Scroll untuk baca artikel
DaerahOpini

Refleksi Hari Jadi Bima Ke-386: Maja Labo Dahu dan Makna Bima Bermartabat

×

Refleksi Hari Jadi Bima Ke-386: Maja Labo Dahu dan Makna Bima Bermartabat

Sebarkan artikel ini
Ilham Yusuf (Istimewa)

Oleh : Ilham Yusuf, Mantan Ketua Tim Pemenangan Ady–Irfan

Bima, katada.id- Ketika kita mengucapkan “Bima Bermartabat”, sesungguhnya yang sedang kita bicarakan bukan sekadar pembangunan jalan, gedung, atau capaian program pemerintah.

Martabat jauh lebih dalam daripada itu.

Martabat adalah soal kehormatan.

Martabat adalah soal harga diri.

Martabat adalah soal bagaimana sebuah daerah dipimpin dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya.

Dan bagi masyarakat Bima, nilai itu telah diwariskan oleh leluhur dalam satu kalimat yang sangat sederhana namun sangat agung.

Maja Labo Dahu

Banyak orang menerjemahkannya sebagai malu dan takut. Padahal maknanya jauh lebih luas.

Maja bukan sekadar malu kepada manusia. Tetapi malu ketika amanah tidak dijalankan dengan baik. Malu ketika janji tidak ditepati. Malu ketika rakyat berharap perubahan tetapi yang hadir justru kekecewaan.

Sedangkan Dahu bukan sekadar takut. Tetapi takut kepada Allah SWT atas setiap kekuasaan yang dipegang. Karena setiap jabatan pada hakikatnya bukan kehormatan. Melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.

Itulah sebabnya para leluhur Dana Mbojo tidak membangun peradaban hanya dengan kekuatan kekuasaan.

Mereka membangunnya dengan kekuatan moral.

Karena mereka memahami bahwa daerah akan runtuh bukan ketika kehilangan uang.

Tetapi ketika kehilangan rasa malu dan rasa takut kepada Allah.

Hari ini Kabupaten Bima memasuki usia ke-386 tahun.

Usia yang sangat matang. Namun pada saat yang sama, kita dihadapkan pada berbagai catatan tata kelola pemerintahan.

Indeks Reformasi Birokrasi terendah di NTB.

MCP KPK turun ke zona merah.

Puluhan catatan hasil audit BPK.

Tentu ini bukan alasan untuk saling menyalahkan, warisan lama atau akibat keterlambatan reformasi birokrasi. Tetapi ini harus menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apakah nilai Maja Labo Dahu masih menjadi kompas dalam penyelenggaraan pemerintahan?

Karena jika Maja Labo Dahu benar-benar hidup, maka setiap pejabat akan malu jika pelayanan publik buruk.

Setiap pimpinan akan malu jika tata kelola mendapat banyak catatan.

Setiap pengambil kebijakan akan malu jika keputusan diambil tanpa perencanaan yang matang.

Dan setiap pemegang amanah akan takut mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT.

Di Jepang, budaya malu membuat seorang pejabat rela mengundurkan diri ketika gagal menjalankan amanah. Mereka menjaga kehormatan institusi di atas kepentingan pribadi.

Bima sebenarnya memiliki nilai yang lebih tinggi daripada itu. Karena Maja Labo Dahu bukan hanya malu kepada manusia. Tetapi juga takut kepada Allah.

Karena itu ukuran keberhasilan pemerintahan tidak cukup hanya pada banyaknya program yang dilaksanakan.

Tetapi juga pada kualitas amanah yang dijalankan.

Tidak cukup hanya hadir di tengah rakyat. Tetapi juga menghadirkan sistem pemerintahan yang baik. Tidak cukup hanya membangun citra perubahan.

Tetapi benar-benar membangun perubahan itu sendiri.

Bima Bermartabat Bukan Slogan. Bima Bermartabat tidak akan lahir dari baliho Tidak akan lahir dari pidato. Tidak akan lahir dari tepuk tangan para pendukung.

Bima Bermartabat lahir ketika: Pemimpin berani mendengar kritik. Birokrasi bekerja secara profesional. Pengelolaan keuangan dilakukan secara akuntabel.

Jabatan diberikan berdasarkan kompetensi bukan karena Mahar. Keputusan diambil secara kolektif dan objektif. Kepentingan rakyat ditempatkan di atas kepentingan kelompok.

Karena sesungguhnya martabat daerah tidak diukur dari seberapa besar kekuasaan yang dimiliki. Tetapi dari seberapa besar amanah yang dijaga.

Pada Hari Jadi Bima ke-386 ini, mungkin sudah saatnya kita kembali kepada pesan para leluhur: Maja Labo Dahu.

Malu ketika gagal menjalankan amanah.

Dan takut kepada Allah ketika amanah itu disia-siakan.

Jika MAJA LABO DAHU hanya tinggal slogan, maka Bima akan kehilangan jiwanya. Tetapi jika MAJA LABO DAHU kembali menjadi pedoman dalam memimpin, mengelola kekuasaan, dan melayani rakyat, maka Bima tidak hanya akan maju, tetapi juga BERMARTABAT. (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *