Mataram, katada.id — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Agustus 2026 mencapai 4,03% secara tahunan (year on year/yoy). Di tengah kenaikan harga tersebut, sejumlah indikator ekonomi daerah justru menunjukkan penguatan, mulai dari Nilai Tukar Petani (NTP), pariwisata hingga ekspor.
Kepala BPS Provinsi NTB Wahyudin mengatakan inflasi NTB pada Agustus 2026 tercatat dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,85. Secara bulanan (month to month/mtm), inflasi mencapai 0,57%, sedangkan secara tahun berjalan (year to date/ytd) sebesar 2,35%.
Data tersebut disampaikan Wahyudin dalam rilis Berita Resmi Statistik di Aula Tambora BPS NTB, Selasa (1/9).
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima sebesar 4,49%, sedangkan terendah di Kota Mataram sebesar 3,95%.
Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,82%. Sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras, cabai rawit dan beberapa jenis ikan turut memberikan andil terhadap kenaikan harga.
Di sisi lain, penurunan harga sejumlah komoditas seperti tomat, bawang merah, bawang putih, biaya sekolah menengah atas dan bensin turut menahan laju inflasi.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, mengatakan angka inflasi tersebut harus menjadi perhatian pemerintah, khususnya dalam menjaga daya beli masyarakat.
“Inflasi adalah alarm. Karena itu harus kita jawab dengan pengendalian harga yang lebih kuat. Tetapi kita juga harus melihat indikator ekonomi secara utuh,” kata Ahsanul.
NTP NTB Naik
Di tengah kenaikan inflasi, NTP NTB justru mengalami peningkatan. BPS mencatat NTP pada Agustus 2026 mencapai 129,67 atau naik 1,44% dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,51%, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik 0,07%.
Kondisi tersebut menunjukkan daya tukar petani terhadap barang dan jasa yang dibutuhkan mengalami perbaikan.
Lima subsektor pertanian bahkan mencatat NTP di atas 100. NTP tanaman pangan tercatat 125,93, hortikultura 189,58, tanaman perkebunan rakyat 111,09, peternakan 118,96 dan perikanan 113,16.
Menurut Ahsanul, penguatan NTP menjadi salah satu indikator bahwa sektor produksi masyarakat masih memiliki daya tahan di tengah tekanan harga.
“Ketika harga yang diterima petani tumbuh lebih tinggi daripada harga yang mereka bayar, daya tukarnya membaik. Ini menjadi salah satu modal penting bagi ketahanan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Kunjungan Wisatawan Tembus 1,4 Juta
Penguatan ekonomi NTB juga terlihat dari sektor pariwisata. BPS mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Juli 2026 mencapai 51,54%.
Angka tersebut meningkat 6,68 poin dibandingkan Juni 2026 dan naik 1,62 poin dibandingkan Juli 2025.
Jumlah wisatawan nusantara (wisnus) yang berkunjung ke NTB mencapai 1.410.478 orang pada Juli 2026. Jumlah tersebut tumbuh 15,95% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) mencapai 9.039 orang, naik 29,50% dibandingkan Juni 2026.
Peningkatan aktivitas pariwisata turut diikuti oleh kenaikan mobilitas masyarakat.
Jumlah penumpang yang datang melalui angkutan laut pada Juli 2026 meningkat 26,52% secara bulanan, sedangkan penumpang yang berangkat naik 23,57%.
Untuk penerbangan domestik, jumlah penumpang datang mencapai 129.516 orang atau naik 20,59% dibandingkan Juni. Sementara penumpang berangkat tercatat 125.228 orang atau meningkat 19,57%.
Ekspor NTB Tumbuh
Kinerja perdagangan luar negeri juga menunjukkan pertumbuhan. Nilai ekspor NTB sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$166,08 juta, meningkat 38,90% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Komoditas tembaga menjadi penyumbang terbesar ekspor NTB pada Juli 2026 dengan kontribusi 93,55%. Komoditas lainnya adalah perhiasan dan permata serta ikan dan udang.
Sejumlah negara menjadi tujuan utama ekspor NTB, antara lain China, Thailand, Korea Selatan, Vietnam dan Taiwan.
Sementara itu, nilai impor NTB pada Januari-Juli 2026 tercatat US$47,87 juta. Angka tersebut turun 72,03% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ahsanul mengatakan berbagai indikator tersebut menunjukkan perekonomian NTB menghadapi tekanan inflasi, tetapi masih memiliki sejumlah fondasi ekonomi yang kuat.
“Inflasi harus kita kendalikan karena menyangkut daya beli masyarakat. Tetapi NTP yang menguat, pariwisata yang tumbuh, mobilitas yang meningkat dan ekspor yang melonjak menunjukkan bahwa kita memiliki daya tahan ekonomi,” katanya.
Menurut dia, pengendalian inflasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan sektor produktif. Pemerintah daerah perlu memastikan pasokan dan distribusi pangan tetap terjaga, sekaligus memperkuat sektor-sektor yang menjadi sumber pendapatan masyarakat.
Penguatan produksi pertanian, pengembangan pariwisata, peningkatan nilai tambah komoditas dan perluasan perdagangan dinilai penting untuk menjaga pendapatan serta daya beli masyarakat.
“Alarmnya harus kita dengarkan, tetapi kita juga harus tahu bahwa kita punya modal untuk menjawabnya. Tugas pemerintah adalah menjaga harga, memperkuat produksi dan memastikan pertumbuhan ekonomi memberi manfaat yang semakin luas kepada masyarakat,” ujar Ahsanul. (*)












