Mataram, katada.id – Dugaan penimbunan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis pertalite di Kabupaten Lombok Barat mulai diusut serius oleh Polresta Mataram. Sebanyak 16 jeriken berkapasitas 25 liter dan satu unit mobil pikap diamankan polisi dari Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar.
Kasus ini kini telah naik ke tahap penyidikan oleh Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satreskrim Polresta Mataram. Polisi juga mendalami kemungkinan keterlibatan pihak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dalam penyaluran BBM bersubsidi tersebut.
Kasat Reskrim Polresta Mataram, AKP I Made Dharma Yulia Putra mengatakan, pengusutan bermula dari laporan masyarakat yang langsung ditindaklanjuti petugas pada Selasa (20/10).
“Jadi, penyidikan dilakukan tim Unit Tipidter,” kata Dharma di Mataram, Rabu (21/10/2026).
Dari penindakan di lokasi, polisi mengamankan 16 jeriken berkapasitas masing-masing 25 liter beserta kendaraan pikap yang digunakan untuk mengangkut pertalite.
“Barang bukti sudah diamankan di Polresta Mataram” ujarnya.
Saat ini, penyidik masih memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap asal-usul BBM tersebut dan jalur distribusinya. Sopir pikap yang mengangkut jeriken menjadi salah satu pihak yang dimintai keterangan.
Polisi juga mendalami dugaan keterlibatan SPBU yang menjadi sumber pasokan pertalite. Langkah ini dilakukan untuk menelusuri kemungkinan adanya penyimpangan dalam distribusi BBM bersubsidi.
Meski penyidikan terus berjalan, polisi belum menetapkan tersangka dalam perkara tersebut. Penyidik masih mengumpulkan keterangan dan bukti untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab.
“Yang jelas masih kami tangani, dan barang bukti (BBM) kini kami amankan di Mapolresta Mataram,” tegas Dharma.
Dugaan penyelewengan pertalite juga tengah diusut polisi di lokasi lain di Lombok Barat. Unit Tipidter Satreskrim Polresta Mataram menangani kasus serupa di Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari.
Dalam pengungkapan di lokasi tersebut, polisi menyita 19 jeriken berisi pertalite dengan kapasitas masing-masing 25 liter.
Dharma menegaskan, penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas dugaan penimbunan BBM bersubsidi tersebut. (*)












