Mataram, katada.id – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus membangun kapasitas RSUD Provinsi NTB untuk menghadirkan layanan kesehatan berkompleksitas tinggi di daerah. Di bawah kepemimpinan Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri, upaya tersebut kini memasuki tahap penting.
Untuk pertama kalinya, RSUD Provinsi NTB melakukan tindakan bypass STA-MCA. Layanan bedah saraf kompleks tersebut menempatkan NTB dalam jajaran terbatas provinsi di Indonesia yang mampu memberikan layanan bypass otak.
Capaian tersebut tidak lahir dari satu tindakan medis. Kemampuan baru itu dibangun melalui proses bertahap, mulai dari pengembangan kompetensi dokter dan tim medis, pendidikan serta fellowship, kesiapan fasilitas dan peralatan, hingga pengampuan bersama rumah sakit yang lebih dahulu memiliki pengalaman dalam layanan bypass otak.
Program proctorship menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Melalui program itu, tim RSUD Provinsi NTB dapat belajar sekaligus mempraktikkan secara langsung penanganan kasus kompleks bersama para ahli.
Rangkaian Proctorship Bypass Otak berlangsung pada 11–12 September 2026. Kegiatan tersebut melibatkan tim RSUD Provinsi NTB bersama rumah sakit pengampu, di antaranya RS PON Prof. Dr. Mahar Mardjono Jakarta dan RS Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Bali.
Pendampingan tidak hanya dilakukan saat tindakan medis berlangsung. Proses tersebut juga mencakup persiapan, pengambilan keputusan klinis, hingga pemantauan pasien setelah operasi.
Kemampuan yang dibangun melalui proses pendampingan tersebut kemudian diuji melalui penanganan dua pasien di RSUD Provinsi NTB.
Pasien pertama merupakan anak berusia 12 tahun yang telah mengalami gejala sejak sekitar usia satu tahun. Gejala yang dialami berupa kelemahan pada satu sisi tubuh serta gangguan bicara dan kognitif.
Hasil pemeriksaan Digital Subtraction Angiography (DSA) menemukan adanya penyempitan pembuluh darah otak. Pasien kemudian didiagnosis mengalami Moyamoya.
Tindakan bypass dilakukan untuk membantu membangun jalur aliran darah baru ke otak. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko kekurangan suplai darah serta stroke berulang.
Sementara pasien kedua berusia 42 tahun. Pasien tersebut memiliki riwayat stroke iskemik yang disertai gangguan bicara dan kelemahan anggota gerak.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya gangguan suplai aliran darah ke otak. Karena itu, tindakan bypass dipilih untuk membantu memperbaiki aliran darah sekaligus menekan risiko kejadian berulang.
Dua tindakan tersebut sekaligus membawa NTB memasuki peta layanan bedah saraf yang masih terbatas secara nasional.
Direktur Pelayanan Klinis Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, dr. Obrin Parulian, M.Kes., menyebut dari 38 provinsi di Indonesia, baru 11 provinsi yang memberikan layanan bypass STA-MCA.
“Dari 38 provinsi, baru 11 provinsi yang memberikan layanan bypass STA-MCA ini. Kalau ini berkelanjutan dan rumah sakit sudah mandiri, berarti sudah setara dengan rumah sakit pengampu,” ujar Obrin di Mataram, Jumat (11/9).
Menurut Obrin, Kementerian Kesehatan mendorong pemerataan layanan kesehatan prioritas. Tujuannya agar kasus dengan kompleksitas tinggi tidak seluruhnya terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra.
Setiap provinsi diharapkan memiliki rumah sakit pemerintah yang mampu menyediakan layanan kesehatan dengan tingkat kompleksitas tersebut.
Bahkan, perkembangan RSUD Provinsi NTB dinilai telah melampaui target awal. Tidak hanya menghadirkan layanan utama, rumah sakit tersebut mulai diarahkan memiliki kemampuan layanan yang lebih paripurna.
Dukungan Kementerian Kesehatan juga diarahkan pada kesiapan fasilitas dan peralatan. Termasuk kebutuhan mikroskop serta perangkat bedah mikro yang menjadi bagian penting dalam tindakan bypass STA-MCA.
Pada saat yang sama, peningkatan kompetensi sumber daya manusia terus dilakukan melalui jejaring rumah sakit pengampu.
Capaian tersebut turut disaksikan langsung Sekretaris Daerah NTB Abul Chair saat menghadiri rangkaian proctorship di RSUD Provinsi NTB.
Abul Chair melihat proses tersebut sebagai bagian dari upaya memastikan teknologi medis berjalan beriringan dengan kemampuan sumber daya manusia.
“Bukan hanya ikannya, tetapi juga cara menangkap ikan dan bagaimana mengolahnya,” kata Abul Chair, menggambarkan bahwa proctorship bukan sekadar membantu satu tindakan, melainkan mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada tim daerah.
Saat ini, RSUD Provinsi NTB memiliki lima dokter spesialis bedah saraf. Kompetensi mereka juga terus dikembangkan melalui pendidikan lanjutan, termasuk fellowship di Jepang.
Pengembangan kapasitas tersebut dilakukan bersamaan dengan dukungan Kementerian Kesehatan dan jejaring rumah sakit pengampu.
Kemampuan yang dimiliki tim RSUD Provinsi NTB selanjutnya diarahkan untuk terus diuji dan dikembangkan. Target akhirnya, RSUD NTB benar-benar mampu memberikan layanan bypass otak secara mandiri.
Tidak berhenti di sana. Pada tahap berikutnya, RSUD Provinsi NTB berpeluang berkembang menjadi rumah sakit pengampu bagi daerah lain yang membutuhkan layanan serupa.
Bagi masyarakat NTB, arah perubahan tersebut membawa manfaat yang sangat konkret. Layanan kesehatan dengan kompleksitas tinggi yang sebelumnya dapat mengharuskan pasien mencari rujukan ke luar daerah kini mulai dapat dihadirkan lebih dekat.
Pasien tidak lagi selalu harus meninggalkan NTB untuk mendapatkan layanan tertentu. Kehadiran kemampuan baru di RSUD Provinsi NTB membuka peluang agar pelayanan kesehatan berkompleksitas tinggi dapat diakses dari ibu kota provinsi.
Sebagaimana disampaikan Kementerian Kesehatan, pasien tidak perlu lagi menyeberang ke Bali atau pergi ke Makassar untuk layanan tertentu; cukup di ibu kota provinsi.
Dari pendampingan menuju kemandirian, langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa membangun layanan kesehatan unggulan bukan hanya tentang menghadirkan teknologi.
Lebih dari itu, dibutuhkan pembangunan sumber daya manusia, sistem, fasilitas, serta kemampuan tim medis agar teknologi tersebut benar-benar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, tindakan bypass STA-MCA yang untuk pertama kalinya dilakukan di RSUD Provinsi NTB bukan sekadar capaian satu operasi. Di baliknya terdapat proses panjang membangun kompetensi, mentransfer pengetahuan, menyiapkan fasilitas, dan memastikan tenaga medis daerah mampu menangani kasus kompleks.
Proses tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi NTB untuk mengurangi ketergantungan terhadap layanan kesehatan di luar daerah sekaligus memperkuat kapasitas rumah sakit milik pemerintah daerah.
Dari pendampingan, RSUD Provinsi NTB kini mulai melangkah menuju kemandirian. Harapannya, semakin banyak layanan kesehatan berkompleksitas tinggi dapat dilakukan di daerah sehingga masyarakat memperoleh pelayanan yang lebih dekat, cepat, dan berkualitas. (*)












