Scroll untuk baca artikel
Opini

HMI di Persimpangan Idealisme dan Kekuasaan

×

HMI di Persimpangan Idealisme dan Kekuasaan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Thuan Hamzah Kabid PTKP HMI Komisariat M. Darwis

Mataram, Katada.id – Sejarah sering kali menghadirkan ironi. Salah satu ironi yang patut direnungkan hari ini adalah kondisi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi yang dahulu dikenal sebagai lokomotif intelektual, pembela umat, dan pengawal kepentingan rakyat itu kini dinilai mengalami kemunduran moral dan kehilangan daya kritisnya.

HMI yang dahulu tampil sebagai kekuatan penekan terhadap kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, kini justru terlihat semakin akrab dengan lingkaran kekuasaan. Di tengah berbagai persoalan nasional, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok, isu energi, hingga berbagai polemik dalam program-program pemerintah, suara kritis organisasi ini terdengar semakin samar.

Pertanyaan yang layak diajukan oleh kader HMI sendiri adalah: di mana posisi organisasi ini ketika rakyat membutuhkan keberpihakan moral dan intelektualnya? Mengapa organisasi sebesar HMI terlihat kehilangan sikap yang tegas terhadap berbagai persoalan kebangsaan? Ketika banyak kebijakan memunculkan kontroversi di tengah masyarakat, publik justru melihat organisasi ini lebih banyak diam daripada bersikap.

Kondisi tersebut memunculkan kesan bahwa HMI tidak lagi memiliki taring perjuangan sebagaimana yang pernah diwariskan para pendahulunya. Taring kritis yang dahulu membakar semangat perubahan seakan terkikis oleh pragmatisme politik yang semakin menguat.

Lebih jauh, fenomena yang mengkhawatirkan adalah bergesernya orientasi kaderisasi. Ruang-ruang diskusi yang dahulu dipenuhi perdebatan intelektual mengenai keislaman, keumatan, dan kebangsaan perlahan tergantikan oleh pembicaraan mengenai akses kekuasaan, jaringan politik, dan peluang jabatan.

Bukan rahasia lagi bahwa sebagian kader lebih sibuk membangun relasi dengan elite dibanding memperkuat kapasitas intelektualnya. Organisasi yang seharusnya menjadi ruang pembentukan pemikir dan pemimpin masa depan berisiko berubah menjadi tempat persiapan karier politik semata.

Di sisi lain, romantisme sejarah sering kali dijadikan pelarian. Nama-nama besar seperti Lafran Pane, Nurcholish Madjid, dan berbagai tokoh nasional yang lahir dari rahim HMI terus dibanggakan. Namun kebanggaan terhadap masa lalu tidak akan memiliki arti apabila tidak diiringi kemampuan untuk menjawab tantangan zaman.

Sejarah seharusnya menjadi inspirasi, bukan tempat bersembunyi. Kebesaran masa lalu tidak dapat digunakan untuk menutupi kelemahan masa kini. Organisasi yang terlalu sibuk bernostalgia berisiko kehilangan relevansinya di tengah perubahan sosial dan politik yang terus bergerak.

Menjadi dekat dengan kekuasaan memang menawarkan kenyamanan. Namun sejarah menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa memperoleh legitimasi bukan karena kedekatannya dengan penguasa, melainkan karena keberaniannya mengoreksi kekuasaan ketika menyimpang dari kepentingan rakyat.

Dahulu HMI dikenal karena gagasan-gagasannya yang mengguncang ruang publik. Kini, sebagian kader justru lebih sering terlihat dalam forum-forum seremonial birokrasi daripada menjadi penyambung aspirasi masyarakat. Dahulu HMI menjadi representasi suara rakyat. Kini, muncul kekhawatiran bahwa sebagian kader justru berperan sebagai pembela kebijakan tanpa sikap kritis yang memadai.

Karena itu, tantangan terbesar HMI hari ini bukanlah menghadapi tekanan dari luar, melainkan melakukan introspeksi dari dalam. Organisasi ini perlu merebut kembali idealisme yang menjadi ruh perjuangannya. HMI harus kembali menjadi ruang lahirnya pemikir, intelektual, dan aktivis yang berani berdiri di garis depan memperjuangkan keadilan sosial.

Pilihan akhirnya berada di tangan para kader. Apakah HMI akan terus berjalan dalam arus pragmatisme politik, atau kembali menegakkan tradisi intelektual dan keberpihakan kepada rakyat yang menjadi fondasi sejarahnya.

Jika pilihan pertama yang terus dipertahankan, maka bukan tidak mungkin suatu saat HMI hanya akan dikenang sebagai organisasi besar yang kehilangan jati dirinya karena terlalu dekat dengan kekuasaan. Namun jika keberanian untuk melakukan pembenahan masih ada, HMI tetap memiliki kesempatan untuk kembali menjadi kekuatan moral dan intelektual yang diperhitungkan dalam kehidupan bangsa.

Sebagaimana semboyan yang selalu digaungkan: “Dengan iman kita berjuang, dengan ilmu kita berpikir, dan dengan amal kita berbakti.” Maka sudah saatnya semboyan itu tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Yakin Usaha Sampai. (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *