Mataram, katada.id – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban insiden terbakarnya KMP Putri Yasmin di perairan Selat Lombok resmi ditutup pada hari kedelapan, Rabu (19/8). Penutupan dilakukan setelah operasi pencarian diperpanjang selama satu hari.
Selama delapan hari operasi, Tim SAR gabungan berhasil menyelamatkan 212 penumpang. Sementara satu korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Hingga operasi ditutup, empat korban lainnya masih dinyatakan hilang.
Upaya pencarian dilakukan secara maksimal dengan melibatkan unsur SAR dari berbagai instansi. Area pencarian tidak hanya mencakup perairan Selat Lombok, tetapi diperluas hingga wilayah perairan Bali dan perairan selatan Pulau Jawa.
Pencarian dilakukan melalui tiga sektor, yakni udara, laut, dan darat. Dari udara, tim mengerahkan Helikopter Finns SGi Air Bali, pesawat CASSA NC212-200 (U-6215) milik TNI Angkatan Laut, serta drone thermal.
Di sektor laut, sejumlah armada dikerahkan secara simultan, mulai dari kapal KN SAR, KAL, kapal penumpang, yacht, Rigid Buoyant Boat (RBB), hingga Rigid Inflatable Boat (RIB).
Sementara di darat, personel SAR menyisir garis pantai sekaligus menyebarkan informasi kepada nelayan dan masyarakat pesisir. Pemapelan serta penyebaran informasi kepada kapal-kapal yang melintas juga dilakukan melalui Vessel Traffic Service (VTS) Lembar.
Kepala Kantor SAR Mataram sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC), Muhamad Hariyadi, mengatakan seluruh upaya dan peralatan utama SAR telah dioptimalkan selama proses pencarian.
“Selama delapan hari, Tim SAR Gabungan telah berjuang secara maksimal baik dari udara, laut, maupun darat. Area pencarian telah diperluas mencakup perairan Lombok, Bali, hingga Jawa. Namun hingga Rabu (19/8) sore, hasilnya masih nihil dan keberadaan empat korban belum ditemukan,” ujar Hariyadi.
Meski operasi SAR resmi dihentikan, Hariyadi memastikan pemantauan terhadap kemungkinan keberadaan empat korban tetap dilakukan. Tim SAR juga akan terus berkoordinasi dengan seluruh potensi SAR, termasuk masyarakat nelayan.
Menurut dia, penutupan operasi bukan berarti seluruh upaya pencarian dihentikan selamanya. Jika nantinya ditemukan informasi, tanda-tanda, atau petunjuk baru terkait keberadaan korban, operasi SAR dapat kembali dibuka.
“Sesuai regulasi, operasi SAR resmi kami tutup. Namun, penutupan ini bukan berarti pemantauan dihentikan. Kami tetap melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan seluruh potensi SAR serta masyarakat nelayan. Apabila di kemudian hari ditemukan tanda-tanda atau informasi baru mengenai keberadaan korban, operasi SAR akan langsung kami buka kembali,” tegasnya.
Dengan berakhirnya operasi secara resmi, seluruh unsur potensi SAR yang terlibat dikembalikan ke kesatuan dan instansi masing-masing.
Basarnas Mataram menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh unsur yang telah terlibat dalam pencarian selama delapan hari. Sinergi lintas instansi dan masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam pelaksanaan operasi SAR terhadap insiden KMP Putri Yasmin tersebut. (*)












