Masika ICMI Orwil NTB dorong penguatan gagasan kemajemukan sebagai perekat persatuan

0
Rahman Ayusuf Ketua Umum Masika ICMI Orwil NTB.

Mataram, katada.id – Indonesia adalah negara yang majemuk. Masyarakatnya plural. Kemajemukan inilah perekat persatuan dan kesatuan.

Hal itu diungkapkan Rahman A. Yusuf, ketua umum Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Masika ICMI) Orwil NTB. ’’Kita tidak ingin dibenturkan seperti yang terjadi diera kolonial, kita dibelah,’’ kata dia mengutip pernyataan Nurcholis Madjid.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sukses kaena mempertautkan solidaritas kultural. Merangkum tak kurang dari 250 kelompok etnis dan 1001 bahasa di 17.500 pulau.

’’Dari sekian banyak etnis dan bahasa, Indonesia mampu menghadirkan suatu lingua franca yang mampu mengatasi isolasi pergaulan antarsuku,’’ terangnya.

Persatuan merupakan kata yang penting di dalam Indonesia yang beragam dalam hal agama, suku, etnis dan bahasa. Pentingnya persatuan sebagai landasan berbangsa dan bernegara Indonesia bukan hanya bertumpu pada perangkat keras seperti kesatuan politik (pemerintahan), kesatuan teritorial, dan iklusivitas warga. Akan tetapi juga memerlukan perangkat lunak berupa eksistensi kebudayaan nasional.

Baca Juga:   Pemakai sabu di Simpasai Bima ditangkap polisi saat santai bareng teman

‘’Persatuan memerlukan apa yang disebut Soekarno sebagai identitas nasional, kepribadian nasional dan berkepribadian dalam kebudayaan,” jelasnya.

Akar nasionalisme Indonesia sejak awal justru didasarkan pada tekad yang menekankan cita-cita bersama (Persaudaraan Universal). Di samping pengakuan sekaligus penghargaan pada perbedaan sebagai pengikat kebangsaan.

’’Di Indonesia, kesadaran semacam itu sangat jelas terlihat. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun satu jua adalah prinsip yang mencoba menekankan cita-cita yang sama dan kemajemukan sebagai perekat kebangsaan,’’ terangnya.

Dalam prinsipnya, kata Rahman etika ini meneguhkan pentingnya komitmen negara untuk memberi ruang bagi kemajemukan pada satu pihak dan pada pihak lain pada tercapainya cita-cita akan kemakmuran dan keadilan sebagai wujud dari tujuan nasionalisme Indonesia.

Baca Juga:   Hari Ini, Pasien Positif Corona di NTB Bertambah Enam Orang

Prinsip Indonesia sebagai negara bhineka tunggal ika mencerminkan Indonesia adalah multikultural. Tetapi tetap terintegrasi dalam keikaan dan kesatuan. Namun, realitas sosial-politik saat ini, terutama setelah reformasi, menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.

‘’Konflik dan kekerasan berlangsung hanya karena persoalan-persoalan yang sebetulnya tidak fundamental tapi kemudian disulut dan menjadi isu besar yang melibatkan etnis dan agama,’’ ujarnya.

Kini, setelah sekian puluhan tahun setelah Pancasila dikemukakan secara publik saat ini merupakan momentum reflektif bagi bangsa Indonesia untuk meradikalkan Pancasila sebagai pondasi gagasan yang bisa beroperasi dalam kehidupan sehari-hari.

Pancasila lahir dari penghargaan atas kemajemukan tentu haruslah dijadikan dasar kehidupan bersama karena di dalamnya mengajarkan nilai-nilai kehidupan bersama, multikulturalisme, persatuan, demokrasi, keadilan sosial dan penghormatan terhadap kelompok-kelompok minoritas.

Baca Juga:   Dikawal ribuan pendukung, IDP-Dahlan awali pendaftaran ke KPUD Bima

‘’Pancasila haruslah menjadi perekat bangsa, menjadi landasan persatuan dan kesatuan Indonesia , Penguatan soliditas dalam masyarakat juga menjadi penting , Keadilan bagi seluruh rakyat indonesia , semoga tetap terjaga nilai persaudaraan yang sudah ada dibangsa ini,’’ tambahnya. (izl)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here