Mataram, katada.id – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal (LMI) resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB periode 2026–2030. Pencalonan tersebut membuat kontestasi perebutan kursi Ketua KONI NTB mengerucut pada dua kandidat, yakni LMI dan petahana Mori Hanafi.
Tim pemenangan Mori Hanafi mengapresiasi langkah Miq Iqbal sekaligus meminta seluruh proses pemilihan berlangsung damai dan sportif. Tim Mori juga mengingatkan agar tidak ada upaya memengaruhi Pengurus Provinsi (Pengprov) cabang olahraga (cabor) untuk mengubah dukungan atau memberikan dukungan ganda.
Ketua Tim Pemenangan Mori Hanafi, Karina De Vega, mengatakan pihaknya menghargai keputusan Gubernur maju dalam kontestasi Ketua KONI NTB.
“Kami sangat mengapresiasi dan menghargai beliau sudah mendaftar sebagai calon Ketua KONI NTB 2026–2030,” kata Karina, Jumat (14/8/2026).
Karina berharap setelah dua kandidat resmi masuk dalam bursa, tidak ada lagi manuver yang berpotensi memengaruhi pilihan Pengprov cabor maupun KONI kabupaten/kota.
Ia secara khusus meminta tidak ada upaya mendorong cabor yang sebelumnya telah memberikan dukungan kepada Mori Hanafi untuk kembali memberikan dukungan kepada kandidat lain.
“Biarlah semua berjalan dengan cara sportif. Tidak ada lagi telepon-telepon kepada cabor untuk memberikan dukungan ganda,” tegasnya.
Menurut Karina, pihaknya meyakini jika terdapat manuver atau tekanan terhadap cabor, hal tersebut bukan merupakan arahan langsung dari Gubernur NTB. Ia menilai sportivitas harus menjadi prinsip utama dalam kontestasi olahraga.
“Sebagai insan olahraga, tidak ada lain yang kita junjung selain sportivitas. Tidak ada intervensi,” ujarnya.
Ia juga mengatakan Pengprov cabor sebagai pemilik suara sah harus diberi kebebasan menentukan pilihan berdasarkan hati nurani, rekam jejak, dan pengalaman masing-masing kandidat dalam pembinaan olahraga NTB.
“Biar semua cabor bebas mengikuti hati nuraninya. Mereka bisa melihat apa yang mereka alami dalam perjalanan pembinaan olahraga. Pengprov cabor sebagai pemilik suara sah tentu bisa menimbang dengan bijak siapa yang layak mereka tunjuk menjadi pemimpin,” katanya.
Karina mengakui dinamika menjelang Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI NTB dalam beberapa hari terakhir cukup meresahkan. Berbagai manuver politik olahraga dinilai berpotensi mengganggu semangat sportivitas dalam proses pemilihan.
“Kalau kita memulai suatu pertandingan dengan sudah tidak adanya sportivitas, saya pikir itu perlu dipertanyakan,” katanya.
Dengan Iqbal telah resmi mendaftarkan diri, Karina mengatakan pihaknya menyerahkan proses berikutnya kepada Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) serta peserta Musorprov.
“Dengan beliau sudah maju, oke, kita serahkan kepada TPP, nanti kepada anggota cabor di Musyawarah Provinsi. Siapa yang akan dipilih, itu saja,” tandasnya.
Sementara itu, Lalu Muhamad Iqbal menegaskan pencalonannya sebagai Ketua KONI NTB tidak didasari motif lain. Ia menyebut fokus utamanya adalah mempersiapkan NTB menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028 yang akan digelar di NTB dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Miq Iqbal ingin KONI NTB ke depan dikelola dengan semangat kebersamaan sehingga pembinaan atlet dapat berjalan lebih maksimal dan prestasi olahraga NTB terus meningkat.
“Motivasi saya dan teman-teman semua sama, yaitu ingin menyukseskan PON 2028 dan memastikan prestasi atlet NTB terus meningkat. Kita harus menjadi tuan rumah yang baik dan berhasil secara prestasi,” tegasnya.
Kontestasi Ketua KONI NTB periode 2026–2030 selanjutnya akan ditentukan melalui mekanisme Musorprov, dengan Pengprov cabor dan pemilik suara sah memiliki kewenangan menentukan pilihan (*)












