Mataram, katada.id – Dewan Pimpinan Wilayah Partai Partai Rakyat Adil dan Makmur Nusa Tenggara Barat (DPW PRIMA NTB) gelar dialog publik dengan tema “Memahami Strategi Transformasi Pemerintahan Prabowo – Gibran dalam Perspektif Nasionalisme Kerakyatan” di Cosa Nostra Cafe dan Billiard, Kota Mataram, Senin (1/6).
Hadir sebagai narasumber, Wakil Dekan III FHISIP Unram, Dr. Lalu Syaipudin Gayep, SH, MH, Dosen FISIPOL UMMAT, Sadrul Imam, S.IP, M.IP dan Wakil Ketua DPRD NTB, Lalu Wirajaya, S. Sos.
Ketua DPW PRIMA NTB, Irfan, S.Sos mengatakan tema yang diangkat di Hari Lahir (Harlah) ke – V partai PRIMA dengan tagline “Revolusi Mulai dari Istana”.
Bagi Irfan, revolusi saat ini sudah di mulai dari istana. Pemerintah Prabowo – Gibran sudah mulai memperjuangkan ganti haluan ekonomi dan pasal 33 Undang – undang Dasar 1945.
”Semua kementerian melaksanakan pasal 33 yang di perjuangkan kita bersama sejak 2009,” kata Irfan dalam sambutannya.
Penerapan pasal 33 itu, kata Irfan sebagai bentuk program hilirisasi. Program kerakyatan Prabowo – Gibran diantaranya, program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Sekolah Rakyat. “Program Prabowo Gibran sudah mewakili kepentingan rakyat,” kata dia.
Pemateri dialog publik memperingati Harlah ke – 5 partai PRIMA, Lalu Wirajaya (kiri), Sadrul Imam (tengah) dan Lalu Lalu Syaipudin (kanan).
Pemateri pertama, Lalu Wirajaya mengatakan presiden Prabowo Subianto sudah membicarakan program ketahanan ekonomi dan nasional bahkan sebelum menjadi presiden.
”Ide Prabowo Subianto bahkan tertuang dalam bukunya sebelum menjadi presiden,” kata dia.
Karena itu, sejak Prabowo – Gibran melaksanakan program ketahanan nasional melalui program Asta Cita.
”Nasionalisme kerakyatan ini tidak bisa dipisahkan dari Asta Cita Prabowo – Gibran,” kata dia.
Sementara itu, Wakil Dekan III FHISIP Unram, Lalu Syaipudin mengatakan program populis Prabowo – Gibran mempunyai program politik populis Ketahanan nasional dan ekonomi MBG, KDKMP, Sekolah Rakyat.
”Program ini merupakan politik populis Prabowo,” kata dia.
Terakhir, Sadrul Imam mengatakan nasionalisme kerakyatan dari presiden Prabowo Subianto berdasarkan gagasan dari ayahnyaSoemitro Djojohadikoesoem.
”Pemikiran presiden prabowo juga terpengaruh dari pemikiran pak Soemitro,” ujar dia. (*)













