Bima, Katada.id– Keterbatasan ruang belajar di SDN Inpres Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, memaksa sekolah mengambil jalan alternatif.
Di tengah minimnya bantuan rehabilitasi dari pemerintah, komite sekolah bersama para alumni bergotong royong menggalang dana untuk memperbaiki bangunan bekas perpustakaan agar dapat dialihfungsikan menjadi ruang belajar.
Langkah itu ditempuh karena ruang kegiatan belajar mengajar (KBM) yang tersedia tidak lagi mampu menampung seluruh siswa. Akibatnya, sebagian aktivitas pembelajaran untuk sementara harus dipindahkan ke musala sekolah.
Bangunan yang akan dialihfungsikan tersebut sebelumnya merupakan ruang perpustakaan. Namun, selama bertahun-tahun kondisinya mengalami kerusakan berat hingga tidak lagi dapat dimanfaatkan sebagai pusat literasi bagi guru maupun siswa.
Atap bangunan rusak total, dinding dipenuhi retakan, sementara cat telah mengelupas akibat termakan usia. Kondisi itu membuat bangunan tidak lagi layak digunakan dan dibiarkan terbengkalai.
Komite dan Alumni Bergerak
Melihat kondisi itu, komite sekolah bersama para alumni sepakat tidak tinggal diam. Mereka menginisiasi gerakan swadaya dengan mengumpulkan dana untuk merehabilitasi bangunan tersebut agar dapat difungsikan sebagai ruang belajar alternatif.
Hingga saat ini, dana yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp9 juta.
Proses rehabilitasi pun mulai berjalan. Warga, alumni, dan pengurus komite bergotong royong mengangkut material, memasang rangka atap, hingga memperbaiki bagian-bagian bangunan yang rusak.
Ketua Komite SDN Inpres Doridungga, Serda Abbas, mengatakan rehabilitasi dilakukan untuk menjawab kebutuhan ruang belajar yang semakin mendesak.
“Kami ingin bangunan ini kembali dimanfaatkan sebagai ruang belajar yang nyaman. Karena itu kami bersama para alumni sepakat patungan agar rehabilitasi bisa segera dilakukan,” ujar Abbas kepada Katada.id, Senin (3/8).
Menurut Abbas, gerakan swadaya tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap masa depan pendidikan di tengah belum adanya rehabilitasi bangunan sekolah.
“Kalau terus menunggu bantuan dari Dikbudpora maupun Pemerintah Kabupaten Bima, kami khawatir gedung sekolah itu keburu ambruk,” tegasnya.
Pemerintah Diminta Hadir
Komite sekolah dan para alumni berharap Pemerintah Kabupaten Bima segera memberikan perhatian terhadap kondisi sarana dan prasarana pendidikan, terutama sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan infrastruktur dan kekurangan ruang belajar.
Mereka menilai, gotong royong masyarakat hanya menjadi solusi sementara. Penyediaan ruang belajar yang aman dan layak tetap menjadi tanggung jawab pemerintah melalui program rehabilitasi dan pembangunan sarana pendidikan.
Bagi para alumni, ikut membiayai rehabilitasi sekolah merupakan bentuk kepedulian terhadap almamater yang telah menjadi tempat mereka menimba ilmu. Mereka berharap bangunan yang kini diperbaiki dapat segera digunakan sehingga kegiatan belajar mengajar tidak lagi bergantung pada musala sekolah.
Inisiatif yang dilakukan komite dan alumni SDN Inpres Doridungga menjadi potret kuatnya semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga keberlangsungan pendidikan. Namun di balik upaya tersebut tersimpan persoalan yang lebih besar, yakni masih adanya sekolah yang kekurangan ruang belajar hingga harus mengalihfungsikan bangunan bekas perpustakaan demi memastikan para siswa tetap dapat belajar dengan layak.
Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bima maupun Pemerintah Kabupaten Bima belum memberikan tanggapan resmi terkait kondisi bangunan SDN Inpres Doridungga maupun rehabilitasi yang dilakukan secara swadaya. (*)












