Scroll untuk baca artikel
DaerahHukum dan KriminalPendidikan

Kampus Bukan Arena Kekerasan, PBAK UIN Mataram Berujung Pembacokan

×

Kampus Bukan Arena Kekerasan, PBAK UIN Mataram Berujung Pembacokan

Sebarkan artikel ini

Mataram, Katada.id – Ada ironi yang sulit diterima dari sebuah institusi pendidikan tinggi, ketika kegiatan pengenalan kehidupan akademik justru berakhir dengan kekerasan.

Insiden pembacokan dan pengeroyokan yang terjadi pada hari terakhir Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Mataram menjadi alarm serius bagi pengelola kampus. Berdasarkan keterangan yang disampaikan pihak pendamping korban, sejumlah mahasiswa mengalami luka akibat keributan tersebut. Mereka disebut mengalami luka di sejumlah bagian tubuh, termasuk akibat benda tajam dan pengeroyokan.

Jika informasi itu benar, persoalannya tidak lagi sebatas keributan antarmahasiswa. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Bagaimana benda tajam dapat dibawa masuk ke lingkungan kampus ketika kegiatan mahasiswa sedang berlangsung?.

Universitas seharusnya menjadi ruang tempat gagasan dipertukarkan tanpa rasa takut. Perbedaan pandangan diselesaikan melalui argumentasi, bukan dengan kekerasan. Tradisi intelektual dibangun melalui diskusi, bukan intimidasi.

Karena itu, masuknya senjata tajam ke lingkungan kampus merupakan persoalan yang tidak boleh dianggap sebagai insiden biasa. Kampus memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh mahasiswa dapat belajar, berorganisasi, dan menjalankan aktivitas akademik dalam situasi yang aman.

Muhammad Farhan, Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Pemuda (PTKP) HMI Cabang Mataram mengecam insiden tersebut. Ia menyebut pihaknya telah mendampingi korban dan melaporkan kejadian itu kepada kepolisian.

Menurut Farhan, terdapat sekitar 10 korban yang mengalami luka. Beberapa di antaranya disebut mengalami luka cukup serius, termasuk luka pada kepala, tangan, kaki, serta luka akibat pengeroyokan.

Keterangan tersebut tentu perlu diuji melalui proses hukum dan pemeriksaan yang objektif. Siapa pelaku, bagaimana kronologi sebenarnya, serta apa yang menjadi pemicu keributan harus dijelaskan secara terang. Jangan sampai kasus kekerasan di lingkungan pendidikan tinggi berhenti sebagai rumor, saling tuding, atau sekadar persoalan internal mahasiswa.

Di sinilah pentingnya sikap terbuka dari pimpinan universitas.

Rektor UIN Mataram perlu memberikan penjelasan kepada publik mengenai apa yang terjadi, langkah apa yang telah diambil, dan bagaimana kampus memastikan peristiwa serupa tidak terulang. Diam dalam situasi seperti ini justru dapat memperlebar ruang spekulasi.

Keamanan kampus juga perlu dievaluasi secara menyeluruh. Pengawasan terhadap akses keluar-masuk, kesiapan petugas keamanan, serta mekanisme pengamanan kegiatan yang melibatkan banyak mahasiswa harus diperiksa kembali.

PBAK semestinya menjadi pintu masuk mahasiswa baru untuk mengenal dunia akademik, budaya intelektual, organisasi, dan kehidupan kampus. Bukan menjadi ruang yang memperkenalkan mereka pada kekerasan.

UIN Mataram tidak cukup hanya memastikan kegiatan akademik berjalan. Ia juga harus memastikan bahwa kampus tetap menjadi ruang yang aman bagi siapa pun yang berada di dalamnya.

Sebab ketika senjata tajam bisa masuk ke kampus dan kekerasan terjadi di tengah aktivitas mahasiswa, yang terluka bukan hanya tubuh para korban. Yang ikut terluka adalah wibawa kampus sebagai ruang pendidikan.

Dan untuk persoalan sebesar itu, publik berhak mendapatkan jawaban yang jelas. (*)

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *