Lombok Timur, katada.id – Matematika tak harus selalu identik dengan angka, rumus, dan soal yang membuat siswa pusing. Di tangan guru yang kreatif, pelajaran yang kerap dianggap sulit itu bisa dikemas menjadi permainan yang menyenangkan.
Upaya tersebut dilakukan Universitas Mataram (UNRAM) melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Pembelajaran Matematika Inovatif Melalui Permainan Edukatif bagi Guru-Guru SD Gugus Suntalangu Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur”.
Program tersebut menyasar guru sekolah dasar di Gugus Suntalangu. Tujuannya memperkuat pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengembangkan serta menerapkan permainan edukatif matematika dalam proses pembelajaran.
Sebanyak 20 guru SD mengikuti kegiatan yang digelar di SDN 4 Suntalangu, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur.
Program pengabdian itu dilaksanakan melalui tiga tahapan. Yakni Focus Group Discussion (FGD), workshop dan praktik pengembangan permainan edukatif matematika, serta evaluasi.
Dalam kegiatan tersebut, guru diperkenalkan dengan berbagai model permainan yang dapat digunakan untuk membuat pembelajaran matematika lebih interaktif. Tidak hanya menggunakan permainan secara konvensional, peserta juga diperkenalkan dengan pemanfaatan teknologi seperti Kahoot dan Quizizz.
Penggunaan teknologi tersebut diarahkan tidak sekadar sebagai media evaluasi. Namun juga menjadi sarana untuk membangun suasana belajar yang lebih menarik dan meningkatkan keterlibatan siswa.
Untuk sekolah yang memiliki keterbatasan perangkat maupun akses internet, guru juga diperkenalkan dengan alternatif Quizizz mode kertas. Dengan begitu, konsep pembelajaran berbasis permainan tetap dapat diterapkan tanpa sepenuhnya bergantung pada perangkat digital.
Selain permainan berbasis teknologi, tim pengabdian UNRAM juga memperkenalkan permainan matematika sederhana seperti tebak angka dan menjumlahkan dengan cepat. Permainan tersebut dapat digunakan untuk melatih kemampuan siswa dalam memahami bilangan, pola, hingga logika matematika.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena matematika memiliki karakteristik yang cukup abstrak bagi siswa sekolah dasar. Melalui permainan, konsep yang sebelumnya hanya disampaikan melalui simbol dan rumus dapat dikaitkan dengan pengalaman yang lebih konkret.
Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan respons positif dari para peserta. Seluruh peserta menyatakan kegiatan tersebut memberikan manfaat dalam menambah wawasan mengenai permainan edukatif matematika sekaligus meningkatkan keterampilan guru dalam mengembangkan dan menerapkannya di kelas.
Penguatan kapasitas guru tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pengabdian. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam pembelajaran sekaligus dibagikan kepada guru lain di lingkungan gugus pendidikan.
Bagi UNRAM, program tersebut menjadi bagian dari peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kepakaran akademik tidak hanya berhenti di ruang kelas dan penelitian, tetapi diterjemahkan menjadi inovasi yang dapat digunakan langsung oleh guru.
Program tersebut juga sejalan dengan upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan, dan SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.
Melalui pendekatan permainan edukatif, pembelajaran matematika diharapkan tidak lagi dipandang sebagai aktivitas menghafal rumus semata. Guru didorong menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif, kreatif, dan menyenangkan sehingga konsep matematika lebih mudah diterima siswa. (*)












