Scroll untuk baca artikel
DaerahKesehatan

10 Tahun Mengabdi di Pelosok Wera, dr. Fety Rahmawati Raih Juara II Dokter Teladan NTB 2026

×

10 Tahun Mengabdi di Pelosok Wera, dr. Fety Rahmawati Raih Juara II Dokter Teladan NTB 2026

Sebarkan artikel ini
dr. Fety Rahmawati (istimewa)

Bima, katada.id — Selama satu dekade, dr. Fety Rahmawati memilih mengabdikan dirinya di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di tengah keterbatasan akses pelayanan kesehatan, ia bersama tim Puskesmas Wera terus berupaya memastikan masyarakat di pelosok tetap mendapatkan pelayanan kesehatan.

Bagi dr. Fety, pelayanan kesehatan tidak cukup hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.

Bersama tim Puskesmas Wera, ia melakukan gerakan jemput bola dengan turun langsung ke desa-desa, mendatangi rumah pasien hingga menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Salah satu fokus pengabdian tersebut adalah pelayanan kesehatan jiwa.

Pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) menjadi salah satu kelompok yang mendapatkan perhatian melalui kunjungan langsung, pemantauan pengobatan, edukasi keluarga hingga pendampingan agar pasien dapat kembali menjalani kehidupan bersama keluarga dan masyarakat.

Pengabdian panjang selama 10 tahun itu akhirnya mendapat apresiasi di tingkat Provinsi NTB.

Dr. Fety Rahmawati meraih Juara II Tenaga Medis Dokter Teladan Tingkat Provinsi NTB Tahun 2026.

Penghargaan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB Nomor 800.1.2/819/SDK/VII/2026 tentang Pemberian Penghargaan bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Teladan Tingkat Provinsi NTB Tahun 2026.

Penghargaan Bukan Tujuan Utama

Bagi dr. Fety, penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir dari pengabdiannya. Penghargaan itu justru menjadi motivasi untuk terus meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Wera.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Ini bukan hanya pencapaian saya pribadi, tetapi juga hasil kerja sama seluruh tim Puskesmas Wera yang selama ini selalu mendukung setiap program pelayanan kesehatan,” ujarnya kepada katada.id, Minggu (9/8/2026).

Selama bertugas di Wera, ia menyadari bahwa kondisi geografis dan jarak menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Karena itu, pelayanan tidak boleh berhenti di dalam gedung puskesmas.

Tenaga kesehatan harus hadir di tengah masyarakat.

Prinsip itulah yang kemudian mendorong dr. Fety bersama tim untuk melakukan kunjungan langsung ke desa-desa. Mereka mendatangi pasien, memantau kondisi kesehatan, memberikan edukasi serta membangun komunikasi dengan keluarga dan masyarakat.

Satu Dekade Mengabdi untuk Kesehatan Jiwa

Salah satu bagian penting dari perjalanan pengabdian dr. Fety selama satu dekade di Wera adalah pelayanan kesehatan jiwa.

Program tersebut telah dirintis sejak sekitar 10 tahun lalu untuk menjangkau masyarakat yang mengalami gangguan jiwa, terutama mereka yang tinggal jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan.

Baginya, pasien tidak boleh kehilangan hak mendapatkan pelayanan kesehatan hanya karena tinggal di wilayah terpencil.

Bersama tim Puskesmas Wera, ia melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah pasien untuk memantau kondisi, memastikan pengobatan berjalan, memberikan edukasi kepada keluarga dan melakukan koordinasi dengan pemerintah desa maupun tokoh masyarakat.

Pelayanan tersebut tidak hanya berorientasi pada pengobatan.Pendekatan juga diarahkan agar pasien dapat kembali diterima di lingkungan keluarga dan sosialnya.

“Awalnya memang tidak mudah. Kami harus melakukan pendekatan kepada keluarga dan masyarakat agar mereka memahami bahwa pasien gangguan jiwa juga memiliki hak untuk mendapatkan pengobatan dan didampingi hingga pulih. Perlahan-lahan kepercayaan masyarakat mulai tumbuh,” ungkapnya.

Menghadapi Stigma di Tengah Masyarakat

Pengabdian di bidang kesehatan jiwa memiliki tantangan tersendiri.

Selain persoalan jarak dan kondisi geografis, dr. Fety bersama tim juga harus menghadapi stigma terhadap penderita gangguan jiwa yang masih ditemukan di tengah masyarakat.

Karena itu, pendekatan kepada keluarga menjadi bagian penting dalam pelayanan.

Keluarga diberikan pemahaman mengenai kondisi pasien, pentingnya pengobatan serta dukungan yang dibutuhkan selama proses pemulihan.

Tim juga membangun komunikasi dengan pemerintah desa dan tokoh masyarakat agar pasien tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif. Langkah tersebut dilakukan secara bertahap.

Membangun kepercayaan masyarakat membutuhkan waktu. Apalagi pelayanan dilakukan dari rumah ke rumah dan bersentuhan langsung dengan persoalan pasien dan keluarganya. Ia menegaskan bahwa, keberhasilan pelayanan kesehatan jiwa tidak hanya diukur dari apakah pasien mendapatkan obat.

Lebih dari itu, keberhasilan terlihat ketika pasien dan keluarganya mulai memahami bahwa gangguan jiwa dapat ditangani dan pasien tetap memiliki hak untuk hidup layak di tengah masyarakat.

Buah dari Pengabdian

Setelah 10 tahun menjalani pengabdian di Wera, penghargaan Dokter Teladan NTB 2026 menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi tersebut.

Namun, ia tidak melihat penghargaan itu sebagai pencapaian pribadi semata.

Ia justru menyebut seluruh tenaga kesehatan Puskesmas Wera sebagai bagian penting dari perjalanan pengabdian tersebut.

Menurutnya, pelayanan kesehatan merupakan kerja bersama yang membutuhkan dukungan tenaga kesehatan, pemerintah desa, keluarga dan masyarakat.

Ke depan, ia berharap pelayanan kesehatan jiwa di Kabupaten Bima semakin diperkuat sehingga mampu menjangkau masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil.

“Harapan saya, pelayanan kesehatan jiwa semakin kuat dan menjangkau seluruh masyarakat, terutama mereka yang tinggal di wilayah terpencil. Dukungan keluarga dan masyarakat sangat penting agar pasien bisa pulih dan kembali menjalani kehidupan secara normal,” tuturnya.

Sepuluh tahun pengabdian dr. Fety di Wera menjadi gambaran bahwa pelayanan kesehatan tidak selalu tentang seberapa dekat seorang dokter dengan fasilitas kesehatan.

Kadang, pengabdian justru berarti menempuh jarak, mendatangi rumah pasien, membangun kepercayaan keluarga, melawan stigma dan memastikan masyarakat di pelosok tetap mendapatkan hak atas pelayanan kesehatan.

Dari pengabdian panjang itulah, dr. Fety Rahmawati akhirnya meraih Juara II Tenaga Medis Dokter Teladan Tingkat Provinsi NTB Tahun 2026 (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *