Mataram, Katada.id – Sepak bola kampung atau tarkam selama ini lebih akrab dengan lapangan tanah, sorak penonton di pinggir lapangan, dan rivalitas antarkampung.
Namun, kultur yang lekat dengan keseharian masyarakat tersebut kini mendapat ruang di layar lebar melalui film berjudul Bapakmu Kiper.
Gala premier film produksi Entelkey Sinema Indonesia (ESI) itu berlangsung hangat di Studio 1 XXI Lombok Epicentrum Mall (LEM), Jumat malam (28/8). Bukan hanya tawa yang pecah sepanjang pemutaran, film ini juga membawa penonton melihat sisi lain sepak bola yang tumbuh dari masyarakat.
Direktur Utama ESI sekaligus Eksekutif Produser film Bapakmu Kiper, Garnet Geraldine, mengatakan ide mengangkat sepak bola tarkam berangkat dari realitas bahwa olahraga tersebut memiliki basis penggemar yang sangat besar di Indonesia. Namun, kehidupan di balik sepak bola kampung dinilai belum banyak mendapatkan tempat dalam perfilman nasional.
“Indonesia adalah negara keempat di dunia yang mempunyai fan base sepak bola sangat besar. Namun, sepak bola tarkam masih kurang direpresentasikan dalam perfilman Indonesia,” ujarnya.
Menurut Garnet, tarkam memiliki karakter yang berbeda dengan sepak bola profesional. Di dalamnya terdapat persahabatan, gengsi, solidaritas, hingga cerita-cerita personal yang sangat dekat dengan masyarakat. Karena itu, kehadiran pemain lokal seperti King Polo dan Agen Agung menjadi elemen penting untuk menjaga warna autentik tersebut.
Kehadiran King Polo, pemain tarkam asal Lombok, bahkan menjadi salah satu warna lokal yang memperkuat cerita. Pengalaman langsungnya di lapangan membuat adegan pertandingan terasa lebih natural ketika berhadapan dengan aktor profesional.
Namun, Bapakmu Kiper tidak berhenti pada cerita sepak bola. Di balik pertandingan dan komedi, film ini menyimpan konflik hubungan ayah dan anak. Ali Fikry yang memerankan tokoh utama mengatakan, persoalan terbesar sang anak dalam mengejar mimpi justru datang dari orang terdekat.
“Ceritanya bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga drama hubungan ayah dan anak,” kata Ali.
Konflik tersebut membuat sepak bola berfungsi lebih dari sekadar latar. Lapangan menjadi ruang bagi tokoh utama untuk membuktikan kemampuan, mempertahankan mimpi, sekaligus menghadapi tekanan dari keluarga.
Menariknya, proses syuting juga mempertemukan aktor profesional dengan pemain tarkam asli. Ali mengaku tantangan bermain sepak bola untuk kebutuhan kamera jauh berbeda dengan pertandingan biasa. Selain harus bermain, pemain dituntut memahami blocking, dialog, hingga posisi kamera.
Pengalaman serupa dirasakan Fedi Nuril. Pemeran utama tersebut bahkan sempat mengalami cedera jempol saat berhadapan dengan King Polo dalam sebuah adegan pertandingan.
“Jempol saya dibuat keseleo sama tendangannya King Polo. Kencang sekali,” ujar Fedi, disambut gelak tawa penonton.
Bagi Fedi, kekuatan film justru terletak pada keberhasilannya menggabungkan tiga unsur sekaligus: sepak bola tarkam, komedi, dan drama keluarga. Kombinasi itu membuat Bapakmu Kiper tidak hanya menyasar pencinta sepak bola, tetapi juga penonton yang menyukai cerita keluarga.
King Polo, sosok yang dikenal sebagai pemain tarkam asal Lombok, juga mengaku mendapat pengalaman baru selama menjalani proses syuting. Ia bahkan dibuat kagum dengan totalitas para aktor profesional.
“Menjadi artis ini sangat berat. Ternyata artis-artis kita luar biasa. Mereka bekerja dari pagi sampai pagi. Saya salut dengan Bang Fedi Nuril,” ucapnya.
Gala premier di Lombok sekaligus menjadi panggung penting untuk memperkenalkan kultur lokal kepada penonton yang lebih luas. Pemain tarkam dan aktor profesional berpadu membawa cerita yang berangkat dari lapangan kampung menuju layar bioskop.
Film Bapakmu Kiper dijadwalkan tayang serentak pada 3 September mendatang. Dari Lombok, cerita sepak bola kampung itu siap mengajak penonton Indonesia tertawa, terharu, sekaligus melihat bahwa di balik sebuah pertandingan tarkam, selalu ada mimpi yang sedang diperjuangkan.












