Lombok Timur, katada.id – Fenomena hamparan es yang menyerupai salju kembali menyelimuti kawasan Pelawangan Sembalun, jalur pendakian menuju Gunung Rinjani. Fenomena yang muncul akibat suhu dingin ekstrem tersebut menjadi perhatian setelah diunggah melalui akun resmi Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
Dalam video yang dibagikan TNGR, lapisan es tampak menempel di sejumlah tenda milik pendaki serta menutupi rerumputan kering di sekitar kawasan Pelawangan Sembalun. Pemandangan tersebut menjadi fenomena tahunan yang kerap terjadi saat musim kemarau.
Kepala Subbagian Tata Usaha TNGR, Astekita Ardiaristo mengatakan, kemunculan es di kawasan Gunung Rinjani bukanlah hal baru. Menurutnya, fenomena tersebut terjadi hampir setiap tahun akibat suhu udara yang sangat rendah di kawasan pegunungan.
“Fenomena es ini biasanya terjadi setiap tahun karena cuacanya sangat dingin di atas,” ujar Astekita kepada wartawan, Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan, lapisan es umumnya terbentuk pada musim kemarau ketika tingkat kelembapan udara rendah dan panas yang tersimpan di permukaan bumi cepat dilepaskan pada malam hari. Kondisi tersebut menyebabkan suhu turun drastis hingga memicu terbentuknya embun beku.
Meski demikian, fenomena tersebut tidak memengaruhi aktivitas pendakian di Gunung Rinjani. TNGR memastikan hingga saat ini belum ada pembatasan pendakian, namun para pendaki diminta mempersiapkan diri dengan baik sebelum melakukan pendakian.
“Untuk sementara tidak ada pembatasan pendakian. Hanya saja kami mengimbau para pendaki untuk menyiapkan diri sebelum naik,” katanya.
Astekita mengingatkan bahwa suhu dingin ekstrem di jalur pendakian berpotensi meningkatkan risiko hipotermia apabila pendaki tidak membawa perlengkapan yang memadai. Karena itu, pendaki diminta menggunakan perlengkapan khusus untuk cuaca dingin, seperti jaket hangat, sarung tangan, sleeping bag sesuai standar, serta tenda yang mampu menahan suhu rendah.
Selain perlengkapan, TNGR juga mengimbau pendaki membawa persediaan makanan dan minuman hangat yang cukup guna menjaga kondisi tubuh selama berada di jalur pendakian.
“Jangan lupa juga asupan makanan dan minuman hangat yang cukup untuk menjaga energi tubuh supaya tidak terkena hipotermia,” tutup Astekita. (*)












