Mataram, katada.id- Kenaikan harga tiket pesawat hingga 13 persen menjadi perhatian serius anggota DPD RI Mirah Midadan Fahmid. Menurut dia lonjakan biaya perjalanan tersebut berpotensi menghambat laju pertumbuhan pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang tengah dalam fase kebangkitan.
Mirah sapaan akrab dia menilai bahwa mahalnya harga tiket tidak hanya dipicu oleh kenaikan harga avtur, tetapi juga dipengaruhi berbagai komponen biaya lain, seperti pajak serta layanan bandara. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menurunkan minat kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
“Momentum kebangkitan pariwisata NTB tidak boleh terganggu hanya karena persoalan harga tiket. Kita sedang membangun kepercayaan pasar internasional, sehingga stabilitas harga menjadi faktor krusial,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur biaya penerbangan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga daya saing pariwisata daerah sekaligus mempertahankan momentum pemulihan ekonomi.
Sebagai solusi, Mirah mendorong sejumlah kebijakan strategis. Di antaranya, pemberian relaksasi pajak dan insentif fiskal, khususnya pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tiket pesawat guna menekan harga secara langsung.
Selain itu, ia juga mengusulkan penyesuaian tarif bandara dan peningkatan efisiensi operator. Menurutnya, tingginya biaya layanan bandara turut berkontribusi terhadap mahalnya harga tiket yang dibebankan kepada konsumen.
Tak hanya itu, penguatan konektivitas melalui penambahan rute dan frekuensi penerbangan juga dinilai penting. Keterbatasan rute dan minimnya kompetisi disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong tingginya harga tiket di NTB.
Mirah turut menyoroti pentingnya optimalisasi transportasi alternatif, seperti transportasi laut dan integrasi multimoda, khususnya untuk rute jarak dekat. Meski demikian, ia menekankan bahwa moda tersebut hanya sebagai pelengkap, bukan pengganti transportasi udara.
“Stabilitas harga tiket menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan sektor pariwisata,” tandas dia (*).













