Scroll untuk baca artikel
Nasional

Mori Hanafi: Tim Gabungan Bekerja Tanpa Lelah Evakuasi Pesawat ATR

×

Mori Hanafi: Tim Gabungan Bekerja Tanpa Lelah Evakuasi Pesawat ATR

Sebarkan artikel ini
Mori Hanafi (Istimewa)

Jakarta, katada.id – Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Mori Hanafi, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tim SAR gabungan yang terus berjibaku melakukan pencarian dan evakuasi korban tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Tim gabungan tersebut terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, relawan, serta unsur terkait lainnya yang hingga kini masih bekerja di tengah medan terjal dan cuaca yang tidak bersahabat.

“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada tim SAR, TNI, Polri, serta seluruh tim gabungan yang bekerja tanpa lelah di lapangan demi misi kemanusiaan,” kata Mori dalam keterangannya, Senin (19/1/2026).

Selain itu, legislator Komisi V DPR RI tersebut juga menyampaikan duka mendalam dan simpati kepada seluruh keluarga korban pesawat yang dilaporkan hilang kontak dan diduga jatuh di kawasan pegunungan Maros.

“Kami turut berbelasungkawa dan bersimpati kepada seluruh keluarga korban. Semoga diberikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran dalam menghadapi musibah ini,” ujarnya.

Diketahui, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak pada 17 Januari 2026 sekitar pukul 13.17 WITA. Pesawat tersebut terbang dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Pesawat membawa 11 orang, terdiri atas delapan kru dan tiga penumpang, termasuk staf Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hingga kini, tim SAR gabungan telah menemukan satu jenazah di jurang sedalam sekitar 200 meter, sementara proses pencarian korban lainnya masih terus dilakukan.

Operasi pencarian melibatkan ratusan personel dengan dukungan helikopter, drone, serta kendaraan darat di kawasan Pegunungan Bantimurung–Bulusaraung, Maros.

Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menduga kecelakaan tersebut masuk kategori Controlled Flight Into Terrain (CFIT), yakni kondisi pesawat masih dalam kendali namun menabrak lereng gunung. Dugaan awal menyebutkan jalur penerbangan tidak sesuai saat mendekati Makassar, serta emergency locator transmitter (ELT) yang diduga tidak berfungsi sehingga menyulitkan pendeteksian lokasi jatuhnya pesawat.

Hingga kini, KNKT masih melakukan investigasi dengan mengumpulkan data dari lokasi kejadian, kondisi cuaca, serta rekaman komunikasi antara pilot dan menara pengawas untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan. (*).

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *