Terdakwa Korupsi Saprodi Ungkap Bukti Pengiriman Uang ke Bupati Bima

0
Pengacara Muhamad Tayeb, Aan Ramadhan menyerahkan dokumen pengirim uang kepada Bupati Bima Hj Indah Dhamayanti Putri kepada Majelis Hakim, Senin (13/3/2023).

Mataram, katada.id – Terdakwa Muhamad Tayeb mengungkap bukti pengiriman uang proyek bantuan sarana produksi (Saprodi) cetak sawah baru tahun 2016 kepada Bupati Bima Hj Indah Dhamayanti Putri sebesar Rp250 juta.

Dokumen pengiriman uang ke bupati tersebut diserahkan terdakwa Tayeb melalui penasihat hukumnya Aan Ramadhan kepada Majelis Hakim yang dipimpin Putu Gede Hariadi pada persidangan yang menghadirkan saksi dari pengawas CV Mitra Agro Sentosa, Abdul Rauf, Senin sore (13/3/2023). Rauf bersaksi untuk terdakwa Tayeb, Muhammad dan Nur Mayangsari.

Aan menyerahkan dokumen berisi daftar harga barang dan dana kiriman yang di transfer dari perusahaan penyedia saprodi CV Mitra Agro Santosa ke sejumlah pihak. “Apakah saudara saksi pernah ditunjukkan dokumen tersebut saat di BAP (Berita Acara Pemeriksaan),” tanya Aan kepada Abdul Rauf, yang merupakan mantan Kepala Desa Tonda, Bima ini.

Untuk meyakinkan Rauf, Aan membacakan secara lengkap keterangan BAP nomor 37. Aan menyebutkan, bahwa pada 16 September 2016, dengan nominal Rp100 juta terdakwa Muhammad dan Nurmayangsari menyerahkan uang kepada Abdul Rauf untuk saudara Hj. Indah Dhamayanti Putri (Bupati Bima).

Selanjutnya, pengiriman yang sama pada 28 Oktober 2016 dengan nominal Rp50 juta dan terakhir pada tanggal yang tidak ada tertera dalam daftar sebesar Rp100 juta.

Dokumen tersebut ditandatangani saksi Rauf dan Subagiyono selaku pengawas CV Mitra Agro Sentosa. ”Itu tandatangan saya,” aku Rauf.

Meski mengakui dokumen tersebut, namun Rauf mengaku tidak mengetahui adanya uang yng mengalir ke Bupati. Ia berdalih dirinya hanya dimintai tanda tangan bukti penyaluran uang dana Saprodi tersebut oleh terdakwa lain Nur Mayangsari dan Muhammad. “Saya tanda tangan dokumen kosong waktu itu. Sata tidak tahu isinya,” paparnya.

Rauf terus mengelak bahwa dirinya tidak pernah mengetahui perihal aliran dana ke bupati. ”Tidak ada saya serahkan ke bupati,” kelitnya lagi.

Kendati demikian, Rauf mengetahui Bupati Bima pernah bertemu dengan saksi lain Subagiyono yang juga selaku pengawas dari CV Mitra Agro Sentosa. Pertemuan itu dilakukan di Pendopo Bupati Bima. ”Memanf pernah bertemu dan membicarakan mengenai proyek ini. Tetapi lebih detail saya tidak tahu omongannya,” akunya.

Majelis hakim mempertanyakan bagaimana Rauf bisa berkenalan dengan Subagiyono. Kepada Majelis Hakim, ia mengaku dirinya dengan Subagiyono dulu sama-sama menjadi tim sukses kemenangan bupati.

“Saya meminta pekerjaan untuk mengerjakan proyek Saprodi. Sehingga dilakukan pertemuan di Pendopo Bupati,” katanya.

Menanggapi kesaksian Rauf, terdakwa Muhammad meminta majelis hakim untuk menjadikan Rauf sebagai tersangka. ”Saksi ini (Abdul Rauf) ini banyak bohongnya. Seharusnya bisa jadi tersangka,” desak Muhammad.

Ia menegaskan, uang yang diberikan sebanyak tiga kali kepada Rauf nilainya Rp 250 juta tujuannya untuk bupati. ”Itu untuk Umi (Hj Indah Dhamayanti Putri) bahasanya,” beber Muhammad.

Sebagai informasi, program dana bantuan saprodi cetak sawah baru tahun anggaran 2016 ini berasal dari Kementerian Pertanian RI untuk membantu meningkatkan produksi pangan di Kabupaten Bima.

Pemerintah pusat menyalurkan anggaran Rp14,4 miliar kepada 241 kelompok tani di Kabupaten Bima. Penyaluran anggaran dilakukan secara langsung ke rekening perbankan masing-masing kelompok tani.

Pencairan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar Rp10,3 miliar, 70 persen dari total anggaran Rp14,4 miliar, dan 30 persen pada tahap kedua dengan nilai Rp4,1 miliar.

Dalam dakwaan, jaksa mengungkap bahwa terdakwa M. Tayeb sebagai pejabat pembuat komitmen mengeluarkan perintah untuk melakukan penarikan tunai kepada kelompok tani ketika anggaran tersebut telah masuk ke rekening pribadi masing-masing. Uang tersebut diminta untuk dikumpulkan kembali di Dinas PTPH Kabupaten Bima.

Pengumpulan anggaran yang seharusnya dikelola mandiri oleh masing-masing kelompok tani itu ditarik kembali atas perintah terdakwa M. Tayeb tanpa adanya nota penyerahan.

Setelah uang terkumpul dari kelompok tani, atas perintah M. Tayeb, Muhammad bersama Nur Mayangsari melakukan pembayaran ke CV Mitra Agro Santosa yang beralamat di Jombang, Jawa Timur.

Nur Mayangsari sebagai bawahan Muhammad juga mendapatkan perintah membuat dua nota pesanan saprodi untuk CV Mitra Agro Santosa dengan rincian nota pertama sejumlah Rp8,9 miliar dan untuk pesanan kedua Rp1,7 miliar.

Penunjukan CV Mitra Agro Santosa sebagai penyedia saprodi juga berada di bawah perintah M. Tayeb. Barang-barang yang dibeli dari perusahaan tersebut antara lain, benih padi, pupuk, dan pestisida.

Namun, dari daftar pembelian, ada beberapa item barang yang tidak bisa disediakan CV Mitra Agro Santosa sehingga ada yang dibeli dari perusahaan penyedia lokal.

Jaksa pun menilai pemesanan saprodi tersebut tidak sesuai dengan luas sawah poktan yang terdaftar dalam petunjuk pelaksanaan. Sehingga terdapat kekurangan yang kini muncul sebagai nilai kerugian negara sebesar Rp5,1 miliar. (ain)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here