Jakarta, katada.id- Gelaran MotoGP Mandalika 2026 dinilai menjadi momentum penting bagi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk memperluas perputaran ekonomi, tidak hanya di sekitar kawasan sirkuit, tetapi juga hingga pelaku usaha dan masyarakat di berbagai daerah.
Anggota Komite IV DPD RI perwakilan NTB, Mirah Midadan Fahmid, meminta peningkatan mobilitas wisatawan menjelang MotoGP diikuti strategi yang memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat NTB.
“Identitas budaya NTB harus menjadi bagian dari pengalaman wisatawan. MotoGP adalah panggung internasional, sehingga momentum ini harus sekaligus menjadi etalase bagi budaya, produk kreatif, kuliner, dan potensi ekonomi masyarakat NTB,” ujar Mirah, Rabu (23/9).
Menurut Mirah, peluang tersebut semakin terbuka seiring meningkatnya konektivitas menuju NTB menjelang penyelenggaraan MotoGP 2026.
Hingga 16 September 2026, Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) mencatat 66 permintaan penerbangan non-reguler. Jumlah tersebut terdiri atas 48 extra flight, 11 charter flight, empat penerbangan menggunakan pesawat berkapasitas besar, dan tiga positioning flight.
Pertumbuhan trafik penerbangan juga terlihat sepanjang Januari-Agustus 2026. BIZAM melayani sekitar 1,8 juta penumpang atau meningkat 15,6% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sementara itu, pergerakan pesawat mencapai 21.348 kali, tumbuh 28,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
MotoGP Tak Hanya Berhenti di Mandalika
Mirah menilai peningkatan konektivitas tersebut menunjukkan adanya potensi mobilitas wisatawan yang besar selama MotoGP berlangsung. Namun, arus wisatawan perlu dikelola agar dampaknya tidak hanya terkonsentrasi di kawasan Mandalika.
Pengalaman MotoGP Mandalika 2025, kata Mirah, memperlihatkan besarnya potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari ajang olahraga internasional tersebut.
Pemerintah memperkirakan dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2025 mencapai sekitar Rp4,96 triliun. Jumlah penonton saat itu mencapai 140.324 orang atau meningkat 15,7% dibandingkan 2024.
Tingkat okupansi hotel juga tercatat tinggi, mencapai 100% di kawasan Mandalika, rata-rata 93% di Pulau Lombok, dan sekitar 90% di Mataram.
Dari sisi ekonomi masyarakat, lebih dari 600 UMKM terlibat dalam gelaran tersebut. MotoGP juga menyerap lebih dari 3.000 tenaga kerja, dengan 67% di antaranya merupakan warga lokal Lombok Tengah.
Bagi Mirah, pengalaman tersebut dapat menjadi dasar untuk memperluas manfaat MotoGP 2026.
“Jangan sampai lonjakan wisatawan hanya berhenti di sekitar sirkuit. Harus ada konektivitas yang membuat mereka bergerak ke destinasi lain dan membelanjakan uangnya di ekonomi lokal,” katanya.
Karena itu, Mirah mendorong peningkatan konektivitas penerbangan diikuti penguatan transportasi lokal serta paket perjalanan yang menghubungkan Mandalika dengan destinasi lain di NTB.
Wisatawan yang datang untuk menyaksikan MotoGP dapat diarahkan mengunjungi Mataram, Senggigi, desa wisata, pusat kuliner, hingga berbagai destinasi wisata lainnya.
UMKM Perlu Masuk Rantai Belanja Wisatawan
Selain memperluas sebaran wisatawan, Mirah mendorong pemerintah dan pelaku usaha memperkuat keterhubungan sektor pariwisata dengan UMKM lokal.
Hotel, restoran, penyelenggara acara, dan pelaku pariwisata dinilai perlu membuka ruang lebih besar bagi produk masyarakat NTB agar masuk dalam rantai belanja wisatawan.
“Produk UMKM lokal jangan hanya hadir di lokasi event. Produk tersebut perlu masuk ke dalam rantai belanja wisatawan selama mereka berada di NTB,” ujarnya.
Mirah juga mendorong strategi untuk memperpanjang lama tinggal atau length of stay wisatawan.
Pemerintah daerah bersama pelaku pariwisata dapat menyiapkan rangkaian kegiatan pendukung sebelum dan setelah balapan, mulai dari agenda budaya, ekonomi kreatif hingga wisata kuliner.
Dengan strategi tersebut, wisatawan diharapkan tidak hanya datang untuk menyaksikan balapan, tetapi juga memiliki lebih banyak alasan untuk tinggal dan membelanjakan uangnya di NTB.
Ukur Dampak dari Manfaat bagi Masyarakat
Mirah mengatakan keberhasilan MotoGP tidak semestinya hanya diukur dari jumlah penonton maupun peningkatan penerbangan.
Menurut dia, pemerintah perlu menggunakan indikator yang lebih mencerminkan dampak ekonomi bagi masyarakat, seperti lama tinggal wisatawan, besaran pengeluaran, transaksi UMKM, penyerapan tenaga kerja lokal, serta pemerataan kunjungan antar-destinasi.
“Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu melihat bukan hanya berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi berapa lama mereka tinggal, berapa besar belanja mereka, dan seberapa luas masyarakat lokal mendapatkan manfaat,” kata Mirah.
Dia berharap MotoGP Mandalika 2026 dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem pariwisata sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dalam aktivitas ekonomi yang muncul dari gelaran internasional tersebut.
“MotoGP adalah momentum. Saatnya memperluas dampaknya untuk NTB yang lebih sejahtera,” ujar Mirah. (*)












