Mataram, katada.id – Kerusakan hutan di Kabupaten Bima yang diperkirakan mencapai 800 hektare memicu keprihatinan serius dari kalangan parlemen. Anggota DPRD NTB, Muhammad Aminurlah, mendesak adanya langkah radikal untuk memulihkan kawasan hijau melalui gerakan tanam kemiri massal.
Pria yang akrab disapa Maman ini menilai, gundulnya pegunungan dan rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS) di Bima adalah aktor utama di balik bencana banjir bandang dan longsor yang kerap terjadi. Baginya, pemulihan alam tidak bisa lagi ditunda demi keselamatan warga.
“Kondisinya sudah darurat. Kita melihat pembabatan hutan di wilayah seperti Wawo, Ambalawi, hingga Parado masih sangat masif. Mengembalikan fungsi hutan bukan lagi pilihan, tapi kewajiban,” tegas politisi PAN tersebut di Mataram, Senin (20/1).
Targetkan Ekonomi Hijau
Strategi yang ditawarkan Maman adalah melalui pendekatan “Ekonomi Hijau”. Ia mengusulkan penanaman pohon kemiri sebagai komoditas utama reboisasi. Selain memiliki akar yang kuat untuk mengikat tanah dan mencegah erosi, kemiri memiliki nilai jual tinggi yang bisa menyejahterakan petani lokal.
Sebagai bukti komitmen, Maman telah menyalurkan sedikitnya 19.000 bibit kemiri melalui program pokok-pokok pikiran (Pokir) miliknya. Belasan ribu bibit tersebut disebar di titik-titik rawan seperti Kecamatan Lambitu, Parado, dan Wawo.
“Saat ini adalah waktu yang tepat karena sudah masuk musim penghujan. Kita ingin masyarakat menanam bukan hanya untuk lingkungan, tapi juga sebagai investasi masa depan karena kemiri punya pasar ekspor yang bagus,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah daerah segera merancang program distribusi bibit secara rutin ke desa-desa di lereng gunung. Dengan pelibatan masyarakat secara aktif, diharapkan timbul kesadaran kolektif untuk menjaga hutan dari aksi pembalakan liar.
“Tujuannya jelas, alam kembali lestari dan ekonomi masyarakat bangkit. Ini adalah warisan yang harus kita siapkan untuk generasi mendatang,” pungkasnya. (*)













