Mataram, katada.id – Perjalanan hidup Kolonel Pnb Supriyanto hingga dipercaya menjabat sebagai Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) tidak terlepas dari proses panjang pengabdian di lingkungan TNI Angkatan Udara.
Lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 2000 itu tumbuh dari keluarga transmigran. Ia lahir pada 22 April 1979 di Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Meski ibunya sempat mengandung di Yogyakarta, masa kelahiran dan pertumbuhannya berlangsung di Kalimantan Selatan.
Supriyanto menghabiskan masa kecil hingga menyelesaikan pendidikan dasar di Banjarmasin. Dari kota tersebut, langkahnya berlanjut ke dunia militer setelah memutuskan menempuh pendidikan di AAU.
Karier militernya mulai memasuki fase operasional setelah menyelesaikan pendidikan penerbang. Pada 2003, ia mendapat penugasan pertama di Pontianak, Kalimantan Barat, sebagai penerbang pesawat tempur Hawk 100/200 buatan Inggris.
Pengabdiannya di Pontianak berlangsung hampir 16 tahun. Selama bertugas di sana, Supriyanto melewati berbagai jenjang kepangkatan dan jabatan hingga dipercaya menjadi Komandan Skadron Udara 1 pada 2018.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya di lingkungan satuan tempur TNI AU.
Setelah bertahun-tahun bertugas di Pontianak, Supriyanto mendapat penugasan di sejumlah wilayah dengan tanggung jawab yang berbeda.
Pada 2019, ia dipercaya menjadi Komandan Skadron Taruna di Yogyakarta selama satu tahun tiga bulan. Setahun kemudian, ia bertugas di Kohanudnas, yang kemudian bertransformasi menjadi Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas).
Pada 2020, Supriyanto kembali bertugas di Pontianak sebagai Kepala Dinas Operasi (Kadisops). Kariernya berlanjut dengan menjabat Komandan Wing Udara 7 setelah menyelesaikan pendidikan di Sesko TNI pada 2023.
Ia kemudian mendapat penugasan sebagai Wakil Komandan Grup 3 Tempur di Madiun. Di tengah perjalanan dinasnya, Supriyanto juga dipercaya menjadi Komandan Satuan Tugas Udara dalam operasi pengamanan di Timika, Papua, selama tiga bulan.
Pengalaman di berbagai satuan tersebut memperkaya rekam jejaknya, mulai dari penerbangan pesawat tempur, pengelolaan operasi udara, pendidikan, hingga penugasan operasi di wilayah Papua.
Rangkul Wartawan di Awal Penugasan
Setelah menyelesaikan tugas di Madiun, Supriyanto mendapat amanah baru sebagai Komandan Lanud ZAM. Ia menjalani serah terima jabatan di Makassar pada 21 Oktober 2026
Memasuki hari-hari awal bertugas di Nusa Tenggara Barat (NTB), Supriyanto mulai membangun komunikasi dengan insan pers. Dalam wawancara pada Kamis (29/10/2026), ia menekankan pentingnya peran media dalam menyampaikan informasi kegiatan dan pengabdian TNI AU kepada masyarakat.
Komandan Lanud ZAM, Kolonel Pnb Supriyanto saat menyampaikan sambutan pada kegiatan silahturahmi dengan insan pers.
Menurutnya, kerja keras personel di lapangan perlu disampaikan kepada publik agar masyarakat mengetahui berbagai kegiatan yang dilakukan institusi TNI AU.
“Kita kerja jungkir balik berdarah-darah di lapangan, tapi kalau media tidak mempublikasikannya, ya sama saja seperti kita tidak kerja. Bagi saya, wartawan adalah mitra utama,” ungkapnya.
Ia menilai wartawan memiliki peran penting dalam menjembatani informasi antara institusi dan masyarakat. Karena itu, hubungan yang baik dengan media menjadi salah satu hal yang perlu dibangun dalam pelaksanaan tugasnya sebagai komandan pangkalan udara.
Bagi Supriyanto, pengabdian di TNI AU tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan tugas operasional, tetapi juga bagaimana masyarakat memperoleh informasi mengenai kegiatan institusi secara tepat.
Dengan pengalaman panjang sebagai penerbang pesawat tempur, sejumlah jabatan strategis, serta penugasan operasi di berbagai wilayah Indonesia, Supriyanto kini melanjutkan pengabdiannya di Lanud ZAM.
Di tempat tugas barunya, ia dihadapkan pada tanggung jawab untuk menjalankan tugas TNI AU sekaligus memperkuat komunikasi dan sinergi dengan berbagai pihak, termasuk insan pers, di Nusa Tenggara Barat. (*)












