Scroll untuk baca artikel
Daerah

Buka Festival Literasi Dompu, Bambang Firdaus: Bangun Peradaban dari Budaya Membaca

×

Buka Festival Literasi Dompu, Bambang Firdaus: Bangun Peradaban dari Budaya Membaca

Sebarkan artikel ini

Dompu, katada.id — Bupati Dompu, Bambang Firdaus, menegaskan pentingnya membangun budaya literasi sebagai fondasi kemajuan daerah. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), generasi muda Dompu dinilai perlu kembali memperkuat kedekatan dengan buku, pengetahuan, dan budaya membaca.

Pesan itu disampaikan Bambang saat membuka Festival Literasi Dompu Tahun 2026, Selasa (3/11/2026).

Festival yang berlangsung selama tiga hari, 3–5 November 2026, mengusung tema “Literasi Maju Dompu Cerdas, Sains, Budaya dan Kreativitas untuk Masa Depan”.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat budaya membaca, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperluas akses masyarakat terhadap perpustakaan dan bahan bacaan.

Dalam sambutannya, Bambang menekankan bahwa literasi tidak boleh dipahami sebatas kemampuan membaca dan mengeja huruf. Literasi, menurutnya, mencakup kemampuan menggali, menganalisis, memahami, hingga mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat.

Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap semakin berkurangnya kedekatan anak-anak dengan buku di tengah dominasi gadget dan perkembangan teknologi digital.

“Anak-anak kita sekarang sudah semakin jauh dari buku. Ini menjadi kekhawatiran kita bersama. Di tengah perkembangan digitalisasi yang begitu pesat, kita harus mencari cara agar anak-anak kembali mencintai kegiatan membaca,” tegas politisi Gerindra ini.

Menurutnya, Festival Literasi Dompu harus menjadi momentum untuk mengubah pola dan pendekatan pembelajaran. Budaya membaca perlu ditempatkan sebagai fondasi pembentukan generasi yang berpengetahuan, kreatif, berdaya saing, sekaligus memiliki karakter dan identitas daerah.

Bambag juga mengingatkan bahwa membangun budaya literasi bukan semata-mata tanggung jawab sekolah. Keluarga, terutama orang tua, memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan membaca sejak dini.

“Ini merupakan tugas kolektif kita. Bukan hanya sekolah yang bertanggung jawab, tetapi peran orang tua di rumah justru sangat penting. Mari kita mulai membangun budaya membaca dari rumah tangga kita sendiri,” ajaknya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, perlu memperluas akses terhadap bahan bacaan melalui pendekatan jemput bola. Buku dan layanan perpustakaan harus semakin dekat dengan masyarakat, tidak hanya terpusat di perpustakaan, tetapi juga menjangkau sekolah, desa, hingga lingkungan keluarga.

Upaya tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi Dompu yang cerdas, kreatif, memiliki wawasan luas, serta tetap menjunjung tinggi nilai budaya dan identitas daerah.

Lima Gerakan Strategis Literasi dan Kearsipan

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Dompu, Muhamad Abduh, SE., M.Si., dalam laporannya menyampaikan bahwa Festival Literasi Dompu 2026 dirancang sebagai ruang kolaborasi pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Selain mendorong budaya membaca, festival ini juga memberikan ruang apresiasi dan kreativitas bagi seniman, pelajar, serta berbagai kalangan masyarakat untuk menampilkan potensi, bakat, dan karya mereka.

Pada kesempatan tersebut, pemerintah daerah juga meluncurkan lima program strategis untuk memperkuat gerakan literasi dan kearsipan.

Kelima program itu meliputi Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Perpustakaan Go to School, Gerakan Literasi Desa, Gerakan Donasi Buku, serta Gerakan Kearsipan Diaktif.

Pelaksanaan program tersebut didukung dengan Peraturan Bupati tentang Tata Kelola Kearsipan dan Tata Kelola Perpustakaan. Dukungan pembiayaan juga disebut bersumber dari APBD Perubahan dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

Melalui program tersebut, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah berkomitmen memperluas jangkauan pelayanan perpustakaan sekaligus menghidupkan budaya literasi hingga tingkat desa dan satuan pendidikan.

Festival Literasi Dompu 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial selama tiga hari. Pemerintah daerah menargetkan kegiatan ini menjadi titik awal gerakan bersama untuk memperkuat tradisi membaca dan membangun generasi yang berkarakter serta mampu menghadapi tantangan masa depan. (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *