Mataram, katada.id — Pelayanan Perusahaan Otobus (PO) Mulia Jaya dikeluhkan seorang penumpang setelah video perselisihan mengenai tempat duduk beredar di media sosial.
Penumpang melalui unggahan Facebook mengaku kecewa lantaran dirinya dan rombongan disebut diminta mengalah saat hendak menggunakan bus tujuan Mataram-Bima. Bahkan, dalam unggahannya, penumpang tersebut mengaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan hingga merasa terancam.
Keluhan tersebut disampaikan melalui akun Facebook Amirudin. Dalam unggahannya, ia mengaku telah melakukan pemesanan tiket sejak jauh hari melalui kantor agen dengan memasukkan data penumpang yang benar.
Namun, saat hendak berangkat, ia mengaku justru diminta mengalah dan meninggalkan bus karena terdapat persoalan dengan data penumpang lain.
“Jelas kita sudah booking dari jauh-jauh hari di kantor dengan data yang benar, malah kita yang disuruh mengalah dan ditinggal di terminal,” tulis Amirudin.
Ia juga mengaku mendapat perlakuan yang menurutnya tidak profesional. Bahkan, Amirudin menyebut dirinya sempat merasa terancam karena ada pihak yang diduga mengancam dan hendak memukulnya.
“Sampai mau diancam dan mau dipukul. Sama ini orang bahkan HP saya mau diambil,” tulisnya.
Menurut Amirudin, persoalan tersebut berkaitan dengan adanya penumpang lain yang menggunakan data yang dianggap tidak sesuai.
Ia mengklaim penumpang yang menempati salah satu kursi merupakan laki-laki, sementara data dalam tiket tercatat menggunakan nama perempuan.
“Penumpangnya laki malah dipakai nama cewek,” tulisnya.
Amirudin juga mempertanyakan sikap pihak bus yang menurut pengakuannya justru meminta dirinya berpindah tempat meski telah melakukan pemesanan lebih awal.
Ia mengaku kecewa karena selama ini PO Mulia Jaya kerap digunakannya ketika melakukan perjalanan bersama keluarga dari Mataram ke Bima maupun sebaliknya.
“Sering menggunakan bus ini kalau ada keluarga yang bolak-balik Mataram Bima atau sebaliknya. Tapi kali ini mendapatkan perlakuan yang tidak baik,” tulisnya.
Ia juga mengaku pihak kantor bus menyalahkan dirinya karena tidak bersedia berpindah tempat.
“Dari pihak kantor juga malah menyalahkan kita karena tidak mau pindah,” ujarnya dalam unggahan tersebut.
Klarifikasi PO Mulia Jaya
Namun, pihak PO Mulia Jaya memiliki versi berbeda mengenai duduk perkara tersebut. Manajemen menyebut persoalan bermula dari ketidaksesuaian antara data manifes dengan penumpang yang menempati kursi saat keberangkatan.
Direktur PO Mulia Jaya, Ardian Sugianto, mengatakan pihaknya telah berupaya menyelesaikan persoalan tersebut di lokasi secara kekeluargaan dengan menawarkan sejumlah alternatif kepada penumpang.
Menanggapi keluhan dan video yang beredar, Direktur PO Mulia Jaya, Ardian Sugianto, memberikan klarifikasi tertulis tertanggal 19 September 2026.
Menurut Ardian, insiden bermula ketika seorang penumpang bernama Khaerunisa, pemegang tiket kursi nomor 1, menyampaikan keberatan karena duduk bersebelahan dengan penumpang laki-laki di kursi nomor 2.
Padahal, berdasarkan data manifes yang diterima kru, kursi nomor 2 tercatat atas nama Lilis dengan jenis kelamin perempuan. Saat keberangkatan, kursi tersebut justru ditempati seorang laki-laki.
“Di manifes kursi nomor 2 atas nama Lilis, perempuan. Tetapi yang datang laki-laki dan perubahan tersebut tidak diketahui sebelumnya oleh kru di lapangan,” kata Ardian dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (19/9).
Mendapati kondisi tersebut, kata Ardian, kru PO Mulia Jaya langsung berupaya mencari solusi agar persoalan tidak berlanjut.
Tawarkan Tiga Opsi Penyelesaian
Ardian menjelaskan, pihaknya menawarkan tiga alternatif penyelesaian kepada penumpang.
Pertama, kru meminta izin kepada penumpang yang berada di kursi nomor 3 untuk berpindah ke kursi nomor 1. Menurut manajemen, penumpang tersebut bersedia.
Kedua, penumpang laki-laki yang menempati kursi nomor 2 ditawarkan pindah ke kursi nomor 4 agar dapat duduk berdampingan dengan penumpang laki-laki lainnya. Namun, opsi tersebut disebut ditolak.
Ketiga, penumpang di kursi nomor 1 ditawarkan berpindah ke kursi nomor 4. Sebagai kompensasi, kursi nomor 3 akan dikosongkan sehingga penumpang memperoleh ruang lebih lega tanpa biaya tambahan.
Opsi ketiga tersebut juga disebut tidak diterima.
“Semua alternatif itu kami tawarkan sebagai upaya mencari jalan tengah agar penumpang tetap nyaman,” ujar Ardian.
Manajemen juga menegaskan bahwa kursi nomor 1 hingga 4 berada pada baris paling depan dan memiliki posisi yang sejajar. Karena itu, menurut perusahaan, perpindahan kursi yang ditawarkan tidak mengurangi kelas maupun fasilitas penumpang.
Soroti Video yang Beredar
PO Mulia Jaya juga menyoroti video yang beredar di media sosial. Manajemen menilai rekaman tersebut tidak memperlihatkan keseluruhan proses penyelesaian persoalan di lokasi.
Menurut Ardian, bagian ketika kru menawarkan sejumlah solusi dan melakukan komunikasi dengan pihak penumpang tidak seluruhnya terlihat dalam rekaman yang beredar.
Dalam pernyataan resminya, manajemen juga menyebut sempat terjadi ketegangan antara pihak keluarga penumpang dengan salah satu agen atau kru hingga nyaris terjadi perkelahian.
“Pihak keluarga penumpang terus berteriak-teriak dan tidak dapat diajak berbicara dengan baik, sehingga memancing emosi salah satu agen/kru hingga hampir terjadi perkelahian,” tegasnya.
Persoalan tersebut kemudian dimediasi di hadapan petugas terminal.
Menurut pihak PO Mulia Jaya, petugas terminal menilai alternatif penyelesaian dan kompensasi berupa pengosongan kursi yang ditawarkan perusahaan merupakan solusi yang wajar.
Ardian menegaskan pihaknya tidak bermaksud mengabaikan keluhan penumpang. Ia menyebut perusahaan tetap berkomitmen menyelesaikan setiap persoalan pelayanan melalui komunikasi dan mencari solusi di lapangan.
“Kami tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh penumpang,” tegasnya. (*)












