Oleh: Dr. Ufran, SH.,MH (Ketua Departemen Hukum Pidana FHISIP Unram)
Mataram, katada.id- Ada jenis cerita yang hampir selalu laku di media sosial: kesalahan orang lain.
Seorang suami tertangkap berselingkuh. Seorang perempuan mengamuk di tempat umum. Dua orang bertengkar di jalan. Seorang pejabat mengucapkan kalimat yang dianggap tidak pantas. Seorang anak muda melakukan sesuatu yang memalukan. Tak lama kemudian, telepon genggam diangkat, kamera dinyalakan, dan peristiwa yang semula hanya disaksikan beberapa orang berpindah ke layar ribuan, bahkan jutaan orang.
Cerita tidak berhenti pada video pertama.
Potongannya diunggah ulang. Muncul versi slow motion. Ada tangkapan layar. Ada akun yang mengulik identitas. Ada yang mencari keluarga, pekerjaan, bahkan masa lalu orang tersebut. Lalu bermunculan video reaksi, parodi, meme dan konten lanjutan.
Pada titik tertentu, kita mungkin bahkan sudah lupa apa persoalan awalnya. Yang tersisa adalah tontonan. Di situlah aib berubah menjadi konten.
Kesalahan yang Tidak Pernah Benar-benar Selesai
Gosip tentu bukan ciptaan internet. Manusia telah membicarakan kehidupan manusia lain jauh sebelum media sosial ditemukan. Yang berubah adalah kemampuan, kita menyimpan dan menyebarkannya.
Daniel J. Solove menggambarkan perubahan ini dengan sangat baik dalam The Future of Reputation. Internet membuat informasi yang dahulu bersifat lokal, tercecer dan akhirnya terlupakan menjadi permanen, mudah dicari dan dapat disebarkan tanpa batas (Solove, 2007).
Solove mengangkat kisah yang kemudian terkenal sebagai Dog Poop Girl. Seorang perempuan di Korea Selatan tidak membersihkan kotoran anjingnya di kereta. Tindakannya memang tidak terpuji. Namun, setelah fotonya masuk ke internet, persoalannya berubah sama sekali. Identitasnya ditelusuri, fotonya disebarkan, parodi bermunculan, dan ia menjadi sasaran penghukuman publik yang jauh melampaui kejadian awal (Solove, 2007).
Pertanyaan menariknya bukan apakah perempuan itu salah. Ia memang melakukan kesalahan.
Pertanyaannya: seberapa besar hukuman sosial yang pantas diberikan untuk sebuah kesalahan?
Dalam kehidupan sehari-hari, kesalahan biasanya mempunyai akhir. Orang melihat, menegur, marah, lalu suatu hari melupakannya. Internet tidak bekerja seperti itu. Satu kesalahan dapat terus hidup bahkan setelah orang yang melakukannya berubah.
Solove menyebut keadaan ini menyerupai digital scarlet letter, semacam cap digital yang terus melekat. Persoalannya menjadi lebih berat ketika yang semula adalah ‘ia melakukan sesuatu yang buruk’ berubah menjadi ‘ia adalah orang buruk’ (Solove, 2007).
Di dunia digital, satu peristiwa dapat mengambil alih seluruh identitas seseorang.
Kita tidak lagi mengenalnya sebagai manusia dengan puluhan tahun kehidupan, pekerjaan, keluarga, kebaikan, kekurangan, dan kemungkinan berubah. Kita mengenalnya sebagai ‘orang dalam video itu’.
Dari Penghukuman Menjadi Hiburan
Ada hal lain yang lebih mengganggu. Tidak semua aib disebarkan karena masyarakat ingin memperbaiki keadaan. Tidak semua pula disebarkan karena memiliki kepentingan publik.
Kadang-kadang kita membagikannya karena lucu. Kadang karena membuat geram. Kadang karena ingin melihat apa komentar orang lain. Kadang juga karena, entah mengapa, penderitaan dan rasa malu manusia lain dapat menjadi hiburan.
Maria Murumaa-Mengel dan Kaarel Lott menyebut fenomena ini recreational shaming: tindakan mempermalukan orang lain yang dikemas sebagai humor dan aktivitas bersama, dengan hiburan serta rasa kebersamaan kelompok sebagai motif penting (Murumaa-Mengel & Lott, 2023).
Istilah itu terasa dekat dengan perilaku kita sehari-hari di media sosial. Seseorang mengunggah potongan video. Orang lain membuat lelucon. Yang berikutnya mencoba komentar lebih lucu. Ada yang menambahkan meme. Ada yang menandai temannya. Ada yang membagikannya ke grup keluarga.
Tidak seorang pun mungkin merasa dirinya sedang menghancurkan kehidupan seseorang. Alibinya, cuma share. Cuma komentar. Cuma bercanda.
Masalahnya, kerumunan digital memang selalu tersusun dari ribuan orang yang merasa dirinya cuma melakukan sedikit. Penelitian Murumaa-Mengel dan Lott menunjukkan bahwa humor, sarkasme, ironi, dan persaingan mendapatkan respons merupakan bagian penting dari praktik online shaming (Murumaa-Mengel & Lott, 2023).
Satu komentar mungkin tidak berarti banyak. Namun, sepuluh ribu komentar bukan lagi sekadar bercanda. Satu kali membagikan mungkin terasa kecil. Tetapi ketika puluhan ribu orang melakukan hal yang sama, seseorang di ujung layar dapat menghadapi sesuatu yang sama sekali berbeda dari yang kita rasakan sebagai pengguna: penghukuman massal.
Menyukai Kemarahan
Mengapa konten semacam ini begitu mudah menyebar? Salah satu jawabannya adalah karena aib sering kali membawa muatan moral. Kita tidak hanya menonton. Kita menilai. Kurang ajar. Tidak tahu malu. Pantas dihukum. Biar viral sekalian.
Kemarahan terhadap pelanggaran moral sebenarnya mempunyai fungsi sosial. Molly Crockett menjelaskan bagaimana moral outrage membantu manusia menanggapi pelanggaran norma, tetapi teknologi digital mengubah cara kemarahan itu diproduksi dan diekspresikan (Crockett, 2017).
Media sosial membuat reaksi moral sangat mudah dilakukan. Tidak perlu turun ke jalan. Tidak perlu berhadapan dengan orang yang sedang kita hakimi. Cukup satu komentar, satu tombol share, atau satu unggahan ulang.
Masalah muncul ketika kecaman terhadap perbuatan perlahan berubah menjadi kenikmatan menyaksikan pelakunya dihancurkan. Kita tentu berhak mengatakan perselingkuhan itu salah. Kekerasan salah. Penipuan salah. Pelecehan salah. Namun, mengatakan sebuah tindakan salah tidak selalu berarti seluruh kehidupan orang yang melakukannya harus dibongkar.
Di sinilah kita sering sulit membedakan dua hal: kepentingan publik dan rasa ingin tahu publik. Keduanya tidak sama. Ada informasi yang memang perlu diketahui masyarakat karena menyangkut keselamatan, penyalahgunaan kekuasaan, tindak pidana, atau kepentingan bersama.
Namun, ada pula informasi yang sebenarnya tidak memiliki manfaat sosial berarti selain memuaskan keinginan kita untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan orang lain.
Sayangnya, yang kedua sering kali jauh lebih menarik.
Salah, Tetapi Tetap Manusia
Perdebatan menjadi rumit karena orang yang dipermalukan memang tidak selalu tidak bersalah. Di sinilah tulisan Anne S.Y. Cheung tentang online shaming menarik. Ia menunjukkan bagaimana internet dapat mengubah penghukuman sosial menjadi pencarian identitas, pembongkaran informasi pribadi, penghinaan, dan semacam pengadilan massa yang bahkan dapat berlanjut menjadi gangguan di kehidupan nyata (Cheung, 2012).
Namun, Cheung membawa pertanyaan itu lebih jauh. Apakah seseorang yang salah kemudian kehilangan martabatnya. Apakah orang yang berselingkuh otomatis kehilangan seluruh hak atas kehidupan pribadinya. Apakah orang yang melakukan tindakan memalukan boleh dipermalukan tanpa batas.
Cheung membedakan reputasi dan martabat. Reputasi bergantung pada bagaimana orang lain melihat kita. Martabat, sebaliknya, melekat pada manusia sebagai manusia (Cheung, 2012). Perbedaan itu penting.
Seseorang dapat bersalah dan tetap mempunyai martabat. Seseorang dapat melakukan tindakan buruk tanpa harus selamanya direduksi menjadi tindakan buruk tersebut.
Kita bisa mengecam tanpa merendahkan. Kita bisa meminta pertanggungjawaban tanpa menjadikan seseorang tontonan. Dan kita bisa membicarakan sebuah peristiwa tanpa harus mengorek seluruh kehidupan pribadi orang yang terlibat di dalamnya.
Tidak Semua Harus Diunggah
Teknologi membuat hampir semua orang hari ini mempunyai kemampuan yang dahulu hanya dimiliki media.
Kita bisa merekam. Kita bisa menerbitkan. Kita bisa menjangkau ribuan orang. Kita bahkan bisa membuat sebuah peristiwa menjadi viral dalam hitungan jam.
Tetapi kemampuan untuk memublikasikan sesuatu tidak sama dengan kewajiban untuk memublikasikannya. Mungkin etika bermedia sosial justru dimulai dari pertanyaan yang sangat sederhana sebelum menekan tombol unggah:
Apakah orang lain perlu mengetahui ini? Bukan sekadar: Apakah orang lain akan tertarik melihat ini?
Dua pertanyaan itu terlihat mirip, tetapi jawabannya dapat sangat berbeda.
Media profesional setidaknya mengenal gagasan bahwa rasa ingin tahu pembaca bukan satu-satunya ukuran kepentingan publik.
Solove bahkan menunjukkan bahwa dalam perkembangan jurnalisme muncul berbagai norma untuk menahan diri dalam memublikasikan kehidupan pribadi seseorang (Solove, 2007).
Ironisnya, di zaman ketika hampir setiap orang menjadi ‘media’, kemampuan menahan diri itu justru semakin penting.
Kita mungkin perlu belajar kembali bahwa tidak semua hal harus menjadi konten. Tidak setiap pertengkaran harus direkam. Tidak setiap kesalahan perlu diviralkan. Tidak setiap fakta benar harus disebarkan. Dan tidak setiap aib membutuhkan penonton.
Sebab orang yang sedang kita tertawakan di layar itu tetaplah manusia. Ia mempunyai keluarga, pekerjaan, masa depan dan kehidupan yang tetap berjalan setelah perhatian kita berpindah ke video viral berikutnya.
Kita mungkin melupakannya dalam tiga hari. Internet belum tentu.
Pada akhirnya, masyarakat yang beradab bukan masyarakat yang menutup-nutupi kesalahan. Kesalahan tetap harus dikritik dan jika melanggar hukum, dipertanggungjawabkan. Namun, ada perbedaan antara membuka kesalahan untuk kepentingan publik dan memelihara rasa malu seseorang untuk kepentingan tontonan. Perbedaan itulah yang mulai kabur ketika aib sudah menjadi konten. (*)












