Lombok Barat, katada.id – Universitas Bumigora (UBG) Mataram gelar kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan bersama kader Posyandu Desa Kekait.
Kegiatan itu bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pemanfaatan serta pembuatan minuman herbal Minaserua.
Ketua Tim Pengabdian, Anisah, S.KM, M.KM mengatakan minaserua merupakan minuman herbal tradisional khas masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dibuat dari berbagai bahan alami dan rempah. Minuman ini menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional.
“Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, Minaserua tidak hanya diperkenalkan sebagai minuman tradisional khas Bima, tetapi juga dikembangkan melalui edukasi dan pelatihan kepada kader Posyandu sebagai upaya mengenalkan serta melestarikan potensi pangan lokal kepada masyarakat yang lebih luas,” kata dia diterima katada.id, Rabu (19/8).
Bagi Anisah, kegiatan itu dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kapasitas kader dalam memahami hipertensi, kolesterol, pangan fungsional, serta pemanfaatan bahan lokal sebagai minuman herbal. Sebelum kegiatan dilakukan, kader masih memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai penyakit tidak menular dan pangan fungsional.
Selain itu, kader juga belum memiliki keterampilan dan pengalaman yang memadai dalam membuat minuman herbal Minaserua secara mandiri. Kondisi awal tersebut menjadi salah satu permasalahan utama yang menjadi dasar pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat.
”Untuk meningkatkan pengetahuan kader, kegiatan diawali dengan pemberian edukasi mengenai hipertensi, kolesterol, faktor risiko penyakit tidak menular, serta pemanfaatan pangan fungsional,” jelas dia.
Ia melanjutkan, peningkatan pengetahuan kader diukur menggunakan pre-test sebelum pemberian materi dan post-test setelah kegiatan edukasi dilaksanakan.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader setelah mengikuti kegiatan, yang menandakan bahwa edukasi yang diberikan dapat meningkatkan pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan.
“Pengukuran peningkatan pengetahuan melalui pre-test dan post-test juga merupakan bagian dari metode evaluasi yang direncanakan dalam kegiatan PKM,” papar dia.
Selain peningkatan pengetahuan, kegiatan juga memberikan pembelajaran dan pelatihan secara langsung mengenai pembuatan minuman herbal Minaserua. Para kader diperkenalkan pada berbagai bahan yang digunakan serta tahapan pembuatannya, mulai dari pemilihan bahan baku, penyiapan dan penentuan takaran, proses pengolahan, hingga penerapan prinsip kebersihan dan higienitas dalam pembuatan minuman herbal.
Melalui metode demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan, kader tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga diberikan kesempatan untuk belajar dan mempraktikkan sendiri setiap tahapan pembuatan Minaserua. Jika sebelumnya kader belum mengetahui dan belum mampu membuat minuman herbal Minaserua, setelah mengikuti pelatihan kader telah memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mempelajari serta mempraktikkan proses pembuatannya.
Anisah mengatakan peningkatan keterampilan ini menjadi salah satu capaian penting dari kegiatan pengabdian. Pelatihan produksi Minaserua dalam program memang dirancang untuk meningkatkan kemampuan kader dalam pemilihan bahan, formulasi, takaran, teknik pengolahan, sanitasi, dan penyimpanan, dengan target kader mampu mempraktikkan pembuatan Minaserua.
Keberhasilan kegiatan ini menunjukkan adanya perubahan kapasitas kader, baik dari aspek pengetahuan maupun keterampilan. “Dari sisi pengetahuan, kader mengalami peningkatan pemahaman yang diukur melalui perbandingan hasil pre-test dan post-test,” jelasnya.
Sementara itu, dari sisi keterampilan, kader mengalami perubahan dari yang sebelumnya belum mampu membuat minuman herbal Minaserua menjadi mampu mempelajari dan mempraktikkan tahapan pembuatannya setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan.
”Sekaligus mendorong pemanfaatan potensi dan kearifan pangan lokal dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat,” kata dia.
Selain Anisah mengatakan kegiatan PKM dapat terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), Tahun Anggaran 2025 dan Tahun Pelaksanaan 2026.
“Kami tim pelaksana menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi atas dukungan pendanaan yang diberikan,” kata dia.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Kekait, kader posyandu, masyarakat, serta seluruh pihak yang telah berpartisipasi aktif dalam rangkaian kegiatan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat terus berlanjut sehingga pemanfaatan pangan lokal, penguatan kapasitas kader dapat dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya bersama mendukung pencegahan penyakit. (*)












