Scroll untuk baca artikel
Opini

Membaca Kerusakan Lingkungan NTB Melalui Kacamata Jared Diamond

×

Membaca Kerusakan Lingkungan NTB Melalui Kacamata Jared Diamond

Sebarkan artikel ini
Fahrun Khomeini, Direktur Laksar Akselerasi NTB. (Istimewa)

Oleh: Fahrun Khomeini

Mataram, katada.id – Perubahan iklim NTB mengingatkan kita pada buka karya monumental Profesor Jared Diamond, Collapse. Untuk memahami kemana arah akhir dari akumulasi kerusakan ini.

Akhir-akhir ini NTB sedang berhadapan dengan perubahan iklim, tetapi persoalan terbesarnya bukan semata-mata bahwa suhu bumi meningkat atau pola hujan berubah. Persoalan yang jauh lebih serius adalah apakah kebijakan pembangunan kita masih dibangun berdasarkan asumsi bahwa alam akan selalu menyediakan apa yang kita butuhkan.

​Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Di balik narasi gemerlap tentang pertumbuhan ekonomi, sirkuit internasional, dan eksotisme destinasi wisata global, tersimpan kerentanan ekologis yang kian menganga.
Deforestasi yang meluas demi komoditas jagung, degradasi lahan akibat pertambangan skala besar maupun tanpa izin, serta krisis air bersih yang mulai mencekik kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil tentunya bukanlah fenomena yang berdiri sendiri.

Dalam buku tersebut, Diamond membedah bagaimana peradaban-peradaban besar masa lalu mulai dari masyarakat Pulau Paskah, Maya di Amerika Tengah, hingga bangsa Norse di Greenland mengalami kepunahan bukan sekadar karena faktor eksternal, melainkan karena kegagalan mereka sendiri dalam mengelola lingkungan hidup.

Eksploitasi Lahan dan Ancaman Ekosistem Rapuh ​salah satu tesis utama Diamond dalam Collapse adalah bahwa masyarakat sering kali runtuh karena mereka memperlakukan ekosistem yang rapuh dengan cara yang tidak berkelanjutan, didorong oleh kebutuhan jangka pendek yang eksponensial.

Di NTB, gejala ini terlihat sangat nyata pada fenomena alih fungsi lahan masif di perbukitan dan hulu sungai untuk penanaman komoditas monokultur, terutama jagung, serta aktivitas pertambangan..

​Masyarakat NTB seolah lupa bahwa karakteristik geografis kepulauan memiliki batas daya dukung (carrying capacity) yang jauh lebih ketat dibandingkan daratan utama (mainland). Kepulauan kecil tidak memiliki kemewahan ruang untuk memulihkan diri jika tangkapan air di hulu habis dikupas.

Mengapa kerusakan ini terus dibiarkan? Diamond memberikan jawaban sosiologis yang sangat menohok dalam bab “Roadmap of Failures”. Ia menjelaskan bahwa kelompok elit atau masyarakat sering kali gagal mengantisipasi masalah sebelum masalah itu muncul, atau gagal meresponsnya ketika masalah itu sudah di depan mata karena adanya “konflik kepentingan rasional”.

​Di NTB, konflik kepentingan ini mewujud dalam pilihan kebijakan pembangunan yang bias pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Kebijakan insentif pertanian atau pembiaran tambang ilegal sering kali dipelihara demi mengejar target pendapatan daerah atau pemenuhan kebutuhan ekonomi instan masyarakat, sembari mengabaikan biaya pemulihan ekologis (ecological cost) yang jauh lebih mahal di masa depan.

Diamond menyebutnya sebagai kegagalan institusional dalam melakukan perencanaan jangka panjang. Ketika keuntungan dinikmati oleh segelintir aktor atau generasi hari ini, namun biayanya dibebankan kepada alam dan generasi masa depan, maka keruntuhan tinggal menunggu waktu.

​Masyarakat yang runtuh sering kali runtuh bukan karena mereka tidak tahu cara menyelesaikannya, melainkan karena nilai-nilai yang mereka pegang membuat mereka enggan mengambil keputusan sulit untuk berubah.” Jared Diamond, Collapse
​Menghindari Nasib Pulau Paskah di Bumi Gora.

​Kasus Pulau Paskah (Easter Island) dalam buku Collapse adalah analogi yang paling menakutkan sekaligus relevan untuk NTB. Masyarakat Pulau Paskah menebang pohon terakhir di pulau mereka demi mendirikan patung-patung Moai (simbol prestise dan spiritualitas mereka). Mereka tidak menyadari bahwa tanpa pohon, mereka tidak bisa membuat sampan untuk menangkap ikan, erosi tanah menghancurkan pertanian, dan kelaparan massal memicu perang saudara yang memusnahkan peradaban mereka.

Apakah NTB sedang menuju ke sana? Jika “patung Moai” versi modern kita adalah proyek-proyek infrastruktur megah dan eksploitasi sumber daya alam tanpa batas yang mengorbankan hutan lindung dan sumber mata air, jawabannya adalah, Ya, kita sedang berjalan di jalur yang sama.

​Namun, Diamond tidak menulis Collapse untuk menyebarkan pesimisme buta. Ia juga menyertakan kisah-kisah sukses (success stories), seperti masyarakat Tikopia atau Jepang pada era Tokugawa, yang berhasil selamat karena mereka berani melakukan evaluasi radikal terhadap nilai-nilai mereka dan menerapkan pembatasan ketat terhadap penggunaan sumber daya alam.

Kerusakan lingkungan di NTB bukanlah takdir tuhan, melainkan akumulasi dari pilihan-pilihan kolektif kita. Seperti judul buku Diamond, masyarakat bisa memilih untuk gagal atau memilih untuk berhasil. Jika kita terus menutup mata terhadap hilangnya pohon-pohon di perbukitan dan mengeringnya mata air, kita sedang memilih untuk gagal. Saatnya NTB memilih untuk selamat dengan menempatkan keadilan ekologis di atas segalanya.

Kebijakan publik harus mampu membaca gejala sebelum menjadi tragedi. Itulah salah satu pelajaran terpenting dari Collapse. Sebuah masyarakat tidak selalu gagal karena tidak mengetahui masalahnya.

Kadang-kadang masyarakat gagal karena orang-orang yang mengetahui masalah tersebut tidak cukup kuat untuk mengubah keputusan politik. (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *