Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Unram Sulap Sampah Plastik dan Fly Ash Jadi Bata Ringan

×

Unram Sulap Sampah Plastik dan Fly Ash Jadi Bata Ringan

Sebarkan artikel ini
Foto ilustrasi (Fotu Dok Conversation).

Lombok Tengah, katada.id – Sampah plastik dari aktivitas wisatawan dan limbah abu terbang (fly ash) PLTU Jeranjang selama ini menjadi persoalan lingkungan. Di Desa Wisata Bonjeruk, Lombok Tengah, dua jenis limbah tersebut justru mulai dimanfaatkan menjadi material konstruksi alternatif.

Tim akademisi Kelompok Bidang Ilmu Teknologi Audit dan Rehabilitasi Struktur Gedung, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram), mengembangkan bata ringan berbahan campuran limbah plastik dan *fly ash*.

Program tersebut dipimpin Dr. Ngudiyono, S.T., M.T. bersama Prof. Ir. Didi S. Agustawijaya, Ph.D., Prof. Ir. Yusron Saadi, Ph.D., Prof. Akmaluddin, Ph.D., Prof. Ni Nyoman Kencanawati, Ph.D., dan mahasiswa Niza Husnul Aini.

Pengembangan material itu dilakukan melalui program pengabdian kemitraan yang didanai PNBP Unram. Tim juga memberikan sosialisasi pengelolaan sampah berbasis 5R serta pelatihan pembuatan bata ringan ramah lingkungan kepada masyarakat Bonjeruk.

Persoalan sampah menjadi perhatian karena kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Bonjeruk disebut meningkat sekitar 30 hingga 40 persen setiap tahun. Kondisi tersebut turut meningkatkan timbulan sampah anorganik, terutama plastik kresek dan kemasan.

Volume sampah bahkan disebut telah melampaui kapasitas tampung TPS3R Bonjeruk Asri.

Di sisi lain, fly ash dari aktivitas pembakaran batu bara di PLTU Jeranjang juga terus dihasilkan dalam jumlah besar. Limbah tersebut disebut mencapai sekitar 50–80 ton per hari atau sekitar 2.500 ton per bulan.

Melalui inovasi tersebut, kedua jenis limbah diolah menjadi material konstruksi dengan prinsip ekonomi sirkular atau *zero waste*.

Bata yang dikembangkan berukuran 20 sentimeter × 10 sentimeter × 5 sentimeter. Komposisi utamanya terdiri atas 80 persen fly ash dan 20 persen limbah plastik cair, dengan tambahan sedikit oli bekas.

Dalam campuran tersebut, plastik yang dilelehkan berfungsi sebagai bahan pengikat. Sementara fly ash digunakan untuk menggantikan pasir sebagai agregat halus. Oli bekas digunakan untuk membantu mengontrol kekentalan dan memperlambat proses pengerasan plastik sehingga campuran lebih mudah dicetak.

 

Proses pembuatannya juga dirancang sederhana agar dapat diterapkan masyarakat. Sampah plastik terlebih dahulu dipilah, kemudian dilelehkan menggunakan drum bekas. Plastik cair selanjutnya dicampur dengan oli bekas dan fly ash.

 

Campuran panas tersebut dimasukkan ke dalam cetakan baja dan dipadatkan menggunakan alat press manual. Setelah ditiriskan sekitar lima menit, bata dimasukkan ke dalam bak air untuk proses pendinginan.

Selain mengurangi limbah, bata komposit tersebut memiliki karakteristik lebih ringan dibandingkan bata merah konvensional. Daya serap airnya juga disebut rendah dan memiliki ketahanan struktural yang kuat.

Karakteristik bobot yang lebih ringan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam konstruksi di wilayah rawan gempa. Material yang lebih ringan dapat membantu mengurangi beban inersia bangunan ketika terjadi guncangan.

Meski demikian, penggunaan bata tersebut sebagai bagian dari konstruksi bangunan tetap perlu mengacu pada hasil pengujian teknis dan standar konstruksi yang berlaku.

Program Unram ini juga dikaitkan dengan sejumlah target pembangunan berkelanjutan (SDGs). Di antaranya SDG 9 tentang industri, inovasi dan infrastruktur melalui pengembangan material konstruksi alternatif berbasis limbah.

Kemudian SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan melalui pengembangan material yang mendukung infrastruktur di kawasan rawan bencana.

Inisiatif tersebut juga mendukung SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui pemanfaatan kembali limbah plastik dan *fly ash*. Sementara pengurangan pembakaran sampah plastik secara terbuka serta pemanfaatan limbah industri dikaitkan dengan SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim.

Pemerintah Desa Bonjeruk, Karang Taruna, dan pengelola TPS3R Bonjeruk Asri disebut menyambut baik program tersebut.

Pendampingan berikutnya direncanakan diarahkan pada pelatihan teknis pembuatan rumah contoh tahan gempa dengan memanfaatkan bata ringan komposit plastik dan fly ash.

Selain menjadi solusi pengelolaan limbah, pengembangan tersebut diharapkan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat melalui pengolahan sampah menjadi produk konstruksi bernilai ekonomi. (*)

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *