Kota Bima, katada.id – Pemerintah Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), menanam 600 bibit mangrove di kawasan Pantai Lawata dan Niu bagian barat pada Jumat (2/10). Penanaman dilakukan untuk memperkuat ekosistem pesisir sekaligus mendukung upaya pencegahan abrasi dan ketahanan terhadap banjir.
Aksi penanaman mangrove tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Bima Feri Sofyan. Kegiatan merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Bima melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dengan program National Urban Flood Resilience Project (NUFReP).
Penanaman mangrove diharapkan memberikan manfaat ekologis, terutama dalam menjaga garis pantai dari ancaman abrasi, memperbaiki ekosistem pesisir dan laut, serta mendukung terciptanya lingkungan Kota Bima yang lebih hijau dan berkelanjutan.
“Kegiatan menanam pohon mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki manfaat yang sangat besar bagi kelestarian lingkungan dan kehidupan generasi mendatang,” kata Feri.
Menurut Feri, manfaat dari penanaman mangrove tidak selalu dapat dirasakan secara langsung. Namun, keberadaan pohon yang tumbuh nantinya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang.
“Mungkin hari ini belum bisa kita rasakan manfaat dari apa yang kita kerjakan pagi ini, namun anak cucu kita kelak akan menikmati hasilnya. Insyaallah, ini akan menjadi sedekah jariyah bagi kita semua,” ujarnya.
Dorong Kota Bima Lebih Hijau
Feri mengatakan Pemerintah Kota Bima tidak boleh pasrah terhadap kondisi lingkungan yang ada. Menurut dia, kawasan perbukitan yang masih terlihat kering dan gersang harus menjadi dorongan untuk memperkuat upaya penghijauan.
“Kita tidak boleh pasrah menerima keadaan. Harus ada ikhtiar dan upaya nyata untuk menjaga serta menciptakan alam yang hijau, sejuk, dan bermanfaat bagi kehidupan kita,” tegasnya.
Ia juga meminta agar penanaman mangrove tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Bibit yang telah ditanam perlu dirawat dan diawasi secara konsisten agar dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.
Feri berharap gerakan menanam pohon dapat berkembang menjadi tradisi dan budaya positif di tengah masyarakat Kota Bima.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat membutuhkan proses, terutama ketika kebiasaan lama telah berlangsung dalam waktu lama. Karena itu, gerakan penghijauan perlu dilakukan secara berulang dan berkelanjutan agar kesadaran menjaga lingkungan semakin kuat.
“Harapan kita, gerakan ini terus berlanjut dan menjadi tradisi serta budaya masyarakat. Jika dilakukan secara konsisten, saya yakin masyarakat Kota Bima akan semakin memiliki kesadaran dan kecintaan terhadap lingkungan,” ujarnya.
Libatkan Unsur Pemerintahan dan Aparat
Aksi penanaman mangrove tersebut turut dihadiri jajaran Pemerintah Kota Bima, mulai dari staf ahli, asisten, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), kepala bagian, camat hingga lurah se-Kota Bima.
Sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) juga hadir, di antaranya pimpinan DPRD Kota Bima, Kepala Kejaksaan Negeri Bima, Kapolres Bima Kota, Dandim 1608/Bima, Ketua Pengadilan Negeri Bima, Ketua Pengadilan Agama, Kepala KSOP Bima, Kepala Rutan Raba Bima, serta Kepala Imigrasi Bima.
Kolaborasi lintas instansi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian bersama terhadap pengelolaan lingkungan dan kawasan pesisir Kota Bima. (*)












