Mataram, katada.id – Situs media online NTBSatu dilaporkan mengalami serangan digital berupa ransomware yang melumpuhkan sistem sejak Jumat (1/5). Hingga Senin (4/5) dini hari, laman tersebut masih belum dapat diakses.
Serangan pertama kali terdeteksi sekitar pukul 09.00 WITA saat situs NTBSatu tidak dapat dibuka. Alih-alih menampilkan halaman utama, laman hanya menunjukkan layar putih disertai pesan permintaan tebusan sebesar 0,1 Bitcoin (BTC) agar data dapat dipulihkan.
Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 11.41 WITA, tim internal NTBSatu mengonfirmasi bahwa server mereka telah disusupi peretas. Dalam serangan tersebut, pelaku diduga menghapus sejumlah berkas penting, termasuk cPanel dan WHM.
Koordinator Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) NTB, Haris Mahtul, menilai serangan terhadap media merupakan bentuk pembungkaman gaya baru terhadap kerja-kerja jurnalistik.
“Serangan digital yang menargetkan media merupakan bentuk lain dari pembungkaman,” ujarnya.
KKJ NTB saat ini masih mendalami kemungkinan adanya kaitan antara serangan siber tersebut dengan aktivitas jurnalistik NTBSatu. Diketahui, sehari sebelum serangan terjadi, media tersebut menerbitkan laporan khusus bertema persoalan sampah di Kota Mataram.
“Rentang waktu yang sangat berdekatan menimbulkan dugaan adanya keterkaitan. Kami akan terus mendalami hubungan antara pemberitaan tersebut dengan serangan digital yang terjadi,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mataram, Wahyu Widiyantoro, menyebut serangan ransomware sebagai ancaman serius terhadap kebebasan pers.
Menurutnya, metode ini semakin sering digunakan karena relatif murah, efektif, dan sulit dilacak, terutama untuk menekan media yang mengangkat isu-isu sensitif seperti korupsi, lingkungan, dan kebijakan publik.
“Serangan digital terhadap media bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga serangan terhadap kebebasan pers dan hak publik atas informasi,” tegas Wahyu.
Berdasarkan catatan KKJ Pusat, sepanjang 2025 tercatat 89 kasus kekerasan terhadap jurnalis, dengan 29 di antaranya berupa serangan digital.
AJI Mataram pun mendesak agar tercipta ruang aman bagi media dari berbagai bentuk ancaman, termasuk serangan siber yang dapat melumpuhkan operasional redaksi dan menimbulkan kerugian ekonomi.
Hingga kini, pihak NTBSatu masih melakukan upaya pemulihan sistem sembari menelusuri sumber serangan tersebut.













