Lombok Utara, katada.id – Pembelajaran Bahasa Inggris tak melulu soal teks dan kosakata. Gambar, ilustrasi, hingga berbagai elemen visual bisa menjadi jembatan bagi siswa untuk memahami materi bacaan dengan lebih mudah.
Pendekatan itulah yang diperkenalkan Universitas Mataram (UNRAM) melalui program pengabdian bertajuk “Workshop Strategi Peningkatan Kemampuan Mengajar Guru Bahasa Inggris Menggunakan Visual Literacy pada Pembelajaran Membaca (Reading)”.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan guru Bahasa Inggris dalam memanfaatkan literasi visual sebagai bagian dari strategi pembelajaran membaca.
Melalui pendekatan visual literacy, guru didorong memanfaatkan gambar dan ilustrasi untuk membantu siswa memahami teks sekaligus menghubungkan materi dengan pengalaman yang mereka miliki.
Selama ini, pembelajaran reading kerap menghadapi tantangan ketika siswa berhadapan dengan teks Bahasa Inggris yang kompleks. Kehadiran elemen visual diharapkan dapat membantu siswa membangun pemahaman secara lebih konkret dan bermakna.
Laporan pengabdian UNRAM mencatat, gambar dapat membantu pembelajar mengeksplorasi bahasa berdasarkan pengalaman mereka sendiri sekaligus menyusun pengetahuan secara lebih bermakna.
Karena itu, workshop tidak hanya memperkenalkan penggunaan gambar sebagai pelengkap bahan ajar. Guru juga diarahkan memahami bagaimana elemen visual dapat diintegrasikan ke dalam metode pengajaran membaca.
Guru Melihat Manfaat Media Visual
Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan respons positif dari para guru terhadap penggunaan media visual dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
Media visual dinilai dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih mudah, menarik minat belajar, serta menciptakan suasana pembelajaran yang lebih interaktif.
Meski demikian, penerapannya di kelas masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya keterbatasan waktu guru dalam menyiapkan gambar yang sesuai, kesulitan memilih visual untuk materi yang kompleks, serta beragamnya karakteristik siswa.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan visual literacy membutuhkan penguatan secara berkelanjutan. Pelatihan tidak cukup berhenti pada pengenalan metode, tetapi perlu diikuti pendampingan agar guru semakin terampil menyesuaikan media visual dengan kebutuhan pembelajaran.
Program yang didanai melalui DIPA BLU (PNBP) Universitas Mataram Tahun Anggaran 2025 itu dipimpin Dr. Dewi Satria Elmiana, M.Pd. bersama anggota tim Sahrul, M.Pd., Hartati Suryaningsih, M.A., serta mahasiswa pendukung.
Melalui program tersebut, UNRAM mendorong lahirnya metode pengajaran Bahasa Inggris yang lebih inovatif. Salah satu targetnya adalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan komunikasi siswa melalui pembelajaran yang mengintegrasikan elemen visual.
Tak Berhenti di Ruang Kelas
Penguatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Ketika guru memiliki lebih banyak pilihan strategi pembelajaran, proses belajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, program ini berkaitan dengan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 10 mengenai pengurangan kesenjangan, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.
UNRAM juga mendorong keberlanjutan program melalui pelatihan lanjutan, penyediaan sumber daya media visual, penelitian mengenai dampak penggunaan gambar terhadap hasil belajar, serta pengembangan komunitas praktik antarguru.
Dengan pendekatan tersebut, visual literacy diharapkan tidak berhenti sebagai materi workshop. Lebih jauh, strategi tersebut dapat berkembang menjadi bagian dari budaya pembelajaran yang kreatif dan adaptif di sekolah.
Bagi perguruan tinggi, kegiatan ini menunjukkan bahwa kepakaran akademik dapat diterjemahkan menjadi solusi yang langsung menyentuh kebutuhan pendidik. UNRAM tidak hanya berperan dalam menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mentransfer pengetahuan tersebut untuk memperkuat kapasitas guru dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan di masyarakat. (*)












