan yang subur, petani justru menghadapi penurunan produktivitas tanah dalam jangka panjang.
Sebagai solusi, DLH KLU aktif mengedukasi masyarakat untuk beralih ke metode Zero Burning atau pembukaan lahan tanpa bakar. Metode ini diyakininya tidak hanya menjaga kesuburan tanah, tetapi juga berfungsi sebagai investasi bagi petani agar lahan mereka tetap produktif di masa depan.
“Zero Burning bukan hanya upaya menjaga lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi petani. Risiko kebakaran bisa ditekan, tanah tetap subur, dan ekosistem terjaga,” tegasnya.
Tidak berhenti disitu, DLH juga telah menyiapkan langkah proaktif melalui program penghijauan masif. Salah satu proyek strategis yang akan segera dieksekusi adalah penanaman pohon di sepanjang koridor Jalan Lingkar Utara untuk memperluas Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Program ini dirancang bukan sebagai proyek pemerintah semata, melainkan gerakan kolaboratif yang melibatkan semua pihak mulai dari Pemerintah Desa, Komunitas Peduli Lingkungan, Kelompok Pemuda, serta Relawan Hijau
“Kami ingin menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Lingkungan yang lestari tidak bisa dijaga oleh pemerintah saja, tetapi perlu peran aktif seluruh elemen masyarakat,” ujar Husnul.
Dengan edukasi dan pendampingan yang masif, Ia optimistis kesadaran masyarakat Lombok Utara akan terbangun dengan sendirinya untuk meninggalkan pola-pola lama yang merusak lingkungan.
“Langkah ini saya harapkan menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan ekologi Lombok Utara, memastikan alam yang terjaga tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang dengan kualitas udara dan tanah yang jauh lebih baik,”pungkasnya. (ham)












