Bima, katada.id– Musisi sekaligus aktivis sosial Melanie Subono menyoroti dugaan praktik nepotisme di lingkungan Pemerintah Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Hal itu diungkap Melanie, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Rabu (2/7/2026).
Melanie mempertanyakan adanya seorang wali kota di Bima yang disebut melantik keluarga besar jadi pejabat strategis.
“Taukah kamu kalau di BIMA, ada Walikota yang melantik SEPUPUnya, kemudian ISTRI nya menjadi Sekdis dan kemudian IPAR nya menjadi Kabag Umum?” tulis Melanie.
Ia menegaskan dalam keterangannya bahwa dirinya hanya mengajukan pertanyaan.
“Nanya doang, kalo gak tau kan jadi tau. Gitu aja maksudnya,” ungkapnya.
Isu Nepotisme Viral
Unggahan Melanie itu dengan cepat viral dan jadi sorotan publik. Meskipun baru diposting, unggahan itu telah mendapat 4.914 tanda suka dan memicu ratusan komentar miring dari warganet.
Beragam tanggapan muncul di kolom komentar. Akun @itsmekkasma menulis, “Waahhh hebat yaa negara ini, aura nepotismenya kuat sekali.”
Sementara akun @missennodisini berkomentar, “Apakah di Bima sudah berubah menjadi Kerajaan atau masih Republik di sana?”
Wali Kota Bima: Jabatan Bukan Hadiah
Meskipun tidak menyebut nama, sorotan musisi dan aktivis nasional itu mengarah pada H. Arahman, H. Abidin, Wali Kota Bima. Orang nomor satu di kota Bima itu tengah jadi perbincangan usai melantik keluarganya menempati posisi strategis di Kota Bima
Terkini, Aji Man mengukuhkan istrinya Badrah Ekawati sebagai Sekertaris Dinas Kesehatan Kota Bima dan Iparnya M Auwalyah jadi Kepala Bagian (Kabag) Umum Setda Kota Bima.
Pelantikan istri dan ipar tersebut berlangsung Rabu (1/7) di Aula Maja Labo Dahu. Bersamaan dengan pengukuhan 87 pejabat lain. Informasi yang diperoleh katada.id, dalam gembong mutasi sebelumnya Wali Kota Bima melantik sepupunya jadi Pejabat.
Aji Man sapaan akrab Wali Kota Bima menegaskan bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan sekadar penghargaan atau hadiah.
Ia menekankan bahwa pelantikan tersebut bukan hanya memenuhi aspek administratif, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Semakin tinggi jabatan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul, bukan hanya kepada pemerintah dan masyarakat, tetapi juga kepada Allah SWT,” ujarnya dalam proses pelantikan tersebut. (*)












