Mataram, katada.id – Masa depan birokrasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Kemampuan aparatur untuk terus belajar dan beradaptasi ketika cara kerja berubah menjadi faktor penting dalam menghadapi perkembangan zaman.
Terlebih di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), peran Widyaiswara ikut mengalami perubahan. Widyaiswara tidak lagi cukup hanya mentransfer pengetahuan kepada aparatur sipil negara (ASN), tetapi dituntut menjadi penggerak inovasi dan peningkatan kinerja ASN.
Gagasan tersebut akan dibawa ke Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Jambore Nasional Widyaiswara Indonesia (JAMNAS WI) ke-4 Tahun 2026 yang akan berlangsung pada 19–21 September 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia (DPP APWI) tersebut mengangkat tema “Widyaiswara sebagai Penggerak Inovasi dan Kinerja ASN Unggul untuk Birokrasi Digital dan Berdaya Saing Global menuju Indonesia Emas 2045”.
JAMNAS WI ke-4 akan mempertemukan Widyaiswara dari kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai gagasan, pengalaman, inovasi, serta praktik baik dalam pengembangan kompetensi ASN.
Bagi Panitia Daerah JAMNAS WI ke-4, Drs. Cukup Wibowo, M.M.Pd., forum tersebut tidak sekadar menjadi pertemuan profesi. JAMNAS dirancang sebagai ruang bertemunya gagasan, pengalaman, inovasi, dan praktik baik Widyaiswara dari berbagai penjuru Indonesia.
Selain itu, forum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat jejaring dan kontribusi profesi Widyaiswara dalam meningkatkan kualitas ASN.
Kebutuhan terhadap ASN pun ikut berubah. Aparatur tidak cukup hanya menguasai regulasi dan prosedur, tetapi harus mampu membaca perubahan, memanfaatkan teknologi, memecahkan persoalan, dan menerjemahkan pengetahuan menjadi kinerja, terangnya.
Perubahan tersebut membuat pengembangan kompetensi ASN menjadi semakin penting. Pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran harus mampu diterapkan dalam pelaksanaan tugas dan memberikan dampak terhadap organisasi.
Kepala Dinas Kominfotik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Halik, menyampaikan bahwa Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal menyambut baik pelaksanaan JAMNAS WI di NTB.
Kehadiran para Widyaiswara dari berbagai daerah di Indonesia diharapkan memberi kontribusi nyata terhadap pengembangan kapasitas ASN, penguatan budaya inovasi, dan percepatan transformasi birokrasi.
Arah tersebut, kata Aka sejalan dengan kebutuhan NTB untuk membangun birokrasi yang tidak hanya mampu menjalankan sistem, tetapi juga membaca perubahan, menggunakan teknologi secara tepat, dan menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat.
“Pengembangan kompetensi ASN, dalam perspektif tersebut, menjadi bagian penting dari penguatan kapasitas pemerintahan dan peningkatan kualitas pelayanan publik,” jelasnya.
Sementara Panitia Daerah lainnya, Dr. Tuti Aprianti, S.Sos., M.M., melihat perkembangan AI semakin memperkuat kebutuhan tersebut.
Pembelajaran ASN, menurut dia, perlu bergerak menuju pendekatan yang lebih adaptif, digital, dan berorientasi pada kebutuhan nyata organisasi.
“Keberhasilan pembelajaran tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan setelah pelatihan, tetapi pada apa yang berubah ketika pengetahuan itu kembali ke tempat kerja,” kata dia.
Widyaiswara pun tidak lagi cukup diposisikan sebagai pengajar, melainkan sebagai penggerak budaya belajar dan inovasi di lingkungan birokrasi.
Perspektif tersebut tercermin dalam agenda JAMNAS WI ke-4. Pembahasan tidak hanya berfokus pada AI dan transformasi pembelajaran, tetapi juga mencakup digital learning, metode pembelajaran digital, serta inovasi kebijakan dalam pengelolaan keuangan negara, daerah dan desa.
Berbagai isu strategis lainnya juga menjadi bagian dari pembahasan. Di antaranya penanggulangan stunting, perubahan iklim, kebencanaan, reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi, hingga kedaulatan pangan.
Keragaman tema tersebut, menurut Tuti Aprianti, penting agar pembelajaran ASN tetap terhubung dengan persoalan nyata pemerintahan.
Karena itu, JAMNAS menghadirkan Lomba Karya Inovasi Widyaiswara, gelar karya, dan pameran virtual. Gagasan yang lahir dari proses pembelajaran diharapkan dapat ditampilkan, dipertukarkan, dan dikembangkan melalui kolaborasi.
Ruang pertukaran tersebut diperkuat melalui Plenary Session dan Community of Practice (CoP) pada 20 September dengan tema “Masa Depan Pembelajaran ASN: Peran WI di Era AI dan Ekosistem Digital.”
Menteri PANRB Rini Widyantini, S.H., M.P.M., Kepala BKN RI Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, S.H., M.H., dan Kepala LAN RI Dr. Muhammad Taufiq, DEA, dijadwalkan menjadi narasumber dalam forum tersebut.
Pada forum tersebut, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal juga dijadwalkan memberikan orasi ilmiah sekaligus menerima Piagam Widyaiswara Kehormatan.
Lebih lanjut Cukup Wibowo menilai kehadiran para pengambil kebijakan nasional tersebut memberi ruang bagi Widyaiswara untuk mempertemukan perspektif kebijakan dengan pengalaman dan praktik pembelajaran di lapangan.
Bagi NTB, JAMNAS sekaligus menjadi kesempatan memperkuat jejaring profesional dan memperkenalkan potensi daerah kepada para Widyaiswara dari seluruh Indonesia.
Rangkaian JAMNAS akan memadukan agenda ilmiah dengan pengenalan daerah melalui Widyawisata Widyaiswara Indonesia serta berbagai kegiatan budaya di NTB.
Namun, nilai terpenting forum ini bukan sekadar rangkaian acara selama tiga hari. Jejaring dan gagasan yang terbentuk selama JAMNAS diharapkan dapat terus berkembang setelah peserta kembali ke institusinya masing-masing.
Pada akhirnya, tantangan birokrasi di era AI bukan semata bagaimana menggunakan teknologi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membangun manusia yang mampu belajar, beradaptasi, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi untuk menyelesaikan persoalan publik.
Dari NTB, para Widyaiswara diharapkan tidak hanya membawa pulang pengetahuan, tetapi gagasan yang siap diolah menjadi inovasi.
“Dari inovasi itulah diharapkan tumbuh perubahan yang memperkuat birokrasi Indonesia semakin adaptif, berintegritas, berkinerja, dan siap menghadapi tantangan global menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Cukup Wibowo.












