Scroll untuk baca artikel
Opini

Tagline atau Nilai, Menguji Humility dalam Tradisi Kaderisasi HMI

×

Tagline atau Nilai, Menguji Humility dalam Tradisi Kaderisasi HMI

Sebarkan artikel ini
Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Muhamad Darwis periode 2026-2027

Oleh: Thuan Hamza Kabid PTKP HMI Komisariat Muahamad Darwis.

Mataram, Katada.id – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak lama dikenal sebagai salah satu kawah candradimuka kader intelektual di Indonesia. Dari organisasi ini lahir banyak tokoh yang berperan dalam kehidupan politik, akademik dan sosial. Tradisi berpikir kritis, diskursus ideologis, dan keberanian berdebat menjadi identitas yang membentuk karakter kadernya.

Namun reputasi intelektual itu justru menghadapi ujian serius, apakah intelektualitas yang dibanggakan masih disertai kerendahan hati, atau justru berubah menjadi arogansi intelektual?

Di banyak ruang organisasi mahasiswa hari ini, kecenderungan yang muncul bukan lagi kerendahan hati dalam berpikir, melainkan hasrat untuk terlihat paling benar. Perdebatan sering bergeser dari upaya mencari kebenaran menjadi sekadar adu argumentasi, yang dipertahankan bukan lagi gagasan, melainkan ego.

Fenomena ini tidak sepenuhnya asing dalam organisasi kader, termasuk HMI. Ketika seseorang merasa paling memahami konsep, paling ideologis, atau paling berhak menentukan arah organisasi, maka ruang dialog perlahan menyempit. Diskusi berubah menjadi panggung dominasi. Kritik dianggap serangan, bukan bahan refleksi. Di titik inilah intelektualitas kehilangan maknanya.

Intelektual yang kehilangan humility mudah berubah menjadi dogmatis. Ia tidak lagi mencari kebenaran, melainkan mempertahankan posisi. Padahal tradisi intelektual yang sehat justru dibangun dari kesadaran bahwa pengetahuan selalu terbuka untuk diuji dan diperbaiki.

Karena itu, humility bukan sekadar nilai moral tambahan. Ia adalah fondasi etika intelektual. Tanpa kerendahan hati, kecerdasan hanya melahirkan kesombongan. Tanpa kesediaan mendengar, diskursus hanya menjadi kompetisi ego.

Ironisnya, organisasi kader sering kali justru melahirkan elitisme baru. Setelah memegang jabatan, sebagian pengurus menjadi semakin jauh dari anggota. Akses menjadi sulit, komunikasi menjadi kaku, dan organisasi perlahan terasa eksklusif. Dalam situasi seperti ini, jargon tentang kerendahan hati terdengar semakin paradoksal.

Jika pelantikan kepengurusan mengusung tagline humility, maka publik organisasi berhak menagihnya sebagai komitmen etis, bukan sekadar dekorasi acara. Tagline hanya bermakna jika tercermin dalam praktik kepemimpinan, terbuka terhadap kritik, dekat dengan anggota, dan tidak alergi terhadap perbedaan.

HMI tidak kekurangan kader yang cerdas. Yang sering langka justru kader yang cukup rendah hati untuk terus belajar. Tanpa kerendahan hati, intelektualitas berubah menjadi arogansi, dan organisasi kader perlahan kehilangan daya kritisnya.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi HMI bukan sekadar melahirkan kader yang pandai berdebat, tetapi kader yang matang secara intelektual dan etis. Kader yang memahami bahwa pengetahuan tidak pernah final, dan bahwa keberanian berpikir harus selalu disertai kerendahan hati.

Jika nilai itu gagal dijaga, maka kebanggaan terhadap tradisi intelektual HMI hanya akan menjadi romantisme masa lalu. Hijau-hitam seharusnya tidak hanya menjadi simbol identitas, tetapi juga pengingat bahwa pengabdian kepada umat dan bangsa menuntut kerendahan hati.

Selamat mengabdi dan Yakin Usaha Sampai. (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *