Oleh: Musafir, S.P., M.P
Bima, Katada.id – Dalam memori kolektif masyarakat suku Mbojo, “Tambulate” bukan sekadar penggalan lagu daerah yang hanya menyajikan rima metafora semata. Ia adalah personifikasi kesatria. Liriknya mengisahkan sebentuk bunga yang tumbuh tunggal, tegak di celah batu cadas Donggo Kala (Daerah puncak, Bima sebelah barat). Ia digambarkan sebagai entitas yang tak mempan akan invansi hal yang abstrak, tak rebah oleh badai, dan tak layu akan cekaman terik matahari.
Namun, di balik metafora moral tentang keteguhan prinsip manusia Bima, tersimpan sebuah misteri botani yang perlu dibongkar sebagai sebuah tragedi lingkungan. Sebagai seorang peneliti mikrobiologi pertanian, saya memandang Tambulate bukan lagi sekadar lirik, melainkan sebuah variabel sains yang hilang, sebuah penanda (indikator) betapa krisis iklim telah mencapai titik didihnya di sekitar kita.
Secara sains, daya tahan ekstrem Tambulate yang diceritakan dalam manuskrip lama Mbojo itu sebenarnya masuk akal. Dalam dunia mikrobiologi, tanaman yang mampu hidup di lingkungan marjinal, seperti celah batu cadas yang panas dan miskin hara biasanya memiliki aliansi rahasia dengan mikroba endofit (mikro organisme bermanfaat yang berkoloni di dalam jaringan tanaman inang).
Kita bisa berkaca pada hasil penelitian beberapa peneliti dari Universitas Brawijaya dan Universitas Udayana beberapa tahun terakhir, yang berhasil mengisolasi bakteri dari tanaman yang mampu bertahan hidup di tengah panasnya Lumpur Lapindo, Sidoarjo. Mikroba-mikroba ini bekerja di dalam jaringan tanaman, memicu ekspresi gen ketahanan yang membuat inangnya tahan terhadap suhu ekstrem dan cekaman kimiawi.
Hipotesis saya sederhana, Tambulate adalah hikayat alam yang menyimpan kandidat obat masa depan, bahan baku biopestisida hayati, hingga sumber gen ketahanan untuk tanaman pangan yang dapat disisipkan di masa depan. Tambulate adalah jawaban alam terhadap tantangan bioteknologi abad ke-21.
Pertanyaan besarnya, Jika Tambulate setangguh yang diceritakan, tahan terhadap cekaman hujan, badai, dan terik, mengapa hari ini ia nyaris mustahil ditemukan?.
Selama dua tahun saya melacak jejaknya, dari puncak Donggo hingga belantara digital spesifikasi spesies, hasilnya nihil. Jawaban atas hilangnya Tambulate adalah potret nyata krisis iklim dan kerusakan ekosistem masif yang kita ciptakan sendiri.
Tambulate bukan punah karena ia lemah. Ia punah karena akumulasi tekanan yang melampaui batas evolusinya. Ekspansi lahan pertanian konvensional yang membabi buta, praktik pembakaran lahan (pembalakan), hingga penggunaan pupuk sintetis dan pestisida kimia yang berlebihan telah merusak mikrobioma tanah dan habitat spesifiknya. Kontribusi gas rumah kaca yang mengubah pola curah hujan dan suhu di dataran tinggi, mungkin di Donggo telah mencabut paksa Tambulate dari akarnya.
Hilangnya Tambulate adalah alarm keras bagi kita semua. Jika tanaman sekekar itu saja bisa hilang dari muka bumi, lantas bagaimana nasib komoditas pangan kita yang jauh lebih ringkih?.
Tambulate kini hanya tersisa dalam bait lagu. Kehilangannya membuktikan bahwa krisis iklim bukan lagi sekadar prediksi statistik di meja seminar, melainkan realitas yang telah merampas identitas budaya dan potensi sains kita secara bersamaan. Ia adalah parameter yang hilang, sebuah pengingat bahwa saat kita merusak alam, kita tidak hanya kehilangan pemandangan, tapi kita sedang melenyapkan perpustakaan obat dan potensi ketahanan pangan masa depan.
Misteri Tambulate harus tetap kita bicarakan. Bukan hanya untuk mengenang keluhuran budaya Mbojo saja, tapi untuk menyadari bahwa krisis iklim telah merampas salah satu variabel terkuat dari ekosistem kita. Sebelum semua tanaman tangguh lainnya ikut menjadi sekadar lirik lagu. (*)













